Daripada Cuaca Cerah, Aku Lebih Menyukaimu
Ada hujan yang turun dari langit, dan ada hujan yang jatuh di dalam hati. Cerita ini tentang keduanya.
Langit muram menggantung rendah,
seolah hendak runtuh bersama derasnya hujan yang mengguyur kota tanpa ampun. Kabut
perlahan mulai muncul, menyelinap di udara dingin, lalu beberapa saat menelan
segalanya dalam putih pekat yang membutakan. Dunia seakan kehilangan bentuknya,
tenggelam dalam kelabu yang mendalam. Lampu-lampu menyala berpendar seperti
lilin yang hampir padam. Jalanan sepi, nyaris tak ada jejak kehidupan manusia. Semuanya
memilih berteduh, menunggu kegilaan hujan mereda. Sesekali mobil melintas dengan
kecepatan penuh, ban yang menyentuh aspal basah menciptakan semburan dari
genangan.
Aku berjalan sendiri di
sepanjang trotoar. Kubiarkan tubuhku diterpa hujan yang kian liar. Seragam
sekolah yang kukenakan telah basah. Angin dingin menusuk-nusuk kulitku, membuat
tubuhku menggigil dalam diam. Jaket pastel pucat yang kupakai tak lagi berguna,
kini sudah berat oleh air, membebani tubuhku yang rapuh.
Pikiranku terus bergelayut membayangkan
kejadian tadi pagi. Dadaku terasa sesak, seolah dunia sekitarku sedang
menghimpitku tanpa belas kasih. Kebingungan mendera, memenuhi benakku dengan tanda
tanya yang tak mudah terjawab. Perasaan kecewa dan frustasi bercampur, menggerogoti
jiwaku hingga tersiksa.
“Teman-temanku nggak
mendukung hubungan kita. Nama kamu itu… Hujan. Setiap kali hujan turun, semua
orang menyalahkanmu. Kamu… seperti pembawa sial.”
Kalimat itu masih menggaung
jelas di telingaku, menghantam batinku dengan rasa sakit yang tak lagi terucap.
Mataku sayu, menunduk dan larut dalam kesedihan yang mendalam, menatap kosong
sepanjang jalanan basah. Suara hatiku terus bergema di sudut terdalam,
mencaci-maki dunia yang begitu jahat padaku. Hanya karena sebuah nama, aku
harus menanggung nasib buruk yang terus berdatangan tanpa henti. Kisah cintaku
tak pernah indah seperti dalam film romantis, selalu saja berakhir cepat dan
tak terduga.
Aku ingin menangis, tapi air
mata tak kunjung keluar, seolah ada sekat yang menahannya untuk tumpah. Semua
ini salah hujan, ia selalu turun di saat orang-orang sedang tidak
menginginkannya. Mereka jadi menyalahkanku, seolah akulah yang membawa
malapetaka bagi mereka. Namaku, Hujani, seakan-akan nama itu mengundang hujan
yang tak pernah diharapkan. Aku membenci nama itu, sama sekali tak indah, hanya
keburukan dan kebencian yang menghampiriku.
Ribuan tetes air menghantam
aspal dengan ritme liar, menciptakan percikan yang membasahi sepatu putihku. Namun,
aku sudah tak peduli-seragam sekolah yang basah, sepatu yang mulai kotor karena
genangan air, ransel hitam yang mungkin sudah membasahi buku-buku di dalamnya. Aku
hanya ingin menghilang, lenyap dari dunia daripada harus menanggung penderitaan
yang seakan tak berujung. Hidup dalam kesendirian itu tidak menyenangkan. Di
antara ribuan, bahkan jutaan manusia, untuk apa jika tak ada satu pun yang mau
mendekatiku.
Kakiku melangkah gontai di
atas garis putih penyeberangan. Lututku lemas, seakan tak sanggup menyokong lebih
lama tubuh yang kian melemah. Hujan yang menghunjam bumi terdengar terlalu
berisik di telingaku, seolah-olah menertawakan kesedihanku. Aku menarik napas
dalam, menciptakan uap tipis yang mengepul dari mulutku. Bayangan wajah
laki-laki itu masih terngiang-ngiang di pikiranku, bahkan wajahnya, yang
terlihat sangat santai saat memutuskan hubungannya denganku. Aku mendecak kesal,
menggigit bibir dengan keras. Namun, aku sadar bahwa semua ini bukan salahnya, melainkan
salahku-karena memiliki nama seburuk itu.
Aku tenggelam dalam kegalauan
yang terus menggulung tanpa henti. Dunia sekitarku perlahan senyap, seakan-akan
diriku terjatuh dalam jurang kehampaan yang amat dalam. Telingaku seolah tuli, semua
suara di dunia seakan menghilang begitu saja. Hujan yang menderu, petir yang
menggelegar, kaki yang menapak jalanan, bahkan detak jantungku sendiri-semuanya
lenyap tanpa suara.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil
menerobos kabut tebal, menyilaukan mataku. Sesaat kemudian, klakson meraung
nyaring, seolah meneriakiku untuk segera menyingkir. Tapi, suara hujan yang
terlalu lebat, menelan segalanya dalam deru yang memekakkan. Aku tidak bergerak,
bahkan di antara sadar dan tidak-membiarkan kebisingan suara mobil itu memudar
di bawah rinai yang tak berujung.
Mobil itu melaju sangat
cepat ke arahku, tak ada waktu untuk menekan rem dalam jarak sedekat itu. Suara
klakson yang semakin samar bergemuruh di udara pekat, berusaha menyadarkanku dari
keheningan yang melumpuhkan. Aku terdiam, tak beranjak dari tempat. Tubuhku
pasrah, seolah siap untuk menjemput ajal saat itu juga. Kepalaku menunduk dalam,
mataku terpejam rapat, tanganku terkulai menyerah.
Aku… aku ingin menghilang.
Tiba-tiba, sebuah tarikan
tegas menarikku cepat. Tubuhku terhuyung ke belakang, menyeretku kembali ke
dunia dengan paksa. Dalam sekejap, seperti ditampar keras, aku tersadar kembali.
Mobil itu tetap melaju dengan cepat, desingan mesinnya menembus angin yang
membelah, seolah tak ada yang berbeda.
Aku terhenyak sejenak,
menyadari tubuhku berada dalam dekapan seseorang. Aku terdiam, mencoba berpikir
atas apa yang baru saja terjadi padaku. Napasku tersengal, tertekan oleh keterkejutan
dan kekhawatiran yang tiba-tiba menyerang. Jantungku berdegup kencang, seolah
nyawa yang nyaris tercabut kini kembali dengan lega. Udara dingin yang awalnya
tak terasa kini mulai menusuk kulitku.
Dengan gerakan pelan, aku
mendongakkan kepalaku, mencoba melihat sosok yang telah menyeretku ke tepi
jalan. Mataku langsung menatap tajam ke arahnya, rasa kesal seketika datang
menghampiri. Dahiku berkerut, alisku tertarik ke dalam, api amarah bergejolak
di dalam dada.
“Renji…” gumamku pelan, namun
dengan tegas, sama sekali tak mengharapkan kedatangannya di sini.
Aku refleks melangkah
mundur, menarik diri dari pelukannya. Kutatap Renji yang sama basahnya
denganku. Tudung jaket putihnya menutupi sebagian wajahnya, menyisakan setengah
wajahnya yang masih sedikit terlihat. Ransel hitamnya ia sampirkan di satu
bahu, menunjukkan bahwa dia barusan menarikku dengan terburu.
Tapi, aku sama sekali tak
berterima kasih padanya. Justru, aku menaruh dendam pada Renji yang telah menarikku
dari jalanan. Seharusnya aku tertabrak mobil dan mati. Namun ia menggagalkannya,
seolah dirinya adalah pahlawan yang menyelamatkan orang dari bahaya. Dia salah.
Akulah yang sengaja mencari bahaya.
“Kenapa kamu menarikku?!
Kenapa kamu ikut campur?!” teriakku keras, mencoba mengalahkan deru hujan yang mengganggu.
Napasku terengah-engah, setengah berusaha menahan amarah yang mau meledak.
Renji menurunkan tudung jaketnya,
membuatku bisa melihat seluruh wajahnya. Ia memandangiku lama, mata coklat
gelapnya seakan menatapku dengan penuh perhatian. Wajahnya begitu tenang,
seolah tak terusik meski aku baru saja meneriakinya.
Ia menarik napas panjang, bibirnya sedikit terbuka sebelum akhirnya ia berbicara,
“Kamu nggak lihat mobil tadi hampir menabrakmu?”
“Biarkan saja!” sergahku.
“Tidak ada yang peduli jika aku mati. Semua orang membenciku!”
Renji tak segera
membalasnya. Ia memilih diam, seperti sedang memberiku ruang untukku bisa mengutarakan
semuanya. Sorot matanya kini semakin dalam, seolah mendorongku untuk terus
melanjutkan kalimatku. Matanya yang menenangkan seperti memberi isyarat bahwa ia
siap mendengarkan semua kepedihanku, semua rasa sakitku selama ini.
“Aku capek, Ren…” ucapku lirih,
suaraku kali ini lebih tenang, gejolak amarah perlahan mereda. “Sejak dulu, mereka
selalu menyalahkanku setiap kali hujan turun. Hanya karena namaku… Hujani, seolah
aku adalah malapetaka bagi mereka. Bahkan pacarku, ia memutuskanku karena
alasan itu.”
Aku mulai terisak, meski air
mata belum luruh. “Aku… aku membenci namaku.” Aku tak bisa lagi menahannya. Air
mata perlahan mengalir lembut di pipi, bercampur dengan air hujan yang membasahi
wajah.
Aku menundukkan kepalaku, malu
memperlihatkan wajah senduku di hadapan Renji. Ia pasti sedang bergumam di
hatinya, merasa aneh melihatku yang menangis sendiri hanya karena sebuah nama.
Tapi Renji tak mungkin mengerti, betapa menyakitkannya diriku yang harus
menanggung kepedihan karena nama ini. Selama hidupku, tak ada seorang pun yang menyukai
namaku. Bahkan aku sendiri kini mulai membencinya, dan mungkin Renji juga
begitu.
“Menurutku tidak seperti
itu, An…”
Aku terdiam sejenak, terkejut
mendengar kalimat yang begitu asing di telingaku. Bahkan aku meragukannya,
seolah kalimat itu tak benar-benar keluar dari mulut Renji. Aku mengangkat
kepalaku perlahan, menatap wajah itu dengan rambut hitamnya yang sedikit berantakan.
“Kamu bilang apa?” tanyaku,
mencoba memastikan apa yang kudengar barusan itu tidak salah.
“Aku tidak membencinya.
Justru, aku menyukai namamu,” ucapnya lembut. Kata-katanya yang menenangkan
berhasil menembus hatiku, membawa kedamaian sesaat.
Aku terkesiap. Mataku menatap
lekat wajah Renji yang terlihat meneduhkan, seolah ada kehangatan di balik sorot
matanya yang tenang. Hatiku gusar, seolah ada sesuatu yang belum pernah
kurasakan sebelumnya menyelimutiku. Selama ini, belum pernah ada seorang pun
yang memuji namaku dengan tulus-baru kali ini. Tapi, keraguan merayapi benakku.
Aku tak begitu yakin, ucapan Renji barusan terdengar sekadar untuk menenangkanku.
“Kamu bohong,” balasku dengan
datar, keraguan masih menggelayut di benakku. “Kalau hujan turun, kamu pasti
akan mengeluhkannya. Semua orang suka cuaca cerah, dan aku yakin kamu juga
begitu.”
Renji tetap diam, membiarkan
keheningan mengisi ruang di antara kita berdua sesaat. Namun matanya menatapku
penuh kelembutan, dan dengan suara pelan, ia berkata, “Daripada cuaca cerah, aku
lebih menyukaimu.”
Aku terdiam. Jantungku tiba-tiba
berdegup kencang, sementara perasaan bahagia perlahan menyusup ke dalam hatiku.
Kata-kata Renji barusan terdengar begitu indah, mengusir semua kekelaman yang selama
ini membelengguku.
“Mereka mungkin
menyalahkanmu saat hujan turun. Tapi aku? Aku nggak peduli cuaca cerah atau
tidak, aku hanya peduli kamu,” sambungnya. “Hujan bukan sesuatu yang buruk, dan
kamu juga bukan.”
Air mata mulai menggenang di
pelupuk mataku, keharuan perlahan menyelimuti hatiku. Untuk pertama kalinya, ada
seseorang yang peduli denganku, menerimaku apa adanya. Bibirku bergetar, ingin membalas
ucapan Renji, tapi kebahagiaan sudah lebih dulu membungkamku dalam dekapannya.
Dadaku terasa sesak, bukan karena dunia yang menghimpitku, melainkan karena kegembiraan
yang meluap, memenuhi setiap sudut hatiku.
Renji meraih kedua tanganku,
menggenggamku penuh kelembutan. Meski kedua tangan kami terasa dingin, namun
ada kehangatan yang mengalir di antara jemari kami. Matanya menatapku dalam, senyum
perlahan terlukis di bibirnya.
“Hujani…” ucapnya pelan, memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan, “Aku yakin, ke depannya… kita akan baik-baik saja.”
Catatan Kecil:
Cerpen ini terinspirasi dari satu kalimat ikonik di anime Weathering With You. Bukan untuk menyalin, tapi untuk menyulam ulang rasa yang tertinggal—dalam kisah lain, dengan kata-kataku sendiri.



Komentar
Posting Komentar