Jika Aku Mati, Siapa yang Akan Menangis?

Pernahkah kamu bertanya, siapa yang akan menangis saat kita pergi? Atau, apakah ada yang peduli saat kita hilang?

Berdiri di ketinggian seratus lima puluh sembilan kaki.

Kakiku tepat di tepi—tanpa batas dan tanpa penghalang—hanya pijakan tipis dan udara kosong di depanku. Angin malam berhembus kencang dari sini, menggoyangkan baju dan rambut tanpa ampun. Tapi tidak tekadku.

Pandanganku jatuh ke bawah, menyadari betapa jauhnya langit dan bumi. Terlalu dalam. Terlalu sunyi. Ada sensasi aneh—seolah terjun bebas masuk ke kedalaman itu terdengar… menyenangkan.

Suara klakson kendaraan masih bersahutan, bahkan di jam pulang kerja seperti ini. Jauh, bertumpuk, tak jelas arahnya. Namun tetap saja, rasa penasaranku jauh lebih berisik di dalam kepala.

Aku menarik napas sejenak. Lutut sedikit gemetar. Maju lima senti saja, tubuhku bisa langsung disambar angin, jatuh dalam sepersekian detik. Lalu…

Aku bisa menyadarinya. Aku bisa merasakannya. Dan aku bisa mengetahuinya.

Pernahkah kalian berpikir? Mungkin tidak. Tapi aku pernah.

Pikiran itu sudah lama menggantung di kepalaku. Rasa penasaran yang menuntut jawaban—jawaban yang, entah kenapa, terasa hanya bisa didapat dengan mengalaminya sendiri.

Bagaimana kalau aku… mati?

Seperti apa rasanya jika aku mati saat ini? Meninggalkan ibu dan adik-adikku. Melepaskan teman-teman berhargaku. Menjauh dari seorang perempuan cantik yang selama ini hanya bisa kucintai dalam diam.

Apakah…

Apakah mereka akan mencariku? Apakah keluargaku akan menangis setelah aku mati? Bagaimana nasib mereka jika kehilangan anak pertama di keluarga?

Apakah teman-temanku akan bersedih saat mendengar kabar kematianku—datang ke rumah, melayat, dengan air mata yang terus tumpah? Atau justru sebaliknya.

Lalu perempuan yang kucintai itu… apakah ia akan sadar? Akankah ia ikut menangis setelah kepergianku? Meski tak pernah kuungkapkan rasa ini, bisakah kehilanganku membuatnya sadar bahwa ia telah kehilangan satu dari puluhan laki-laki yang mencintainya?

Aku selalu ingin tahu. Selalu ingin bisa melihat bagaimana reaksi mereka setelah aku mati.

Mungkinkah semua itu benar-benar terjadi di hidupku? Seperti di film-film—bahwa orang yang mati masih bisa melihat kabar dari mereka yang datang melayatinya.

Mungkinkah?

Karena itu, aku ingin merasakannya. Ingin mengetahuinya. Ingin menemukan jawaban dari rasa penasaranku.

Aku tahu ini gila. Saat semua orang kantor sudah pulang bekerja sejak satu jam yang lalu. Lantas aku sendiri justru pergi naik ke atap gedung, sendirian di tengah malam yang tanpa penerangan, hanya dibantu separuh sinar rembulan dan kerlap-kerlip ibu kota yang masih bernyawa.

Aku ingin mati sekarang. Ingin bunuh diri. Bukan karena luka, tapi karena rasa ingin tahu.

Aku menarik napas—cukup dalam, cukup panjang. Sekadar memastikan aku masih bisa menghirup udara dunia dengan baik.

Lalu kaki kananku maju selangkah. Tidak menapak. Hanya udara kosong. Siap terjun ke bawah sana. dengan kecepatan yang tak mungkin ditangkap mata telanjang.

Tanpa ada yang tahu. Tanpa wasiat. Semuanya serba sendiri.

“Kalau jatuh dari sini, kira-kira bakal ramai nggak, ya?”

Aku terperanjat. Kakiku segera kutarik kembali. Kepalaku menoleh cepat, mendapati seorang perempuan berdiri tak jauh dariku.

Dahiku berkerut. Sekilas kupandangi dirinya. Ia tampak santai. Tangan bersandar di dinding pembatas. Kepala condong ke depan, menatap ke bawah seolah sedang menghitung jarak bangunan ini dengan tanah. Rambutnya diikat seadanya.

“Kamu seharusnya teriak kalau lihat orang mau bunuh diri,” ucapku akhirnya. Kedua kakiku kembali menapak, berdiri menghadapnya.

Perempuan itu menoleh. “Kenapa harus? Kamu belum jatuh.”

Aku terdiam. Kalimatnya seolah meluncur begitu saja, ringan, tanpa beban.

“Aku di sini bukan buat nyelametin kamu,” lanjutnya.

“Terus?”

Ia mengangkat bahu. “Aku nggak sengaja ke sini. Terus lihat kamu. Ya aku samperin aja.”

Aku terdiam sejenak. Perempuan itu cuek—dan jujur saja, tidak menyenangkan. Tapi aku tak mempermasalahkannya. Sedikit bicara dengannya mungkin cukup untuk jadi kenangan kecil sebelum aku mati.

“Aku nggak bermaksud bunuh diri,” kataku. “Aku cuma penasaran.”

“Penasaran apa?” tanyanya.

Pandanganku kembali jatuh ke depan—ke bawah—tempat kendaraan saling membunyikan klakson di tengah kemacetan kota.

“Kira-kira… kalau aku mati, siapa saja yang bakal nangis buat aku,” jawabku lirih.

“Oh.” Ia hanya menanggapi singkat, lalu kembali menatap jauh ke depan.

Alisku mengerut. Sekali lagi, ia menunjukkan sikap cueknya—padahal kami baru saja bertemu.

“Kamu nggak ingin tahu kenapa aku seperti ini? Barangkali kamu mau ngehentiin aku biar nggak bunuh diri.”

“Buat apa?” jawab perempuan itu datar. “Aku malah yakin kalau kamu nggak bakal bunuh diri. Aku tahu itu.”

Napasku tertahan. Dahiku berkerut tajam. Bagaimana bisa ia berpikir seperti itu?

“Kenapa kamu yakin?” tanyaku. “Kamu lihat sendiri aku hampir terjun dan mati.”

“Ya… apa yang sebenarnya mau kamu tangisi buat bunuh diri?” katanya. “Kamu nggak punya alasan.”

Aku terdiam. Bingung. Bagaimana bisa ia tahu? Tentang aku yang memang tak punya alasan jelas untuk mengakhiri hidup—selain rasa penasaran semata.

“Kamu nggak tahu apa-apa tentangku,” ucapku. “Kita bahkan baru bertemu.”

“Kamu benar. Tapi aku bisa tahu sedikit hanya dengan melihatmu.”

Aku tersenyum miring, samar. Selain cuek, ternyata ia juga sok tahu.

“Kamu menertawaiku?” tanyanya tiba-tiba. Aku sedikit terkejut.

Aku terkekeh pelan. “Karena kamu bicara sembarangan. Seolah kamu ngerti segalanya.”

Sorot matanya menajam. Dahinya mengerut, jelas tak terima. Namun ia segera menghela napas, menahan diri.

“Terserahmu,” katanya singkat. “Aku tahu satu hal—kamu berdiri di sini bukan karena depresi atau ingin mengakhiri hidup. Kamu cuma penasaran. Kamu nggak punya masalah besar dengan keluarga. Teman-temanmu juga baik-baik saja. Dan kamu sedang tidak patah hati karena ditolak perasaan oleh seorang perempuan.”

Aku terdiam. Mataku berkedip. Bibirku bergetar pelan—tak satu kata pun keluar.

Perempuan itu terasa aneh sekarang. Aku tak mengenalnya, dan ia tak pernah mengenalku. Namun semua yang diucapkannya benar. Tak meleset sedikit pun. Padahal aku tak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun. Semua hanya kusimpan sendiri, di dalam kepala.

Tapi sejak ia datang, seolah seluruh rahasia itu terbuka begitu saja.

Siapa dia sebenarnya? Seorang cenayang? Atau seseorang yang diam-diam mengamatiku sejak lama? Tapi kapan? Aku bahkan tak pernah melihatnya seumur hidupku.

“Kamu bingung?” tanyanya, memecah lamunanku.

Aku tersentak kecil. Tubuhku bergerak kaku, linglung. Angin dingin berhembus kencang, membuat kakiku sedikit gemetar—entah karena ngeri, entah karena dingin.

“Ba-bagaimana bisa kamu tahu semua itu?” tanyaku.

“Sederhana,” jawabnya ringan. “Kalau kamu benar-benar ingin mati, kamu sudah melompat sejak tadi.”

Aku terdiam. Menunggu. Jawabannya terlalu singkat. Tidak memuaskan.

“Orang yang ingin mengakhiri hidup tidak akan berdiri selama itu hanya untuk berpikir,” lanjutnya. “Kamu juga tidak dibesarkan di keluarga yang hancur. Tidak ada tanda-tanda hidupmu terabaikan. Pakaianmu rapi. Tidak ada kebencian di caramu bicara. Dan saat kata keluarga disebut, tubuhmu tidak bereaksi apa-apa. Itu sudah cukup.”

Aku tercengang. Tebakannya terlalu tepat. Sulit dipercaya seseorang bisa membacaku sejauh itu—hanya dari caraku berdiri dan berbicara.

“Kamu punya teman-teman yang cukup baik,” lanjutnya. “Sepatumu aus di bagian dalam. Tanda seseorang sering berjalan bersama orang lain. Cara bicaramu juga santai dan nyaman. Orang yang benar-benar kesepian tidak akan bisa berbicara selancar itu. Intonasinya kaku, canggung.”

Tatapannya mengarah padaku. Matanya menyapu tubuhku perlahan, seolah menangkap tanda-tanda kecil yang bahkan tak pernah kusadari.

Aku menelan ludah. Sorot matanya terasa dalam, seakan ingin menembus ke dalam diriku.

“Lalu… yang terakhir?” tanyaku setelah hening cukup lama.

“Kamu tidak sedang patah hati.”

Aku mengernyit.

“Kalau kamu patah hati, matamu akan terlihat lebih sayu. Ada keinginan menghindar saat berhadapan dengan perempuan sepertiku. Tapi kamu tidak. Kamu masih menjaga penampilan. Rambutmu rapi. Tubuhmu wangi. Itu tanda kamu tidak kehilangan siapa-siapa. Kamu hanya menyimpan perasaan, yang belum sempat kamu ucapkan.”

Aku bungkam. Semua ucapannya benar. Aku bahkan tak tahu harus membalas apa. Terlanjur takjub.

Tanpa sadar, kakiku melangkah mundur—turun dari tepi bangunan. Aku berdiri beberapa meter darinya.

Mataku masih menatapnya lama. Memastikan bahwa perempuan itu benar-benar manusia. Karena meski ia menebak segalanya dengan tepat, aku tetap tak tahu apa maksud kehadirannya di sini.

Apakah ia datang untuk menggagalkan rencanaku? Atau justru sesuatu yang lain?

Keheningan meredam di sekitar kami. Suara klakson dari kendaraan di bawah sana masih terdengar, samar tapi nyata.

“Siapa namamu?” tanyanya, memecah sunyi.

“Sena.”

Ia menatapku sejenak, lalu berkata. “Bagaimana kalau setelah mati, kamu tidak melihat apa pun?”

Dahiku refleks mengerut. Pertanyaan itu menancap tepat di ulu hati. Aku masih belum menangkap arah pembicaraannya.

“Bagaimana kalau rasa penasaranmu tidak terjawab? Bagaimana kalau kematianmu justru sunyi?” tanyanya lagi.

“Maksudmu apa?” tanyaku cepat.

“Kamu membayangkan setelah mati, kamu bisa melihat siapa saja yang menangisimu?”

Aku mengangguk.

“Kalau itu tidak terjadi, kamu akan apa?”

Aku terdiam. Tak ada jawaban.

“Bagaimana kalau setelah kematianmu hanya ada kegelapan? Ruang hampa? Di mana kamu tidak pernah bisa melihat dunia lagi?”

“Maksud kamu…?”

Ia tersenyum tipis. “Aku cuma mau bilang, rasa penasaran sering kali hanya berakhir jadi kekecewaaan. Ada hal-hal yang seharusnya cukup disimpan di kepala saja, tanpa pernah diuji.”

“Tapi aku akan tahu nanti.”

“Kalau tidak?” potongnya cepat. Datar. “Kamu mati untuk apa?”

Aku menunduk. Mulutku kelu. Kalimat itu menutup semua jalan untuk membantah.

“Aku tidak tahu,” jawabku pelan.

Ia menatapku lurus. “Berarti kamu belum selesai dengan hidupmu.”

Lututku goyah setelah mendengar kalimat itu. Entah kenapa, tubuhku mendadak terasa berat. Aku ambruk, terduduk di lantai.

Tanganku mengepal, meremas ujung baju. Perempuan itu benar. Selama ini aku mengira bunuh diri bisa memberiku jawaban—jawaban atas rasa penasaran yang tiba-tiba muncul begitu saja. Aku hanya ingin tahu bagaimana kematianku akan berdampak pada orang-orang di sekitarku.

Keluargaku. Teman-temanku. Dan perempuan yang kucintai itu.

Sampai aku lupa satu hal penting. Bagaimana jika setelah mati, aku tidak bisa melihat apa pun? Bagaimana jika semua bayangan itu hanya ada di kepalaku—dan kematian justru merusak seluruh rasa penasaran itu?

Aku memang belum siap mati. Terlalu cepat memutuskan. Hidupku masih panjang, dan aku belum bisa mengakhirinya secepat ini.

Karena jika aku mati, aku tak akan pernah bisa kembali. Dan jika aku mati, aku tak akan pernah lagi menikmati hidup yang masih terasa indah ini.

Aku mengangkat kepala perlahan. Menatap perempuan berwajah samar itu dengan tenang.

Ia masih berdiri di hadapanku. Tanpa senyum. Tatapannya datar, seolah tak peduli pada apa pun di sekitarnya. Namun aku tahu satu hal, ia benar tentang semuanya. Dan karenanya, entah berniat atau tidak, ia telah menggagalkan rencana bunuh diriku.

“Jadi, kalau kamu masih ingin bunuh diri, silakan loncat,” katanya. “Aku tidak akan mencegahmu.”

Aku tersenyum tipis, sekadar memperlihatkan deretan gigiku.

“Tidak.” Aku menggeleng pelan. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.”

Ia memiringkan kepala sedikit. “Apa?”

Aku tak menjawab. Membiarkan rasa penasarannya tetap tersimpan—jawaban itu cukup aku saja yang tahu.

Karena terkadang, memang begitu seharusnya.


Catatan Kecil:

Cerpen ini terinspirasi dari rasa penasaran saya yang tiba-tiba muncul. Dalam banyak film, orang yang sudah meninggal bisa melihat orang-orang yang menangisinya. Dan saya pernah terbayang, “Kalau saya mati, siapa saja ya yang akan menangis untuk saya? Dari rasa penasaran itu, akhirnya cerpen ini lahir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Atas Podium

Retak di Angkringan

Daripada Cuaca Cerah, Aku Lebih Menyukaimu