Garis Gantung: Bagian 2

 Angin berhembus kencang. Sunyi menelan segalanya. Kupikir dia sudah pergi—ternyata belum.


Pastikan kamu sudah membaca bagian pertama.

Sosok perempuan itu muncul di hadapan kami.

Ia turun dari atas, tergantung oleh tali yang mengikatnya ke balok kayu.

Aku dan Sekar sontak berteriak.

Kami mundur, duduk di sudut, menempel dinding. Mata terpejam, tapi kami masih melihat semuanya jelas.

Tubuhnya bergoyang perlahan. Kaki tak menyentuh lantai. Rambut terurai menutupi wajah. Bau anyir menusuk hidung, busuknya menusuk hingga tulang.

Lampu kamar tiba-tiba berkedip—nyala-mati-nyala-mati—seolah hendak pecah.

Angin kencang berhembus, menerbangkan segalanya. Buku-buku di meja belajar. Selimut ikut tersapu. Lampu gantung berayun, menciptakan bayangan sosok itu di tembok.

Aku dan Sekar saling berpelukan, menempel satu sama lain.

Kami hanya bisa memejamkan mata. Diam. Terjebak di pojok kamar.

Lalu terdengar suara… seperti tali yang mengikat.

Sekar menoleh. Wajahnya pucat. Kakinya terjerat oleh sesuatu yang tak terlihat.

Tiba-tiba, tubuhnya tersentak ke belakang, diseret ke tengah kamar. Ia berteriak kencang.

“Tolong, Tar!”

Tangannya meraba, mencari pegangan. Ujung kasur menjadi satu-satunya yang bisa dicengkeram. Tubuhnya terus ditarik ke arah sosok yang menggantung itu.

Aku spontan meraihnya, berusaha menariknya kembali. Tubuhnya terangkat perlahan, semakin tinggi. Tanganku menggenggam sekuat tenaga, tapi jeratan tak kasat mata itu makin kuat, menarik Sekar ke arah kengerian di atas.

Napasku tersengal, tapi aku tak melepaskan. Dengan teriakan dan tenaga terakhir, aku menghentak, menarik keras… dan Sekar akhirnya terlepas.

Kami berdua terhempas di kasur. Aku langsung merengkuh Sekar, menepi ke pojok, menempelkan tubuhnya ke tubuhku. Napas kami tercekat, dada bergemuruh kencang.

Lampu kamar terus berkedip, putus-putus, membuat bayangan sosok itu menari-nari mengerikan di tembok—muncul-hilang seperti potongan mimpi buruk.

Kami saling berpelukan, menggenggam satu sama lain. Angin dingin masih berhembus kencang, mengobrak-abrik segala sesuatu: kertas berputar di udara, tirai berkibar liar seolah marah.

Dengan keberanian tersisa, aku mengangkat Al-Qur’an di tangan. Tak tahu apakah ini akan berhasil, tapi aku harus mencoba.

Perlahan…

Angin mulai mereda. Tirai jatuh lunglai. Kertas berhamburan ke lantai. Lampu gantung kembali stabil—tak seterang tadi, seperti hampir kehabisan tenaga.

Ruangan yang kacau tadi berubah sunyi. Terlalu sunyi. Seakan tak pernah terjadi apa-apa.

Kami membuka mata perlahan. Sosok perempuan itu… benar-benar menghilang. Napas kami masih tersengal. Jantung yang berdegup kencang mulai mereda.

“Syukurlah sudah berakhir,” bisikku, mencoba tersenyum, meski masih kaku oleh sisa rasa takut.

Sekar mengangguk pelan, ikut tersenyum. Tangannya melepas pelukan, mencoba menenangkan napasnya.

Tok... tok… tok…

Suara pintu digetok keras dari luar.

Aku dan Sekar nyaris meloncat. Setelah sadar itu cuma pintu, kami tertawa kecil—lega, tapi tawa itu terasa kering, belum benar-benar pulih.

Kami beranjak dari kasur, melangkah ke ruang tamu, membuka pintu rumah.

“Ibu sudah pulang?” Sekar memekik kecil, lega bercampur terkejut.

Aku ikut tersenyum. Setidaknya, kini kami tak lagi sendirian.

“Iya. Hari ini bisa pulang cepat.” Wanita itu melangkah masuk, melepas sepatunya, lalu duduk di sofa. Wajahnya tampak letih, rambutnya agak berantakan, seolah baru menempuh perjalanan jauh.

“Bapak mana, Bu?” Sekar menoleh ke luar, mencari sosok ayahnya.

“Masih di bengkel. Mobilnya mogok. Katanya, Ibu disuruh pulang duluan aja, nemenin kamu. Ibu tadi pulang naik ojek,” katanya, sambil mengusap lengan—gerakannya pelan, sedikit kaku.

“Oh.” Sekar duduk di sebelah ibunya, membiarkan pintu tetap terbuka. Angin malam dibiarkan masuk, membawa hawa lembab yang dingin.

Aku ikut duduk di sofa lain.

Aku melirik ke arah sekar dan ibunya. Mata wanita itu… sepertinya belum sempat menatapku sejak tadi.

“Sekar mau ngomong sesuatu sama Ibu.”

Nada suara Sekar mendadak serius. Matanya sempat melirik ke arahku, seolah meminta izin untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi. Aku mengangguk pelan, mempersilakan.

“Mau ngomong apa? Serius banget kayaknya,” ucap ibunya lembut.

Sekar menarik napas dalam, lalu menghelanya pelan. “Sekar ingin pindah rumah, Bu. Sekar udah nggak tahan tinggal di sini.”

Kening wanita itu berkerut tipis. “Kenapa?”

“Sekar merasa nggak nyaman di kamar sendirian. Ibu tahu kan, kalau rumah kita ini… bekas orang gantung diri?”

Ibu Sekar hanya tersenyum tipis. Tangannya perlahan terangkat, mengelus kepala Sekar dengan gerakan lambat. “Nanti Ibu coba bicarain sama Bapak dulu, ya.”

Sekar mengangguk senang.

“Bisa tolong bikinin Ibu teh, nggak? Ibu haus banget. Dari tadi belum minum.”

“Siap, Ibu!” Sekar berseru riang. Ia langsung berdiri, melangkah menuju dapur.

Aku ikut tersenyum melihat semuanya tampak baik-baik saja. Syukurlah. Aku ikut berdiri, hendak membantu Sekar di dapur.

“Nama kamu Tari, ya?”

Pertanyaan itu membuatku menoleh. Ibu Sekar masih duduk di tempatnya.

“Iya, Tante.”

“Terima kasih, ya. Udah mau nemenin Sekar malam ini.” Senyumnya begitu lebar, hingga gigi putihnya terlihat semua. Terlalu lebar.

Aku ikut tersenyum sopan, walau entah kenapa ada rasa dingin menjalar di tengkukku.

“Aah!”

Teriakan Sekar memecah keheningan. Suara gelas pecah menyusul, berderak nyaring sampai ke ruang tamu.

Aku refleks berdiri. Ibu Sekar ikut berseru panik, tapi tubuhnya tak bergerak sedikit pun dari kursi.

“Kamu bisa tolong Sekar di belakang tidak? Tante lagi capek banget.”

“Iya, Tante.”

Aku bergegas ke dapur. Tapi begitu tiba—kosong.

Tak ada siapa pun di sana. Hanya pecahan gelas berserakan di lantai, memantulkan cahaya lampu redup.

“Sekar?” panggilku, lirih. Tapi hanya keheningan yang menjawab.

Aku melangkah pelan mendekati pecahan itu, lalu—

Sebuah tangan menyentuh bahuku. Tubuhku kaku.

Aku menoleh cepat. Sekar berdiri di sana, wajahnya datar.

“Kamu ngapain di sini, Tar?” tanyanya, nada suaranya terdengar tenang.

“Aku… tadi dengar kamu teriak.”

Sekar mengerutkan kening. “Teriak? Nggak kok.” Ia terkekeh kecil, seolah aku sedang bercanda.

Aku menelan ludah. “Serius. Tadi aku dengar juga suara gelas pecah…”

Kata-kataku terhenti.

Begitu aku menoleh lagi ke lantai, pecahan gelas itu sudah menghilang. Bersih. Tak ada apa pun. Tak ada pecahan. Tak ada sisa air.

Sunyi seketika menelanku.

Begitu hening, sampai suara detak jam di dinding terdengar seperti palu yang memukul udara. Setiap detiknya terasa panjang dan menyakitkan.

Lalu tiba-tiba—

Teeeeettt!

Suara peluit teko mendidih memecah kesunyian. Nyaring. Merobek ruang dan waktu. Aku terlonjak, jantungku berdegup tak karuan, hampir mundur beberapa langkah.

“Ah. Air panasnya sudah matang.”

Sekar melangkah mematikan kompor dengan santai, seolah tak terjadi apa-apa. Tak memedulikan aku yang masih berdiri kaku di tengah ketakutan.

Aku menelan ludah. Pandanganku jatuh ke lantai—ke tempat di mana pecahan gelas itu tadi terlihat. Pelan-pelan aku berlutut, mengamati. Tanganku menyapu permukaannya, mencari sisa serpihan kecil, apa pun yang membuktikan bahwa kejadian tadi nyata.

Tapi bersih. Licin. Benar-benar tak ada bekas sedikit pun.

“Kamu lagi ngapain, Tar?” suara Sekar memecah lamunanku. Ia sedang sibuk membuat teh, uap panas mengepul dari teko di tangannya.

“Tadi beneran aku lihat gelas pecah di lantai, Kar. Serius.” Aku berdiri, berhadapan dengannya. “Aku juga dengar kamu teriak. Kencang banget.”

“Ih, udah dibilang juga, aku nggak teriak. Aku tadi masih di kamar waktu kamu ke sini.” Sekar menyangkalnya ringan, seolah yang kudengar barusan itu tak nyata.

Tapi aku tahu aku tidak salah mendengarnya. Aku yakin. Ibu Sekar juga ikut bereaksi tadi.

“Kalau kamu nggak percaya, tanya aja ke ibumu habis ini,” ucapku tegas.

“Ya udah. Ayo kita tanya ke Ibu.”

Sekar tersenyum kecil, mengangkat cangkir teh hangat di tangannya. Uapnya mengepul tebal, seperti sedang menertawakanku.

Kami berjalan ke ruang tamu.

Langkah kami pelan, berhati-hati. Mataku melirik Sekar. Tatapanku penuh curiga. Aku masih tak bisa percaya kalau semua yang kudengar tadi bukan suaranya. Kalau bukan Sekar… lalu siapa yang berteriak?

Dan pecahan itu—aku benar-benar melihatnya berserakan. Tapi sekarang… seolah dunia menelan semuanya bulat-bulat.

Aku menelan ludah.

Sudahlah. Begitu kami tanya langsung pada Ibu Sekar nanti, semuanya akan jelas. Masalah ini pun selesai, dan Sekar akan tahu kalau aku memang tidak berbohong.

Tapi begitu kami tiba—

Suasana itu kembali mencekik kami.

Ruang tamu benar-benar kosong. Tak ada siapa pun. Sofa yang tadi ditempati Ibu Sekar kini dingin. Hampa. Pintu yang tadi sengaja terbuka kini tertutup rapat, seolah tak pernah digerakkan oleh tangan manusia.

“Ibu?” panggil Sekar lirih, nyaris bergetar.

Tak ada sahutan. Hanya gema suaranya sendiri yang membalas—namun terdengar aneh, seakan datang dari tempat yang bukan milik kami.

“Ibu di mana, ya? Tadi Ibu bareng sama kamu kan, Tar?”

“Iya. Jelas-jelas tadi ibumu ada di sana kok…”

Kata-kataku terhenti. Dada terasa sesak. Udara mendadak dingin, seperti ada sesuatu yang menekan bahuku.

Drrt! Drrt!

Getar ponsel memecah keheningan. Sekar merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dengan tangan gemetar. Layar menyala, menyorot wajah kami berdua dengan cahaya kebiruan yang muram.

Dan di sana. Terpampang nama pemanggilnya. Ibu.

Telepon itu masih berdering.

Sunyi seakan makin pekat. Kami saling pandang, tak berani berkata apa pun. Dering itu terus berbunyi, nyaring, menusuk telinga—seolah menuntut untuk segera dijawab.

Dengan napas tercekat dan jari bergetar, Sekar menekan tombol hijau.

Speaker diaktifkan. Suara dari seberang langsung terdengar. Suara yang sangat kami kenal.

“Sekar. Malam ini Ibu sama Bapak nggak bisa pulang, ya. Tapi besok pagi sampai rumah kok. Mobilnya mogok, masih di bengkel. Karena sudah terlalu malam, jadi Ibu sama Bapak nginap di hotel dulu. Jangan lupa kunci pintu rumah. Hati-hati, ya, di rumah.”

Telepon itu ditutup.

Hening. Beberapa detik terasa seperti selamanya.

Napas kami tercekat. Sunyi kembali menelan ruangan. Udara dingin merayap pelan, dari kaki sampai tengkuk, seperti ada sesuatu yang bernapas di antara kami.

Sekar menoleh. Pelan. Bibirnya bergetar. “Tar… ta-tadi itu… siapa?”

Aku menggigit bibir, mencoba menahan getar di dada. Dengan gerakan lambat, aku menggeleng. “Aku… aku sendiri nggak tahu, Kar.”

Suara kami parau. Serak. Lirih. Seolah tenggelam di udara yang terlalu padat untuk bernapas.

Dan dari belakang—

Kami tahu ada seseorang berdiri di sana. Hening bukan lagi sekadar sunyi. Ada tekanan, seperti pandangan yang menusuk kulit dari arah yang tak terlihat.

Lalu terdengar bisikan.

Lembut. Basah. Terlalu dekat di telinga.

“Kalau kalian tidak keberatan…

temani aku gantung diri malam ini.”


Komentar