Garis Gantung: Bagian 1
Setiap desa punya kisah yang tak ingin diingat. Kisah ini tentang sebuah rumah... dan seseorang yang tak benar-benar pergi setelah mati.
Rumah itu menjadi angker setelah
sebuah insiden mengerikan terjadi di dalamnya.
Seorang anak perempuan bunuh
diri—mengakhiri hidupnya dengan seutas tali di kamarnya sendiri.
Desa geger esok paginya. Kabar
kematian langsung menyebar cepat ke setiap sudut gang. Kedua orang tuanya yang
ditinggal terpuruk paling dalam. Mereka hanya bisa menangis di depan jasad anak
satu-satunya, tanpa pernah tahu alasan di balik keputusannya.
Sejak saat itu, rumah itu
membisu.
Senyap. Kelam. Gelap.
Rumah itu akhirnya dijual. Dibiarkan
begitu saja dengan barang-barang yang masih tertinggal
di dalamnya—berdebu, bersarang.
Setiap malam, auranya
mencekam siapa pun yang melintasinya. Tak ada cahaya. Hanya kegelapan yang
seolah hidup, mengawasi dari balik jendela yang tertutup rapat.
Dua bulan kemudian, Sekar
dan keluarganya membeli rumah itu. Warga sudah memperingatkan mereka tentang insiden
yang terjadi di sana, tapi mereka tak gentar. Mereka yakin segalanya akan
baik-baik saja.
Dan memang, untuk beberapa
hari, semuanya tampak normal. Hingga malam itu datang—malam yang mengubah segalanya.
Dan aku… menyaksikannya
sendiri, dengan mata kepalaku.
***
“Memangnya bapak ibumu nggak
bakalan pulang malam ini, Kar?” tanyaku pelan.
Begitu masuk kamar Sekar, aroma
harum melingkupi hidungku. Lampu gantung menyinari seluruh ruangan, menyingkap meja
belajar penuh buku, juga kursi kayu di belakangnya.
Sekar duduk di ranjang. Aku ikut
menurunkan diri di sebelahnya.
“Nggak tahu. Katanya sih,
kalau nggak malam ini ya besok pagi,” jawabnya.
“Tapi waktu aku chat Ibu,
cuma centang satu.” Sekar menunjukkan ponselnya. “Padahal sinyal lancar. Aku
juga coba telepon, tapi nggak diangkat.”
“Terus… kenapa aku disuruh nemenin
kamu malam ini?”
Sekar terkekeh kecil.
“Soalnya aku takut sendirian kalau malam-malam. Nggak apa-apa kan kamu nemenin
aku nginep semalam aja?”
Aku bergumam pelan, mengiyakan.
Padahal aku tadi sempat menolak
ajakan Sekar. Aku tahu cerita tentang rumah ini. Mataku sejak tadi terus
menyapu ruangan, menatap tembok biru pucat yang dingin, plafon kayu tua di atas
kepala kami—yang masih menggantung kokoh.
Di sanalah… perempuan itu
mengakhiri hidupnya.
Aku menelan ludah. Bahuku mendadak
berat, seperti ada yang menindih. Langit-langit perlahan tampak suram, bayangan
gelap di sudut ruangan mulai menebal, seolah merambat ke arah kami. Jantungku berdegup
kencang, nyaris meledak.
“Tari!”
Aku tersentak. Panggilan
Sekar menyeretku kembali ke dunia nyata.
“Kenapa?” tanyaku, menoleh
ke arahnya.
“Kamu kenapa? Kok kayak aneh
gitu lihatinnya.” Wajah Sekar sedikit cemas, dahinya berkerut panik.
Aku menggeleng cepat. “Aku cuma
kepikiran aja. Kamar ini kan… pernah dipakai bunuh diri sama anak pemilik rumah
sebelumnya.”
“Iya sih.” Sekar
mendongakkan kepala, menatap langit-langit kamarnya. “Makanya itu aku minta
kamu nemenin malam ini biar aku nggak ketakutan. Kalau ada Bapak sama Ibu, aku
nggak bakalan takut. Soalnya…”
Satu alisku terangkat.
“Kenapa, Kar?”
“Kadang kalau malam, aku
ngerasa kayak ada yang lihatin aku tidur.”
Sekar meremas ujung bantal
di pangkuannya. Jemarinya terasa dingin saat menyentuh kulitku. “Tiap malam,
aku selalu kebangun. Gak tahu kenapa. Tapi setiap kali aku buka mata… kursi itu
tiba-tiba sudah ada di tengah kamar.” Ia menunjuk kursi kayu di dekat meja
belajarnya. “Padahal harusnya ada di sana.”
Aku menelan ludah. Bulu
kudukku berdiri.
“Kamu sudah ngaji belum
malam ini?” tanyaku buru-buru.
Sekar menggeleng pelan. “Aku
lagi halangan.”
Napasku tercekat. Jelas ini berbahaya.
“Kenapa memangnya, Tar?”
“Kita harus ngaji malam ini juga.
Maksudku, aku yang akan ngaji.” Aku bergegas turun dari kasur, melangkah keluar
kamar.
“Memangnya kenapa?”
“Nanti aku jelasin.”
Aku masuk ke kamar mandi. Tanganku
cepat memutar keran, air menyembur deras, menggema di ruang sempit.
Tanpa menunggu lebih lama,
aku langsung mengambil wudhu.
Airnya dingin—lebih dingin daripada
di rumahku. Saat air menyentuh telapak tangan, rasanya seperti es yang merambat
ke tulang. Tapi aku menahannya. Aku berkumur, memuntahkan air.
Tanganku bergerak membasuh
wajah. Gigil menyergap kulitku.
Satu kali basuhan.
Lampu kamar mandi tiba-tiba
berkedip.
Tanganku terhenti di udara.
Udara dingin menusuk tengkukku, seperti jarum yang menembus perlahan.
Aku kembali mengumpulkan air,
tanganku gemetaran. Basuhan kedua.
Lampu berkedip lagi—satu
kali... dua kali... tiga kali...
Bahuku bergetar. Jantungku
berdebar makin kencang.
Aku sengaja melewati basuhan
ketiga, buru-buru mengusap tangan. Meraih air, mengusap kepala.
Kamar mandi terlalu senyap.
Terlalu lengang. Hanya suara air yang menetes lirih, tapi di telingaku seperti
bisikan.
Terakhir, aku membasuh kaki.
Tapi atmosfer tiba-tiba berubah—mencekam.
Dingin merayapi bulu kuduk. Napasku tercekat.
Di belakangku… seperti ada
sesuatu. Mengambang. Berat. Besar. Mengikuti setiap gerakku. Angin dingin entah
dari mana menyapu tengkukku.
Aku memejamkan mata, tak
berani menoleh. Ke depan gelap. Ke belakang gelap. Dua sisi, seolah menekanku.
Kaki kiriku selesai dibasuh.
Wudhu selesai.
Tapi sosok itu makin dekat. Seolah-olah
tangan tak terlihat hendak meraih bahuku, mencengkeramku...
Aku menoleh cepat.
Kosong. Hanya tembok kosong
dan alat mandi tergantung.
Aku menghela napas lega. Semuanya
hanya firasat.
Aku membuka pintu.
Jantungku melonjak. Sesuatu
berdiri tepat di hadapanku.
Aku berteriak kencang, refleks
mundur beberapa langkah.
“Sekar!”
Sekar ikut berteriak kaget
saat melihatku. Napasnya tersengal.
“Kamu kenapa teriak gitu?
Kayak lihat setan aja.”
“Heh. Jangan bilang gitu,
ya.” Aku berseru, kesal.
Sekar benar-benar mengejutkanku.
Dan… aku baru saja merasakan sesuatu yang buruk. Wajar kalau aku teriak,
melihatnya berdiri di balik pintu.
“Kamu ngapain berdiri di
situ? Mau ke kamar mandi juga?” tanyaku, setelah mulai tenang.
“Cuma ngecek aja. Barangkali
airnya habis,” jawabnya santai.
Aku melangkah keluar kamar
mandi, mengenakan kembali kerudung yang aku sampirkan di atas kursi.
“Aku pinjam Al-Qur’an-mu.”
“Ada. Di kamar. Yuk.”
Aku mengikuti Sekar, langkahku
sengaja pendek, tak mau terlalu jauh. Entah kenapa, sejak tadi aku merasa ada
sesuatu… yang terus mengawasi dari belakang.
Kami masuk ke kamar, terasa
sedikit lebih aman. Sekar menunjuk Al-Qur’an di meja belajarnya. Aku langsung mengambilnya.
“Kamu tahu nggak di mana perempuan
itu gantung diri?” tanyaku tiba-tiba. Entah kenapa pertanyaan itu melintas
begitu saja di benakku.
“Tahu.” Sekar duduk lebih
dulu di ranjang. “Kata orang-orang, di atas sana. Tepat di tempat kamu berdiri.”
Tubuhku membeku. Hawa dingin
menusuk tengkukku, seolah rambutku disentuh jarum es.
Perlahan, aku mendongak. Kepalaku
terasa ditarik, mataku otomatis menatap ke langit-langit. Plafon kayu cokelat
terang tersiram lampu gantung yang menyala. Otakku langsung membayangkan sosok
itu… menggantung di atas sana.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan,
melangkah duduk di samping Sekar. Napasku masih berat, paru-paru terasa enggan mengambil
udara.
Lima detik lengang. Sepuluh
detik napasku mulai stabil. Satu menit kemudian, aku berhasil menenangkan diri.
“Katanya mau jelasin ke aku.
Memangnya kenapa harus ngaji malam ini?” tanya Sekar setelah hening membungkus
ruangan.
Aku menggeser tubuh, meraih
bantal, meletakkan tangan dan Al-Qur’an di pangkuan.
“Kamu pernah dengar soal
arwah gentayangan?” tanyaku, menatap Sekar serius.
Sekar mengangguk. “Katanya
gara-gara dibunuh atau bunuh diri, kan? Arwah mereka nggak diterima di alam lain.
Terus akhirnya berkeliaran, menghantui orang-orang…”
Seolah tersadar, Sekar
spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Suaranya pecah kecil.
“Jadi… perempuan yang gantung
diri di kamarku lagi coba hantuin aku?” Wajahnya mendadak pucat.
Aku menggeleng pelan. “Nggak.
Semua rumor tentang arwah gentayangan itu bohong.”
Sekar mengernyit, kebingungan
jelas di matanya.
“Bunuh diri itu dosa besar,”
jelasku pelan. “Setan suka tempat-tempat kotor, penuh dosa, tempat maksiat.
Salah satunya… bunuh diri. Tempat itu jadi kotor. Setan suka bermain di sana
karena perbuatan dosa yang pernah terjadi.”
Sekar menelan ludah. “Terus
hubungannya sama harus ngaji apa?” tanyanya, suaranya lebih kecil, penasaran.
“Kita mengaji untuk mengusir
setan-setan itu. Biar mereka pergi. Meski tempat ini tetap menyimpan dosa, tapi
selama lantunan ayat suci dibaca di dalamnya… mereka jadi nggak betah.”
Sekar mengangguk pelan,
seperti baru mengerti.
“Paham, nggak?” tanyaku,
memastikan.
“Paham.” Senyum tipis akhirnya
muncul di bibirnya. “Kalau gitu, tolong kamu yang ngaji ya. Aku kan lagi
halangan. Terima kasih, Tari.”
Aku mendengus pelan. Ia masih
sempat saja menggodaku.
“Kalau gitu, besok kamu
harus bayarin aku, ya.”
“Maunya apa?”
“Gimana kalau—”
Tiba-tiba suara gesekan kayu
memecah udara.
Aku dan Sekar refleks
menoleh. Mata kami membelalak ngeri.
Kursi di dekat meja belajar
itu bergoyang. Bergeser pelan. Menyeret kakinya di lantai. Suaranya melengking
tajam—seperti kuku menggores kaca. Kursi itu terus bergerak, sedikit demi
sedikit, seolah ada tangan tak terlihat menariknya.
Suasana kamar seketika
membeku. Kami tak berani bicara. Napas tertahan. Tangan kami saling menggenggam
erat. Hanya detak jantung yang berguncang tak karuan.
Kursi itu berhenti. Diam. Tepat di tempat aku berdiri tadi—tempat di mana perempuan itu gantung diri.
Lalu, dari atas sana, muncul
suara lain.
Kriiit… kriet… kriet…
Kami mendongak spontan. Atap
terlihat lebih gelap dari biasanya. Lampu gantung meredup, cahayanya memudar,
seolah kegelapan menelannya pelan-pelan.
Suara itu semakin jelas—seperti
serat tali yang ditarik paksa, dililitkan, lalu diikat erat pada balok kayu
langit-langit. Deritnya menekan telinga, membuat bulu kuduk kami berdiri.
Tubuh kami kaku. Tangan
gemetar. Keringat dingin menetes di dahi. Suasana makin berat, makin tegang. Dunia
mendadak senyap, seperti menunggu sesuatu yang mengerikan muncul.
Mata kami tetap tertuju ke
atas. Suara tali yang diikat itu tak berhenti. Padahal, tak ada siapa-siapa di
sana. Tak ada apa-apa di sana.
“Tar…” bisik Sekar lirih, nyaris
tak terdengar. Suaranya kecil, ketakutan mencabik keberaniannya.
“Iya. Aku tahu,” balasku,
sama pelannya.
Kursi yang bergeser. Suara
tali yang tak terlihat. Entah kenapa, rasanya seperti kami sedang menyaksikan ulang
kejadian bunuh diri itu—tanpa benar-benar melihatnya.
Suara tali akhirnya berhenti.
Tiga detik hening. Dada
bergemuruh kencang.
Tujuh detik kemudian, masih
senyap. Tangan kami mengepal makin kencang, napas tersangkut di tenggorokan.
Sepuluh detik yang begitu
sunyi. Tubuh kami kaku. Tak berani beranjak sesenti pun. Hanya bisa menunggu. Menanti
sesuatu yang—
Tiba-tiba, kursi kayu itu
terbalik.
Tak ada angin. Tanpa peringatan.
Udara pekat menyelimuti
ruangan. Dinding-dinding kamar terasa menutup rapat, menghimpit dari segala
sisi.
Sesaat, sunyi total. Tak ada
suara. Tak ada bunyi. Hanya detak jantung kami yang terdengar di telinga
sendiri.
Lalu… sosok perempuan itu
muncul di hadapan kami.
Ia turun dari atas, tergantung
oleh tali yang mengikatnya ke balok kayu.
Aku dan Sekar sontak
berteriak.
Kami mundur, duduk di sudut,
menempel dinding. Mata terpejam, tapi kami masih melihat semuanya jelas.
Tubuhnya bergoyang perlahan.
Kaki tak menyentuh lantai. Rambut terurai menutupi wajah. Bau anyir menusuk
hidung, busuknya menusuk hingga tulang.
Lampu kamar tiba-tiba berkedip—nyala-mati-nyala-mati—seolah
hendak pecah.
Angin kencang berhembus,
menerbangkan segalanya. Buku-buku di meja belajar. Selimut ikut tersapu. Lampu
gantung berayun, menciptakan bayangan sosok itu di tembok.
Aku dan Sekar saling
berpelukan, menempel satu sama lain.
Kami hanya bisa memejamkan
mata. Diam. Terjebak di pojok kamar.
Bersambung…
Catatan Kecil:
Cerpen ini lahir dari kepercayaan yang salah kaprah—tentang arwah yang tak tenang, tentang roh yang gentayangan. Banyak yang lupa, bahwa yang menakutkan bukan kematian, tapi keyakinan yang keliru tentangnya.



Komentar
Posting Komentar