Retak di Angkringan
Kadang, pernikahan bukan tentang cinta, tapi bertahan. Dua jiwa terpisah oleh pilihan, masing-masing menanggung luka tak terungkap.
Malam di sudut
alun-alun kota. Jalanan telah lengang di penghujung waktu. Tak ada pengunjung, tak
ada kendaraan melintas. Hujan lebat yang tadi mengguyur kini tinggal menyisakan
tetes air jatuh dari daun-daun.
Seorang pria
muda melangkah masuk ke angkringan di tepi trotoar, tepat di bawah pohon beringin
tua.
“Ran.
Seperti biasa, kopi panasnya.”
Ragil duduk
di bangku kayu yang kosong. Di depannya, deretan makanan tersusun rapi—nasi
kucing, sate usus, gorengan—menggoda mata meski perutnya sedang tak benar-benar
lapar.
Rania di balik
gerobak hanya menggumam pelan. Tangannya sigap menuang air panas dari teko.
Asap arang mengepul tipis, menyusup ke udara malam. Ia meracik minuman itu
tanpa banyak kata.
Dua menit
kemudian, secangkir kopi panas mendarat di hadapan Ragil. Wajahnya sedikit
lebih terang saat melihat uap yang mengepul, meski raut masam belum sepenuhnya
hilang. Rania pun tak menampilkan senyum hangat seperti biasanya.
Malam ini, keduanya
menyimpan sesuatu. Kekhawatiran esok hari yang menggantung tanpa jawaban.
“Gimana hari
ini? Lancar nggak jadi badutnya?” tanya Rania, memecah sunyi yang mulai terasa
berat.
Ragil
mengangkat bahu. Senyum kecut terselip di sudut bibirnya. “Nggak begitu. Nggak
ada panggilan. Jadi cuma main di pinggiran lampu merah. Orang-orang cuma lihat,
tapi ya… nggak ngasih apa-apa. Kamu sendiri gimana?”
“Ya begini. Kayaknya
malam ini bakal sepi. Hujan deras tadi bikin orang-orang malas ke alun-alun.”
“Bukan itu.”
Ragil mengibaskan tangan kecil di udara. “Kamu. Kelihatan ada yang dipikirin.
Nggak kayak biasanya yang selalu murah senyum.”
Rania tertegun.
Matanya sedikit membesar sebelum senyum canggung terbit di bibirnya. “Kelihatan
banget, ya?”
“Ya.”
Rania
terkekeh kecil. Bukan karena lucu—lebih karena ia tak menyangka luka yang
disimpannya tetap terbaca jelas di wajahnya.
“Aku tadi
pagi gugat cerai suamiku.”
Kalimat itu
jatuh pelan, tapi terasa seperti petir menyambar. Ragil membeku. Untuk sesaat
ia hanya menatap Rania, seolah berharap ia salah dengar.
“Tapi kalian
baru setahun nikah, kan? Kenapa sampai cerai?”
“Setahun…”
Rania mengulang lirih. “Tapi buat apa dipertahankan kalau isinya cuma saling
menyakiti.”
Kepalanya
tertunduk. Sendok di tangannya diputar-putar tanpa arah.
“Suamimu
kenapa?”
“Dia
selingkuh.” Jemarinya mengencang pada gagang sendok. “Pantes dia sering nggak
pulang. Ternyata lagi main sama perempuan lain. Lebih muda lagi.” Ia tersenyum
miring. “Entah polos atau pura-pura nggak tahu, mau-maunya dekat sama suami
orang.”
Ragil menyesap
kopinya, pelan. “Harusnya kamu nggak kaget. Kamu sudah tahu karakternya gimana
waktu masih pacaran. Kalian nikah juga gara-gara kamu hamil duluan, kan? Masih SMA
lagi.”
Rania hanya
tersenyum datar. Aneh, ia tak merasa marah. Mungkin karena jauh di dalam hati,
ia tahu Ragil tidak salah. Pernikahan itu sejak awal sudah berdiri di atas
kesalahan. Jadi tak heran jika suatu hari semuanya runtuh.
Ia menghela
napas panjang. Kenangan lama menyeruak, mengiris kembali. Betapa bodohnya ia
dulu, saat memberikan tubuhnya begitu saja pada laki-laki yang kini bahkan tak
mampu ia sebut dengan perasaan yang sama.
“Kamu cinta
aku, nggak? Kalau cinta, buktiin.”
“Tapi kalau
aku hamil gimana? Kita masih sekolah...” suara Rania waktu itu bergetar.
“Aku akan tanggung
jawab. Percaya sama aku.”
Dan ia
percaya.
Padahal lelaki
itu belum punya pekerjaan, masih berseragam abu-abu, tapi sudah lantang bicara
soal tanggung jawab.
Tiga bulan
kemudian, ketika seharusnya ia datang bulan, yang datang justru kabar lain. Perutnya
mulai menyimpan kehidupan. Hanya sekali ia menyerahkan diri, dan kini satu
janin sudah tumbuh di rahimnya.
Mereka menikah.
Terpaksa. Agar anak yang lahir punya nama ayah.
Namun setelah itu, janji tinggal janji. Tak ada nafkah. Tak ada usaha. Suaminya lebih akrab dengan meja judi dan botol minuman, lebih sering menghilang bersama perempuan lain—bahkan saat Rania masih hamil muda. Setelah anak mereka lahir pun, tak ada yang berubah. Justru makin menjadi. Kadang kata-kata kasar, kadang tangan yang ikut bicara.
“Tapi nggak
apa-apa. Sudah terlanjur juga. Nggak bisa dibenerin lagi, kan?” suara Ragil
pelan, nyaris tenggelam oleh desir angin malam.
Lamunan
Rania pecah. Ia cepat-cepat menyeka air mata yang menggenang di pelupuk. “Mau
gimana lagi? Ternyata cinta nggak pernah menjanjikan cukup.”
Mereka tertawa
kecil. Bukan karena lucu—justru karena terlalu pahit untuk ditelan sendirian.
Dua orang yang sama-sama terpojok, mencoba terdengar bijak di atas luka
masing-masing.
“Aku juga lagi
ada masalah, Ran,” ujar Ragil setelah tawanya mereda. “Makanya tadi, meski hujan
deras, aku tetap ke sini. Pingin minum kopi. Biar kepala agak tenang.”
“Memangnya keluargamu
kenapa? Istrimu kurang sama nafkah yang kamu kasih?” Rania bertanya hati-hati.
Ragil
mengangguk pelan. “Tadi pagi surat panggilan sidang dari pengadilan datang. Istriku
gugat cerai. Sudah enam bulan dia pulang ke rumah orang tuanya.”
Rania
membelalak. “Alasannya?”
“Di
gugatannya bilang kalau nafkahku kurang. Jadi dia minta cerai.” Ragil
mengembuskan napas berat. Kopi di depannya mulai kehilangan uapnya.
“Tapi dia tahu
kan penghasilanmu memang nggak seberapa?”
“Tahu.
Keluarganya juga tahu.”
“Lalu kenapa
kalian nikah? Kerjaanmu aja nggak tetap.”
“Aku dipaksa
keluarganya, Ran.” Suaranya merendah. “Kami sudah pacaran lima tahun. Dulu aku
cuma pengamen. Keliling dari rumah ke rumah. Kalau sepi, kadang ke lampu merah.
Sesekali aku dandan jadi banci, biar lebih menarik. Lebih menguntungkan.
Orang-orang biasanya lebih royal kalau aku goda sedikit.”
Rania menatapnya
tak percaya. “Serius?”
Ragil
mengangguk tipis. “Karena sudah lama pacaran, keluarganya mendesak kami nikah. Katanya
nggak baik kelamaan, takut kejadian yang macam-macam. Akhirnya aku berhenti
ngamen, pindah jadi badut. Kupikir lebih menjanjikan.
“Tapi
setelah punya anak, bukannya rezeki lancar, yang ada malah makin seret. Job badut
sepi. Jadi aku kembali ke jalan. Pakai kostum itu, berdiri di lampu merah,
nyanyi sambil nahan malu.”
Ragil
terdiam lama. Pernikahannya baru tiga tahun, tapi rasanya sudah di ujung. Lima
tahun pacaran dulu seolah tak berarti apa-apa dibanding tiga tahun yang kini
retak.
Ia tak
menyalahkan siapa pun. Istrinya berhak merasa kecewa. Nafkah yang ia bawa
pulang memang tak seberapa. Dari menjadi badut, kadang penghasilannya bahkan
hanya cukup untuk makan dirinya sendiri. Sementara di rumah, istri dan bayinya
menahan lapar.
Anaknya yang
masih merah itu terpaksa diberi air putih. Istrinya kekurangan gizi, membuat
ASI tak mau keluar.
“Kamu nggak
mau cari kerja lain? Kita sudah nggak makan nasi. Mau jadi apa anak kita? Kamu
laki-laki cuma bisa segini?”
Ragil waktu
itu hanya menunduk. Bukan marah—lelah pada rasa kalah. “Aku nggak pernah janji jadi
kaya. Tapi aku janji nggak lari dari tanggung jawab.”
“Makan tuh
tanggung jawab! Aku balik ke rumah orang tuaku saja!”
Kenangan itu
menekan dadanya lagi malam ini. Ia merasa gagal—sebagai suami, sebagai ayah.
Seharusnya dulu ia berani menolak paksaan pernikahan itu. Atau memutuskan
hubungan saat masih pacaran. Tidak memaksakan diri membangun rumah tangga di
atas kondisi yang sudah rapuh sejak awal.
Ia menyesal menikah hanya karena desakan. Hidup pas-pasan sejak lahir, lalu nekat berkeluarga, hanya seperti memperpanjang lingkaran kemiskinan. Mungkin ia memang seharusnya sendiri dulu. Bekerja lebih keras. Mencari pegangan yang lebih pasti sebelum menggandeng orang lain masuk ke dalam hidupnya.
Angin malam
berembus pelan, menggerakkan ujung terpal angkringan. Di antara uap kopi yang
mulai memudar, dua orang itu menyadari—masalah mereka berbeda, tapi rasanya
sama: sesak.
“Kita
berdua… ternyata sama-sama bodoh, ya?” Ragil berujar pelan. Bukan benar-benar untuk
dijawab, lebih untuk menertawakan reruntuhan yang mereka duduki sekarang.
Rania ikut tertawa
kecil. “Bodoh banget. Sampai nggak habis pikir.”
Ragil menyusul.
Untuk pertama kalinya malam itu, ada yang terasa sedikit longgar di dadanya.
Seolah beban yang terlalu dipikul akhirnya mendapat celah untuk keluar, meski
hanya lewat tawa singkat.
Malam di
angkringan itu berubah menjadi ruang pengakuan. Dua orang yang sama-sama
terlanjur luka karena cinta yang tak pernah benar-benar siap
dipertanggungjawabkan.
Bukan cintanya
yang salah—melainkan orang yang mereka pilih.
Rania
memilih lelaki yang lebih sibuk mengejar perempuan lain daripada menjaga
rumahnya sendiri. Ia ditinggalkan tanpa nafkah, tanpa perlindungan. Maka
malam-malamnya kini dihabiskan di balik gerobak, berdandan cantik agar pembeli
tertarik, sementara anaknya ia titipkan pada orang tuanya di rumah.
Di sisi lain,
Ragil menghadapi pernikahan yang retak karena ketidakpuasan. Nafkahnya memang
tak pernah cukup. Tapi bukankah ia tetap bertahan, tetap mencoba? Namun dunia
tak berjalan dengan niat baik saja. Tanpa uang, hidup terasa seperti jalan
buntu. Bahkan untuk membeli segenggam beras pun perlu lembaran yang tak pernah
cukup ia miliki.
Pada
akhirnya, ia harus menerima gugatan itu. Menerima bahwa rumah tangganya runtuh.
Menerima bahwa kelak, saat membuka pintu rumah, tak akan ada lagi anak kecil
yang menyambutnya
“Kalau bisa
ngulang, kamu tetap mau nikah?” tanya Rania pelan.
Ragil tak
langsung menjawab. Ia justru menatap Rania lama, lalu balik bertanya. “Kamu
nyesel sama pernikahanmu?”
Kini giliran
Rania yang terdiam.
Pertanyaan
itu menggantung di antara mereka. Tentang pernikahan, topik yang terasa seperti
luka terbuka yang tak ingin lagi disentuh. Seolah itu aib yang harus dikunci
rapat-rapat. Bukti bahwa rumah tangga mereka runtuh, karena sejak awal
fondasinya memang sudah retak.
Tak ada yang
berani menjawab.
Dalam diam,
keduanya menyadari sesuatu. Meski terlambat, tapi setidaknya tetap sebuah
kesadaran. Pernikahan mereka dulu lahir bukan untuk menyelesaikan masalah,
melainkan untuk menutupinya. Mereka menikah karena terdesak, karena takut,
karena tuntutan. Bukan karena siap.
Dan kini,
harga dari keputusan itu harus dibayar.
Cinta tak
selalu berujung bahagia. Cinta yang tumbuh di atas ketakutan, paksaan, dan
kekurangan sering kali tak sanggup bertahan. Bukan karena perasaannya tak ada,
tapi karena fondasinya rapuh sejak mula.
Dulu mereka
menikah karena takut kehilangan satu sama lain.
Sekarang mereka
berpisah karena takut kehilangan diri sendiri.
Catatan Kecil:
Cerpen ini terinspirasi dari tingginya angka perceraian yang disebabkan banyak alasan. Pernikahan bukan langkah sembarangan, tapi tanggung jawab yang butuh kesiapan matang



Komentar
Posting Komentar