Lebaran untuk Si yang Tak Terlihat
Momen yang seharusnya penuh dengan tawa, ternyata justru mengungkap luka lama. Ini kisah tentang lebaran yang tidak pernah sama bagi semua orang.
Namaku Zein.
Umurku dua puluh dua tahun. Aku anak tunggal. Ibuku adalah anak bungsu di
keluarga ini, juga yang nasibnya paling buruk. Aku bukan orang yang suka banyak
bicara.
Hari ini
semua berkumpul di rumah nenek. Lebaran. Agenda tahunan. Katanya, ini adalah momen
untuk saling bertemu dan memaafkan. Tapi di keluarga besarku, semuanya terasa sedikit
berbeda.
Pagi masih
muda. Matahari sudah terang, tapi sisa embun masih menyisakan sejuk. Rumah yang
luas ini penuh sesak. Orang tua, anak-anak, cucu, semuanya bercampur menjadi
satu. Teriakan bersahutan, menggema ke setiap sudut. Tawa meledak tanpa jeda.
Di sela-selanya, masih ada isak tangis yang tertinggal setelah bersalaman.
Aku duduk di
sudut ruangan, sengaja menjauh dari keramaian. Kepalaku tertunduk, memandang toples-toples
kaca yang mengilap. Tanganku bergerak tanpa sadar, mengambil camilan apa saja yang
ada di depan. Tak ada yang benar-benar menarik, tapi mulutku terus mengunyah, sekadar
mengusir jenuh.
Aku sedang
tak ingin berbicara dengan siapa pun di rumah ini. Om, Tante, saudara sepupu, yang
seumuran atau lebih kecil. Bahkan nenek, yang sejak tadi hanya duduk di sofa,
memandangi kami dengan senyum hangat yang semakin pudar.
Orang tuaku
entah ada di mana. Mereka mencoba berbaur, mencari celah untuk masuk ke dalam
obrolan. Aku tahu dari cara mereka tersenyum, keduanya sedang berusaha keras. Berusaha
agar dianggap ada. Meski harus memalsukan senyum. Meski harus memaksakan tawa.
Selama bisa terlihat menjadi bagian, mereka tetap akan melakukannya.
Aku hanya
tersenyum getir melihatnya. Tak ada keinginan untuk melakukan hal yang sama.
Terasa menipu, terasa terlalu bermuka dua.
Tiba-tiba
suara Tante Pertama memecah keramaian. “Tante mau bagi-bagi THR! Siapa yang
mau?!”
Anak-anak
kecil langsung menoleh. Senyum lebar merekah di wajah polos mereka. Mata berbinar,
tubuh bergerak cepat. Mereka berlari dan berbaris rapi di depan Tante Pertama.
Tangan terulur, menunggu amplop berisi uang jatuh ke genggaman.
“Tante juga
mau ngasih THR, lho!” sahut Tante Kedua, tak mau kalah.
Anak-anak
yang sudah mendapat amplop pertama langsung berpindah. Berlari lagi dengan
semangat yang tak kalah besarnya. Mereka kembali berbaris, tersenyum manis, menerima
amplop berikutnya dengan senang hati.
Nenek punya enam
anak. Semuanya perempuan. Ibuku yang paling bungsu, dan satu-satunya yang kurang
beruntung mendapatkan suami dibanding yang lain.
Bukan
maksudku merendahkan ayahku sendiri. Tapi perbedaannya terlalu jelas. Lima tanteku
datang dengan mobil baru yang terparkir di depan rumah. Sementara orang tuaku hanya
dengan motor matic tua, keluaran sepuluh tahun lalu. Meski sudah dicuci bersih sehari
sebelumnya, tapi tetap saja terlihat sudah tua.
Dan yang
paling menyakitkan adalah melihat mereka berdua duduk di sudut, tak benar-benar
menjadi bagian dari kebahagiaan itu.
Lima tanteku
terus berbicara, tertawa, membagikan amplop pada keponakan-keponakan mereka. Senyum
mereka semakin lebar setiap kali tangan-tangan mungil itu terulur. Sementara
ibuku, hanya duduk di depan toples, menatap mereka dengan senyum kecil yang
semakin kecil. Seolah berusaha menyembunyikan rasa sakit yang tertahan.
“Tante. THR
dari Tante mana?” Seorang anak kecil tiba-tiba berdiri di depan ibuku. Polos.
Tanpa ragu.
Ibuku terkejut.
Bibirnya sedikit bergetar, bingung harus menjawab apa. Ia hanya menatap anak
itu sesaat, lalu tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan.
Aku langsung tahu. Rasa sakitnya mulai menusuk.
“Nak. Jangan
bilang begitu ke Tante. Kamu kan tahu kalau Tante nggak pernah ngasih THR ke
keponakannya.” Tante Pertama menegur, tapi nadanya ringan. Terlalu ringan.
Seolah itu hal biasa.
Beberapa orang
dewasa langsung tertawa. Tidak keras, tapi cukup menggema di seluruh ruangan.
Tawa yang terasa begitu tajam dan mengiris hati.
Ibuku tetap duduk
di sana. Senyumnya tak hilang, hanya semakin tipis. Tak cukup untuk menutupi kesedihannya
lagi.
Ini bukan
hal baru. Setiap lebaran, setiap pertemuan seperti ini, keluargaku selalu jadi bahan
tawaan mereka. Bukan sekadar soal THR. Ini tentang bagaimana kami hidup… yang
selalu dibandingkan, diukur, lalu dijadikan contoh tentang hidup yang penuh
kekurangan.
Dan seperti
biasa, aku memilih diam. Tak ingin ikut larut dalam tawa yang terdengar mengikis
harga diri kami sedikit demi sedikit.
“Zein, kuliahnya
gimana? Udah semester berapa?” suara Tante Keempat tiba-tiba muncul di
sampingku.
Aku menarik
napas pelan, memaksa senyum. “Sepuluh, Tante.”
“Semester
sepuluh? Kok lama banget?” sahut Tante Kelima cepat. “Anak Tante semester tujuh
sudah wisuda.”
“Nggak
masalah, sih,” potong Tante Pertama sambil duduk setelah selesai membagi amplop.
“Yang penting di usia segini sudah kerja. Sudah bisa dapat uang. Sekarang
kerjanya apa, Zein?”
“Live, Tante.
Jualan,” jawabku pelan.
“Followers
kamu berapa?”
“Baru… sedikit.
Lima puluhan.”
“Aduh…” Ia
tersenyum tipis, seperti menahan tawa. “Kayak putri Tante, dong. Sebulan sudah
seratus ribu followers.”
Semua mata
langsung tertuju pada seorang perempuan cantik seusiaku. Ia tersenyum malu,
menunduk sedikit, menerima perhatian itu.
“Kamu sudah
punya pacar belum, Zein?” tanya Tante Kedua.
“Belum
Tante.”
“Buruan
nikah. Nanti keburu tua,” katanya ringan. “Anak Tante seumuran kamu sudah
nikah. Tahun ini malah sudah punya anak.”
“Tapi tetap harus
ada tabungan dulu,” sambung Tante Ketiga. “Anakku saja masih harus nabung sedikit
lagi baru mau nikah. Sudah kekumpul dua ratus juta.”
“Kerja apa tuh?”
Tante Keempat langsung tertarik. “Anakku juga lagi cari tambahan. Padahal sudah
jadi ketua divisi di perusahaannya, tapi masih terasa kurang.”
Percakapan
terus mengalir. Saling sambung. Saling pamer. Seolah ini adalah perlombaan.
Bukan untuk berbagi kabar, tapi untuk menunjukkan siapa yang paling berhasil.
Aku hanya
duduk diam di tengah-tengah mereka. Seperti biasa, tak bereaksi.
Padahal dadaku
sejak tadi bergemuruh. Tangan mengepal keras, menahan sesuatu yang terus
mendesak keluar. Setiap kalimat yang mereka lontarkan terasa seperti sayatan
tipis. Sakit. Sampai napasku sendiri terasa sempit.
Aku menatap
mereka satu per satu. Ada yang mendidih di dalam dada. Amarah. Kesal.
Kebencian. Semuanya bercampur, saling mendorong, mencari celah untuk keluar.
Tapi mereka…
tetap biasa saja. Bicara santai. Tertawa ringan. Seolah tak pernah mengatakan
apa-apa. Seolah tak ada yang perlu dipikirkan. Mereka sudah kembali pada
obrolan masing-masing, tanpa peduli pada rasa sakit yang mereka tinggalkan di
hatiku.
Mataku bergeser
ke ayah dan ibuku. Keduanya menatapku sendu. Kepala mereka menggeleng pelan,
seolah mengisyaratkan agar aku tak melakukan sesuatu yang memperkeruh suasana.
Mereka memilih diam. Menerima, meski jelas tak mudah. Menunduk pada keadaan, sadar
diri di tengah perbedaan yang terlalu jauh.
Tapi aku
tidak. Kebencian itu sudah terlanjur menggelapkan pikiranku. Amarah itu sudah lebih
dulu menguasai diriku.
Kejadian
seperti ini bukan yang pertama kali. Sudah berulang, tahun demi tahun. Sejak
hidup kami tak pernah mengalami perubahan, sementara yang lain terus melangkah
jauh di depan.
Mereka
membandingkan. Selalu begitu sejak tiga tahun lalu. Kuliah yang tak selesai-selesai.
Pekerjaanku yang dianggap tak punya harga. Tabunganku yang tak seberapa. Dan
hidupku yang selalu terasa kurang di mata mereka.
Selama ini
aku diam. Memilih menahan diri, hanya agar tak mempermalukan orang tuaku.
Tapi hari
ini tidak. Lebaran kali ini, akan berbeda.
“Iya,
Tante-tante. Aku memang belum bisa kayak anak-anak kalian.”
Suaraku
pelan, tapi cukup untuk memotong seluruh perhatian.
Obrolan
terhenti. Semua kepala menoleh. Tatapan mereka mengarah padaku—menunggu, seolah
sudah siap menilai.
“Tidak
masalah, Zein. Kamu nggak harus buru-buru kayak anak saya—”
“Saya memang
nggak bisa kayak anak Tante,” potongku cepat.
Tante
Pertama terdiam, sedikit tersedak. Alisnya terangkat.
Aku terkekeh
pelan. “Anak Tante sudah punya followers banyak, kan? Maaf... aku nggak jualan dada
sama goyangan buat naikin followers.”
Ruangan
mendadak hening. Anak perempuan itu membelalak. Tante Pertama langsung berdiri.
“Kamu
kurang—”
“Aku juga
belum bisa nikah sekarang, nggak kayak anak Tante,” lanjutku, suaraku sedikit
naik, mengabaikan Tante Pertama. Pandanganku bergeser, menatap Tante Kedua
tanpa ragu. “Anak Tante nikah juga karena terpaksa, kan? Karena hamilin anak
orang. Maaf... aku nggak bisa ngerusak anak orang lain kayak gitu.”
Napas
tertahan di seluruh ruangan. Wajah Tante Kedua menegang, bibirnya bergetar.
Aku tak
berhenti. Beralih ke Tante Ketiga.
“Tabungan
dua ratus juta memang banyak. Tapi sayangnya garis start kita berbeda. Dia sudah
punya modal dari awal, sedangkan aku belum. Jadi wajar kalau aku nggak bisa sampai
ke sana.”
Lalu ke
Tante Keempat.
“Dan soal
pekerjaan…” aku tersenyum tipis, hambar. “Kalau masuk perusahaannya lewat orang
dalam, jangan terlalu disombongin. Nggak enak sama orang lain yang berjuang
mati-matian tapi ditolak karena ada anak titipan. Malu.”
Kening
mereka langsung berkerut. Tangan mulai mengepal.
Aku menatap
Tante Kelima terakhir.
“Aku juga minta maaf kalau nggak sepintar anak Tante. Semester tujuh sudah wisuda. Aku sempat cuti dua semester. Nggak punya pilihan. Harus berhenti karena ekonomi. Jadi… jangan ketawa kalau belum pernah ngerasain gimana susahnya bayar kuliah pakai uang hasil kerja sendiri.”
Semuanya
langsung terdiam.
Hening menyebar
begitu saja, memenuhi ruangan. Tak ada yang berbicara. Tak ada yang beranjak.
Hanya tatapan setengah tak percaya.
Mulut yang
sedikit terbuka. Mata membelalak. Kening berkerut. Seolah mereka tak pernah
membayangkan kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulutku.
Tapi aku tak
peduli.
Untuk sekali
ini saja. Setelah semua yang sudah mereka katakan selama bertahun-tahun. Tak
ada salahnya mereka tahu bagaimana rasanya. Bahwa kata-kata yang selama ini
mereka lontarkan, bisa sebegitu menyakitkannya.
Pandanganku beralih
pada ayah dan ibuku. Keduanya duduk diam. Wajah mereka lesu. Ada malu yang tak
sempat mereka sembunyikan saat anaknya sendiri berbicara seperti itu di hadapan
keluarga besar.
Bibir Ibu sempat
bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu. Mungkin meminta maaf. Tapi tak jadi.
Aku
mengangguk pelan pada mereka. Tanpa senyum. Tanpa ekspresi.
Kadang, hal seperti
ini memang harus terjadi. Agar mereka tahu batas. Agar tak semua hal bisa terus
diucapkan seenaknya.
Aku mencintai
kedua orang tuaku. Dengan segala kekurangan yang mereka miliki. Kalau aku ada
di dunia ini, itu karena mereka. Bukan karena kesempurnaan hidup, tapi karena
kesempurnaan kasih sayang yang mereka berikan.
Dan hari
ini, aku hanya ingin membalasnya. Dengan caraku sendiri. Mungkin sedikit kasar,
tapi itu satu-satunya cara yang kupunya. Lebaran yang seharusnya hangat,
berubah jadi ajang saling membandingkan. Bukan untuk saling menguatkan,
melainkan saling meninggikan diri.
Pagi itu
masih panjang. Lebaran bahkan baru dimulai beberapa jam. Tapi semuanya sudah
terasa selesai.
Aku dan
kedua orang tuaku memilih pulang lebih dulu. Melangkah keluar rumah dengan
senyum yang dipaksakan.
Di belakang kami, biarlah mereka melanjutkan cerita mereka sendiri.
Catatan Kecil:
Lebaran seharusnya jadi waktu untuk saling memaafkan, bukan untuk saling membandingkan. Tapi kenyataannya, seringkali di balik tawa ada pertanyaan yang malah merendahkan. Dari situ, aku terinspirasi untuk menulis.



Komentar
Posting Komentar