Lebaran untuk Si yang Tak Terlihat
Momen yang seharusnya penuh dengan tawa, ternyata justru mengungkap luka lama. Ini kisah tentang lebaran yang tidak pernah sama bagi semua orang. Namaku Zein. Umurku dua puluh dua tahun. Aku anak tunggal. Ibuku adalah anak bungsu di keluarga ini, juga yang nasibnya paling buruk. Aku bukan orang yang suka banyak bicara. Hari ini semua berkumpul di rumah nenek. Lebaran. Agenda tahunan. Katanya, ini adalah momen untuk saling bertemu dan memaafkan. Tapi di keluarga besarku, semuanya terasa sedikit berbeda. Pagi masih muda. Matahari sudah terang, tapi sisa embun masih menyisakan sejuk. Rumah yang luas ini penuh sesak. Orang tua, anak-anak, cucu, semuanya bercampur menjadi satu. Teriakan bersahutan, menggema ke setiap sudut. Tawa meledak tanpa jeda. Di sela-selanya, masih ada isak tangis yang tertinggal setelah bersalaman. Aku duduk di sudut ruangan, sengaja menjauh dari keramaian. Kepalaku tertunduk, memandang toples-toples kaca yang mengilap. Tanganku bergerak tanpa sadar, men...