Postingan

Lebaran untuk Si yang Tak Terlihat

Gambar
 Momen yang seharusnya penuh dengan tawa, ternyata justru mengungkap luka lama. Ini kisah tentang lebaran yang tidak pernah sama bagi semua orang. Namaku Zein. Umurku dua puluh dua tahun. Aku anak tunggal. Ibuku adalah anak bungsu di keluarga ini, juga yang nasibnya paling buruk. Aku bukan orang yang suka banyak bicara. Hari ini semua berkumpul di rumah nenek. Lebaran. Agenda tahunan. Katanya, ini adalah momen untuk saling bertemu dan memaafkan. Tapi di keluarga besarku, semuanya terasa sedikit berbeda. Pagi masih muda. Matahari sudah terang, tapi sisa embun masih menyisakan sejuk. Rumah yang luas ini penuh sesak. Orang tua, anak-anak, cucu, semuanya bercampur menjadi satu. Teriakan bersahutan, menggema ke setiap sudut. Tawa meledak tanpa jeda. Di sela-selanya, masih ada isak tangis yang tertinggal setelah bersalaman. Aku duduk di sudut ruangan, sengaja menjauh dari keramaian. Kepalaku tertunduk, memandang toples-toples kaca yang mengilap. Tanganku bergerak tanpa sadar, men...

Retak di Angkringan

Gambar
 Kadang, pernikahan bukan tentang cinta, tapi bertahan. Dua jiwa terpisah oleh pilihan, masing-masing menanggung luka tak terungkap. Malam di sudut alun-alun kota. Jalanan telah lengang di penghujung waktu. Tak ada pengunjung, tak ada kendaraan melintas. Hujan lebat yang tadi mengguyur kini tinggal menyisakan tetes air jatuh dari daun-daun. Seorang pria muda melangkah masuk ke angkringan di tepi trotoar, tepat di bawah pohon beringin tua. “Ran. Seperti biasa, kopi panasnya.” Ragil duduk di bangku kayu yang kosong. Di depannya, deretan makanan tersusun rapi—nasi kucing, sate usus, gorengan—menggoda mata meski perutnya sedang tak benar-benar lapar. Rania di balik gerobak hanya menggumam pelan. Tangannya sigap menuang air panas dari teko. Asap arang mengepul tipis, menyusup ke udara malam. Ia meracik minuman itu tanpa banyak kata. Dua menit kemudian, secangkir kopi panas mendarat di hadapan Ragil. Wajahnya sedikit lebih terang saat melihat uap yang mengepul, meski raut mas...

Jika Aku Mati, Siapa yang Akan Menangis?

Gambar
Pernahkah kamu bertanya, siapa yang akan menangis saat kita pergi? Atau, apakah ada yang peduli saat kita hilang? Berdiri di ketinggian seratus lima puluh sembilan kaki. Kakiku tepat di tepi—tanpa batas dan tanpa penghalang—hanya pijakan tipis dan udara kosong di depanku. Angin malam berhembus kencang dari sini, menggoyangkan baju dan rambut tanpa ampun. Tapi tidak tekadku. Pandanganku jatuh ke bawah, menyadari betapa jauhnya langit dan bumi. Terlalu dalam. Terlalu sunyi. Ada sensasi aneh—seolah terjun bebas masuk ke kedalaman itu terdengar… menyenangkan. Suara klakson kendaraan masih bersahutan, bahkan di jam pulang kerja seperti ini. Jauh, bertumpuk, tak jelas arahnya. Namun tetap saja, rasa penasaranku jauh lebih berisik di dalam kepala. Aku menarik napas sejenak. Lutut sedikit gemetar. Maju lima senti saja, tubuhku bisa langsung disambar angin, jatuh dalam sepersekian detik. Lalu… Aku bisa menyadarinya. Aku bisa merasakannya. Dan aku bisa mengetahuinya. Pernahkah kalian...