Cinta di Atas Podium

 Ini adalah tentang cinta yang tak dimiliki, tapi tetap disampaikan.

Aula itu tampak penuh. Meja-meja berbaris rapi di setiap sudut. Lampu ruangan bergemerlap indah. Karpet halus menapak di lantai. Udara dingin dari AC membuat semuanya terasa sejuk, juga sedikit mendebarkan.

Pengisi acara masih berbicara di depan. Senyumnya merekah lebar, wajahnya begitu ramah. Orang-orang di sekelilingku fokus menyimak, menikmati acara dengan hati yang tampaknya sudah penuh kebahagiaan.

Di tengah riuh itu, aku merasa asing. Dunia perlahan memudar. Jantungku berdegup kencang. Jemariku meremas kertas yang sejak tadi tak lepas dari tangan. Sesekali aku menatap isinya, membaca ulang, memastikan tak ada satu pun kata yang tertukar. Bibirku terus membisikkan kalimat demi kalimat, berharap nanti aku benar-benar bisa mengatakannya dengan baik.

Aku menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan—berusaha meredakan dada yang terus bergejolak. Cemas, panik, juga bahagia bercampur menjadi satu. Entahlah. Bahkan aku sendiri tak tahu apa yang sebenarnya kurasakan.

Tiga hari lalu, aku diberitahu untuk memberikan sambutan sebagai wisudawan terbaik jurusan. Saat itu aku terkesiap, ada rasa bangga yang menyelimuti hati. Hari yang selalu kuimpikan akhirnya datang. Tapi… aku tak tahu harus berkata apa di atas podium. Tidak ada kata yang ingin kusampaikan di depan banyak orang. Dan aku tidak percaya diri melakukannya.

Aku malu. Aku merasa tidak cukup baik untuk berdiri nanti. Rasanya… aku sudah terlalu tertinggal. Aku merasa gagal menjadi laki-laki yang hebat, karena seseorang sudah lebih dulu melangkah jauh dariku. Dia sudah jauh di depan.

Dan aku malu karena tidak bisa menyamainya.

Suara pengisi acara menggema lantang di speaker. Waktu terasa makin menipis. Jantungku memukul lebih keras setiap detik.

Giliranku disebut. Napasku bergetar.

Aku bangkit dan melangkah menuju podium. Setiap langkah terasa berat, seolah karpet di bawah kakiku ikut bergetar.

Di podium, mikrofon terangkat tepat di depan wajahku. Pandanganku menyapu ruangan. Puluhan mata menatapku dengan tenang.

Aku menelan ludah. Mengeluarkan kertas dari saku. Tangan gemetar saat membuka lipatan. Dada bergemuruh, keringat tipis mulai muncul di kening.

Sambutan ini… bukan lagi soal akademik. Sambutan yang kutulis semalam akan berbeda dari yang lain. Karena aku menuliskannya bukan untuk mereka—orang-orang yang duduk di hadapanku—tapi untuk diriku sendiri, juga untuk seseorang yang sudah lebih dulu melangkah jauh di depan.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang terhormat…” ucapku, pelan dan jelas. Suaraku mengalun lewat speaker, menggema sampai ke setiap telinga di aula itu.

Ini bukan bagian menariknya. Bukan bagian yang ingin kukatakan pada mereka.

“Saya, mewakili teman-teman, mengucapkan terima kasih kepada para dosen yang sudah memberikan ilmunya kepada kami…”

Ini pun bukan bagian yang kuinginkan. Terlalu umum. Terlalu mirip dengan sambutan-sambutan lain.

Bisakah kita langsung ke bagian intinya saja? Sambutan ini kutulis bukan untuk mereka—tapi untuknya.

“Dan secara pribadi,” lanjutku.

Aku terdiam sejenak. Pandanganku berkeliling, mengamati reaksi orang-orang. Barangkali mereka akan terkejut. Barangkali mereka akan mengabaikanku. Barangkali mereka akan merasa kalimatku keluar dari jalur formalitas.

Tapi mereka masih fokus. Tatapan mereka tetap tertuju padaku. Itu kabar baik. Karena setelah ini, mereka akan mendengarkan sesuatu yang tak pernah mereka duga.

“Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada seorang perempuan cantik… yang lahir di bulan Juni, di tanah Sumatera—tanah yang katanya melahirkan banyak bidadari.”

Bisik-bisik langsung terdengar. Orang-orang saling melempar pandang, dahi mereka berkerut. Sebagian tampak heran, sebagian lagi tampak kebingungan.

Aku hanya tersenyum kecil. Sepertinya semua masih terkendali.

Wajah perempuan itu muncul di benakku. Ia memang tidak ada di sini. Langkahnya sudah jauh di depanku, sementara aku tertinggal. Aku tahu, sambutan ini akan terasa sia-sia jika tidak kukatakan di hadapannya. Tapi justru itu alasannya. Aku malu untuk mengatakannya langsung, karena aku sudah tak mampu menyamai langkahnya. Jadi… setidaknya, biarlah aku mengatakannya di depan semua orang.

Bahwa aku pun bisa mencintai. Mencintai seseorang yang mungkin tak akan pernah mendengar kata-kataku. Dengan sambutan ini, kuharap perasaanku bisa sampai padanya—entah kapan.

Dia memang tidak ada di ruangan ini. Tapi wajahnya, senyumnya, dan cantiknya… selalu melebihi jarak. Dekat. Sangat dekat. Selalu terpatri di dalam kepala.

“Dia…” ujarku pelan, “perempuan pertama yang mengubah hidupku. Dan kini… dia juga perempuan terakhir yang kucintai di kampus ini. Aku membuka perjalanan ini karena dia. Dan kututup juga dengan dirinya.”

Ruangan mendadak lebih sunyi.

Di tengah kesunyian itu, aku melanjutkan kalimatku—ungkapan yang selama ini ingin kusampaikan padanya. Tanya-jawab yang sudah lama berputar dalam kepalaku akhirnya menemukan ruang untuk keluar.

Aku menarik napas pelan. Bibirku membuka, lalu kalimat selanjutnya keluar:

Kenapa kamu mencintainya?

Karena seperti kupu-kupu yang hinggap pada bunga—aku terbang kepadanya karena keindahan dan ketenangannya.

Karena seperti bumi yang merindukan hujan setelah kemarau panjang—aku menemukan kesejukanku saat bersamanya.

Kenapa kamu tidak mengejarnya?

Kamu melihat apa perjuanganku.

Aku selalu mengejar… lewat doa-doa yang kuangkat setiap malam. Diam bukan berarti tak mencinta. Aku adalah sedikit dari orang yang berharap ia baik-baik saja saat dunia tampak mengerikan. Bahagianya menjadi kabar surga yang kuterima, dan sedihnya menjadi luka yang menusuk begitu dalam.

Kenapa kamu tidak menyatakan cinta padanya?

Karena aku tak ingin mengganggu hidupnya yang sudah teratur. Tak ingin membebani pikirannya dengan perasaan yang mungkin baginya asing.

Aku ingin mencintainya dalam diam—bukan seperti Qais mencintai Laila. Tapi seperti Ali mencintai Fatimah. Bersabar seperti Zulaikha menanti Yusuf. Setia seperti Yaqub selama empat belas tahun untuk Raheel. Kuat seperti Musa yang menanggung jarak demi Shafura. Dan teguh seperti Adam mencari Hawa di bumi yang asing.

Seberapa cantiknya dia hingga membuatmu gila?

Cantik. Indah. Dan lucu.

Aku suka menulis—bahkan kata-kata dalam sambutan ini pun lahir karenanya. Setiap kata yang kususun menyimpan kecantikannya. Setiap kalimat adalah bayangannya. Setiap paragraf yang tumbuh berlembar-lembar masih belum cukup untuk menjelaskan kesempurnaan yang kulihat padanya.

Tapi dia tidak terlihat cantik bagiku?

Peduli apa aku.

Apakah kamu melihatnya dengan kedua mataku? Apakah kamu merasakannya dengan hatiku? Kalau tidak, maka tak perlu alasan bagiku untuk menjelaskan panjang lebar.

Apa kamu tidak khawatir dia direbut orang lain?

Pernah.

Aku pernah menangis hanya karena takut ia dimiliki orang lain. Namun aku percaya pada Tuhan yang kuandalkan setiap malam. Jika memang untukku, kami akan berjumpa. Di mana pun. Dengan cara apa pun.

Jika tidak… maka biarlah.

Karena itu berarti bahagianya berada di tempat yang bukan aku. Dan aku hanya ingin bersikap seperti Salman Al-Farisi—yang merelakan perempuan yang dicintainya demi sahabatnya sendiri.

Bagaimana jika dia menolakmu dan tidak mencintaimu?

Aku mencintainya, biarlah itu menjadi urusanku. Dia bagaimana denganku, biarlah itu menjadi urusannya.

Sampai kapan kamu akan mencintainya? Melupakannya?

Aku akan terus mencintainya. Selama Tuhan belum mencabut perasaan ini dari hatiku. Selama Tuhan masih menaruh cinta ini padanya. Maka selama itu pula aku akan tetap mencintainya.

Dan aku… akan terus mendoakannya. Untuk kebahagiaannya. Untuk  senyum indahnya. Untuk wajah cantiknya yang selalu kutitipkan dalam doa. Selama itu aku akan bertahan, hingga biarlah Tuhan sendiri yang mengurus sisa hatiku.

Aku terdiam sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam ruangan.

“Dan,” lanjutku pelan, “aku selalu mendoakannya setiap malam. Sampai Tuhan hafal dengan namanya. Sampai malaikat tersenyum mendengarkan permohonanku. Sampai setan membenciku karena cinta suci yang tak bisa disentuhnya.”

Beberapa menunduk. Beberapa tersenyum simpul. Sebagian lainnya tetap menatapku dengan fokus, seolah sedang mendengar sebuah kisah dari negeri jauh.

Aku menarik napas perlahan. Sekelebat wajah cantik itu kembali muncul di kepala. Suaranya—yang dulu selalu memanggilku—masih terasa indah, seperti rekaman yang tak pernah bosan ingin kuputar. Setiap kata yang ia kirim lewat chat selalu menjadi kalimat favoritku. Kenangan-kenangan itu menyeruak, muncul ke permukaan, membuat dadaku hangat. Semua perasaan itu masih tertinggal jelas.

Video ulang tahun yang pernah kubuat untuknya. Es teh yang ia traktir sebagai balas budi. Dan… saat ia menghubungiku hanya karena bingung materi. Dengan senang hati aku selalu membantunya, kapan pun diminta.

Meski semuanya kini hanya kenangan, tapi akan tetap kuingat hingga bertahun-tahun ke depan. Detailnya. Waktunya. Momennya. Dan ekspresi lucu, menggemaskan, yang dulu sering ia tunjukkan padaku.

Perlahan, senyum tipis muncul di bibirku. Meski ini adalah akhir… aku bahagia. Pernah memiliki awal bersamanya sudah lebih dari cukup dalam hidupku.

Sebagai kenangan indah—yang tak mungkin bisa kulupakan.

“Aku suka menulis,” lanjutku. “Dan karakter yang paling kusukai… adalah dia.

“Tiap kata menyimpan cantiknya. Tiap kalimat penuh prosanya. Dan tiap lembar paragraf adalah penciptaannya. Jika wahyu ditulis untuk diteruskan, sejarah ditulis untuk dikenang, ilmu ditulis untuk mengubah dunia… maka aku menuliskannya agar keindahannya tidak hilang ditelan waktu.”

Aku menatap kertas di genggaman. Syair-syair Arab yang kupilih semalam—pendek, indah, dan mampu menggetarkan hati—terbaris rapi di sana.

Pertama.

“Salju adalah hadiah musim dingin. Matahari hadiah musim panas. Bunga hadiah musim semi. Dan kamu… adalah hadiah hidupku.”

Kedua.

“Hati terindah adalah hatimu. Kata terindah adalah bisikanmu. Dan hal termanis dalam hidupku adalah cintamu.”

Ketiga.

“Orang yang mencintaimu melihat keindahan pada dirimu… yang tak pernah kamu lihat pada dirimu sendiri.”

Aku kembali menatap ke depan. Semua orang masih terdiam, menyimak tanpa bergerak. Tak ada suara selain suaraku. Seolah dunia sengaja memberi ruang hanya untukku, untuk membiarkan setiap perasaan yang kupendam keluar satu per satu.

“Dan aku,” ujarku pelan, “tak pernah mengungkapkan cinta bukan karena takut. Tapi karena aku tidak ingin membebani hidupnya. Seorang perempuan sering dipaksa memilih antara lelaki mapan yang memberinya kepastian… atau lelaki yang ia sayangi, tapi tak tahu kapan akan siap. Maka aku memilih diam, agar hidupnya tetap ringan.”

Aku menatap podium untuk terakhir kalinya.

Tanpa kusadari, mataku mulai basah. Hangat. Jari-jariku gemetar mencengkeram ujung kertas. Bibirku bergetar, menahan gejolak yang sejak tadi ingin pecah.

Aku tahu, kalimat berikutnya adalah akhir. Sudah selesai, semuanya. Tak ada lagi wajah cantik itu. Tak ada lagi senyum manis yang dulu terasa begitu dekat. Tak ada lagi suara lembut yang selalu kutunggu setiap hari.

Setelah acara ini berakhir, maka berakhir pula ceritaku… tentangku, tentang cintanya.

“Aku… selalu berdoa pada Tuhan untuknya,” suaraku terdengar parau, tapi tetap jelas.

“Ya Tuhan. Aku mencintai salah satu makhluk-Mu yang sangat cantik. Dia adalah perempuan yang lucu dan menggemaskan. Dia adalah perempuan yang sangat hebat sekaligus… menyebalkan.”

Aku terkekeh kecil, dan beberapa orang ikut tertawa pelan. Tapi menyebalkannya dia, tetap menjadi candu yang tak pernah ingin kulepaskan.

“Tolong lindungi dia. Jagalah senyum indahnya. Jagalah tawa bahagianya. Dan jagalah wajah cantiknya agar tetap bisa bersinar di dunia.

“Lindungi perempuan itu dari rasa sedih dan kecewa. Jangan biarkan pikirannya kembali berat oleh masalah-masalah yang menghajarnya. Dia terlalu sering overthinking… dan aku tak ingin ia merasa seperti itu lagi. Dia sudah terlalu lelah menghadapi dunia yang tidak selalu baik-baik saja.

“Lindungilah perempuan itu dari orang-orang yang hanya akan memanfaatkan dan menyakiti hatinya. Bahkan jika itu termasuk aku sendiri… maka jauhkanlah aku darinya. Aku tak peduli. Aku tak akan protes. Karena yang ingin kulihat adalah kebahagiaannya—senyum cerahnya, wajah berserinya.

“Tetaplah bersamanya. Tetap di sisinya. Bimbinglah ia agar tidak tersesat. Aku tak mungkin bisa menghiburnya saat ia sedih. Tak mungkin bisa membuatnya tertawa atau bahagia lagi. Tak bisa menjaga setiap langkahnya dari keburukan. Tapi Engkau… hanya Engkau yang bisa. Maka aku menitipkan perempuan itu pada-Mu.”

Aku menutup kertas. Mengusap ujung mata yang basah, menahan air mata yang hampir jatuh.

Ruangan kembali bernapas.

“Terima kasih,” kataku, pelan.

Aku turun dari podium, melangkah di antara tepuk tangan yang memenuhi ruangan besar ini.

Akhirnya, hatiku bisa menyampaikan perasaan yang sudah begitu lama kupendam. Akhirnya, aku benar-benar mengatakannya—dengan ikhlas, menerima, dan pasrah.

Aku mencintainya… dengan cara paling indah yang bisa kulakukan. Karena dia pun begitu indah. Dan karena itulah aku harus menjaganya.

Semoga suatu saat, dia membaca kisah ini.


Catatan Kecil:

Kisah ini mungkin fiksi, tapi rasa di dalamnya sungguh nyata. Perpisahan ini pun nyata. Dan aku ingin menuliskan namanya dalam sebuah karya—untuk dikenang, dan untuk dikenal banyak orang. Agar mereka tahu, bahwa pernah ada seseorang yang mencintainya dengan tulus... dalam diam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Retak di Angkringan

Daripada Cuaca Cerah, Aku Lebih Menyukaimu