Larangan Abi
Tak semua larangan adalah benci. Kadang, itu hanya cinta yang tak tahu cara bicara.
Suara ponsel yang dibanting keras ke lantai menggema seisi ruangan. Dentuman
casing logam yang menghantam keramik terdengar tajam, membuat napas semua orang
tertahan. Pria tua itu, yang biasa dipanggil Abi, baru saja membanting ponsel putrinya.
Wajahnya sudah diliputi dengan amarah yang masih terbendung. Dahinya berkerut
tajam, menarik rambut yang mulai keluar uban itu ke dalam. Napasnya memburu,
matanya menatap tajam ponsel yang layarnya sudah retak itu.
Di belakangnya, Ummi, terkejut melihat suaminya yang mulai marah. Wajah
yang biasanya penuh kelembutan dan kasih sayang itu, kini berubah diliputi
kecemasan dan kekhawatiran yang terasa mencekam. Tangannya yang bergetar
mencoba untuk meraih bahu suaminya, berniat menenangkannya, namun ia sendiri
terlalu takut dengan kejutan yang terus berdentam di dadanya.
“Abi! Kenapa HP Fatim dibanting?” ucap sang gadis sedikit membentak, suaranya
bergetar menahan rasa marah melihat ponsel miliknya dibanting begitu saja di
depan matanya.
Fatim duduk bersimpuh, tangannya yang gemetar meraih ponselnya di
lantai. Ditatapnya ponsel itu dengan layar yang sudah penuh retakan. Di
sudutnya, ada celah kecil di mana bodi ponsel sedikit terbuka, memperlihatkan
bagian dalam yang seharusnya tertutup rapat.
Fatim melihat ponselnya dengan mata yang sudah berlinang air mata. Perasaan
sedih dan marah bergumpal menjadi satu, seakan menggulung di dalam hatinya. Ia segera
menyalakan ponselnya, berharap masih bisa hidup meski dengan kondisi yang sudah
tak terselamatkan. Layar kaca itu berhasil menyala, meski dengan cahaya yang
berkedip-kedip dan garis-garis liar yang menggores tampilan.
Gadis itu menghela napas sejenak di tengah-tengah keributan yang melanda
pikirannya, seperti mendung pekat yang menggantung di siang hari. Dunia
sekitarnya seolah berhenti begitu matanya melihat ke layar, menampilkan wallpaper
dirinya dengan seorang laki-laki. Wallpaper itu memperlihatkan swafoto Fatim
yang tersenyum bahagia bersama pacarnya, Raka.
Namun siapa sangka, foto yang Fatim jadikan sebagai wallpaper ponselnya,
justru membawa keributan besar di keluarganya. Abi, yang secara tak sengaja
melihatnya, langsung terkejut dan marah. Ayah dari gadis itu langsung menginterogasinya
dengan galak, menuntut penjelasan.
Orang tua Fatim merupakan orang yang sangat taat beragama. Mereka tak
segan-segan untuk meluruskan sesuatu yang salah dari ajaran agama, bahkan jika
itu harus dilakukan dengan ketegasan. Dan Fatim, anak satu-satunya dan seorang
perempuan, membuat keduanya merasa perlu mendidik keras dan memberikan
batasan-batasan tegas dalam hidupnya. Terutama jika itu berhubungan dengan
laki-laki, Abi dan Ummi mengawasi dengan ketat agar putri mereka tidak terjerumus
dalam hubungan yang haram, dengan orang yang bukan mahram-nya.
Karenanya, siang ini, ketika Abi melihat foto putrinya bersama dengan
laki-laki lain, ia langsung marah besar dan membanting ponsel Fatim ke lantai
tanpa ragu. Bahkan sebelum putrinya sempat menjelaskan, sebelum ia membela diri.
“Siapa nama laki-laki itu tadi? Raka?” tanya Abi, suaranya
bergetar, mencoba menahan emosi di hatinya yang hampir meledak. “Putuskan dia
sekarang!”
Fatim tersentak, terkejut melihat Abi yang baru saja meneriakinya.
Bahkan tubuhnya membeku sepersekian detik, tak berani melawan ayahnya yang
sudah merah padam. Namun, perintah untuk memutuskan Raka membuat hatinya
berdesir. Jantungnya berdebar kencang, darahnya mendidih dan mengalir deras, kemarahan
yang membuncah memberinya keberanian untuk melawan orang tuanya.
“Nggak mau!” Teriakan Fatim menggema seisi ruangan, membuat
Abi dan Ummi terkejut. Mereka terpaku, tak percaya bahwa putrinya sudah cukup berani
untuk membentak mereka.
“Pokoknya Fatim nggak mau putus sama Raka! Fatim
sayang sama dia, Bi,” sambungnya, suaranya terdengar bergetar. Tangannya
gemetaran, rasa takut mulai menggerogoti dirinya. Dalam hatinya, ia merasa
bersalah karena sudah membentak orang tuanya. Namun di sisi lain, ia juga tak
bisa tinggal diam ketika dirinya harus putus dengan kekasihnya.
“Abi tidak peduli! Pokoknya kamu harus putus sama dia!”
ucap Abi dengan tatapan tajam, mengintimidasi. Napasnya memburu, menembus udara,
seolah menekan keberanian Fatim yang mulai goyah.
“Kenapa? Kenapa Fatim harus putus sama Raka? Kenapa
Abi begitu keras melarang Fatim berpacaran dengannya?” balasnya tak kalah keras,
tak gentar dengan gertakan Abi yang mendera.
“Bukan Abi yang melarang, tapi Allah,” ucapnya.
“Mana? Nggak usah bawa-bawa nama Allah. Sebenarnya Abi
yang melarang, kan? Abi takut kalau Fatim kenapa-napa sama Raka, kan?” suaranya
menggelegar, bergema di udara. Fatim mulai kehilangan kendalinya. Kemarahan
sudah membakar dada, emosi berhasil menguasai dirinya, ia sudah berani
menantang Abi tanpa ragu.
“Astaghfirullah…” ucap Abi pelan. Tangannya mengelus
dada, ditariknya napas cukup panjang sebelum menghembuskannya dengan berat. Pria
tua itu sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ia sangat terkejut dengan perilaku
putrinya yang berubah, yang sudah berani membangkang dan melawannya, jauh dari putri
yang dikenalnya selama ini.
Fatim tersenyum tipis, seperti menikmati kemenangan kecilnya
karena dugaannya benar. “Benar, kan? Sudah Fatim duga kalau semua ini cuma akal-akalan
Abi saja.”
“Istighfar, Fatim! Surat An-Nisa ayat 32,” seru Abi
tegas, mencoba memberi peringatan padanya. “Janganlah kamu mendekati zina,
karena zina itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk. Itu bunyi ayatnya,
Allah yang melarangnya, bukan Abi!”
“Tapi itu zina, Bi. Fatim nggak akan berzina dengan
Raka,” jawab Fatim tegas. Ia tetap teguh pada keyakinannya, tak akan pernah
sekalipun menuruti perintah Abi untuk putus. Bahkan jika menurut Abi
perbuatannya itu salah, tapi selama ia bisa menjaga diri, baginya itu tidak
masalah.
“Jangan mendekati zina, Fatim. Pacaran itu mendekati zina, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram, dan itu dosa,” ucap Abi diiringi napas berat. Alisnya berkerut, wajahnya tampak letih, ia sudah lelah berbicara dengan putrinya yang keras kepala.
Fatim tak mau kalah, ia masih memiliki sejuta alasan untuk membenarkan perbuatannya. “Ayolah, Bi. Zaman sekarang sudah beda. Semua orang juga pacaran. Jangan norak banget, deh!”
“Shollu Alan Nabi…” tiba-tiba Abi ucapkan, melantunkan
sholawat di tengah-tengah ketegangan yang memuncak. Suaranya yang lembut
membawa ketenangan, seolah-olah ada hawa sejuk di sekitar mereka.
“Allahumma Sholli Alaih…” balas Fatim dan Ummi
hampir bersamaan, melantunkan sholawat sebagai jawaban.
Keheningan memenuhi udara dalam sekejap. Tak ada yang berbicara
setelah lantunan sholawat itu, hanya ketenangan yang menyelimuti. Semuanya
diam, lebih pada memilih untuk menenangkan diri. Hanya helaan napas yang
terdengar di antara kesunyian itu, berusaha meredam amarah dan ketegangan yang
membelenggu tadi.
Abi tampak mulai tenang. Wajahnya tak lagi memerah, mulutnya
beristighfar beberapa kali dengan suara pelan. Tangannya mengelus dada
perlahan, seperti berusaha memadamkan api amarah yang membakar di dalam dada.
Dihelanya napas panjang, seolah menghempaskan penyesalan dan sikap buruk yang telah
ia lakukan, membuangnya bebas ke udara kosong.
Umi, yang sedari tadi tidak ikut campur dalam
pertengkaran antara suaminya dan putrinya, kini bisa bernapas lega. Suasana tegang
yang seolah menghimpit dadanya sejak tadi, kini mulai kembali tenang, memberikan
rasa damai yang mendalam. Wanita tua itu hanya bisa menonton dalam diam sejak
tadi, merasa cemas dan khawatir, bingung harus memihak pada siapa. Hatinya
seolah terbelah dua, antara membela kebenaran yang suaminya katakan, atau menjadi
sosok ibu yang melindungi anaknya.
Sementara Fatim, ia menundukkan kepalanya, cukup dalam.
Bibirnya mengatup rapat, memilih diam, sambil berusaha menenangkan amarah yang
bergejolak di dalam hatinya. Matanya menatap kosong ke lantai, tak berani
menatap Abi dan Ummi di depannya, setelah semua perbuatan kasarnya pada mereka.
Kesunyian ini berhasil menghentikannya bertindak lebih jauh, memberi ruang
terbuka agar pikirannya bisa berpikir teratur dan jernih.
“Rasulullah dulu berjuang mati-matian untuk mengangkat
derajat wanita yang telah lama direndahkan oleh laki-laki. Mereka dijadikan
sebagai objek nafsu, dan Rasulullah berusaha keras menghapuskan kejahatan itu,”
ucap Abi, memecah keheningan. Suaranya terdengar penuh keyakinan, berusaha
menembus hati putri kesayangannya, berharap ia sadar.
“Jadi, Abi mohon, Fatim,” lanjutnya dengan nada lembut
dan tulus, “Putuslah dengan Raka. Abi ingin menjaga harga dirimu, martabat, dan
derajatmu. Jangan biarkan dirimu dijadikan seperti mainan, yang hatinya bisa
dimainkan seenaknya oleh laki-laki lain.”
Fatim terdiam. Benaknya masih mencoba mencerna perkataan
Abi. Hatinya terguncang, bertarung dengan dua keinginan yang saling
bertabrakan: memutuskan Raka seperti keinginan Abi atau tetap mempertahankan
hubungannya. Ruangan yang cukup luas itu kini mulai terasa sesak baginya, seolah
ada dinding besar yang menekan dadanya. Pikirannya terpecah, bimbang dan
terjebak dalam pilihan yang cukup sulit, ia harus memilih salah satunya.
Perempuan cantik itu menghela napas dengan susah payah,
tubuhnya terasa tertekan, seolah udara yang masuk begitu berat. Tangannya
menggenggam erat ponselnya, tubuhnya bergetar, dan keraguan mulai merayapinya.
Ummi, yang melihatnya dengan perasaan sedih, segera mendekati putrinya. Ia
memegangi bahu Fatim dengan lembut, mengelusnya, mencoba menenangkan gadis yang
tampaknya tak lagi kuat menahan beban itu sendirian.
“Sudah tidak apa-apa ya, Nak. Ummi ada di sini untukmu,”
ucap Ummi parau, seperti menahan kesedihan yang tak terbendungkan. “Apa yang
dikatakan Abi itu benar. Kita semua sayang kamu, dan kita ingin melindungimu
dengan baik.”
Tangis Fatim pecah saat Ummi memberikan pelukan hangat
padanya. Air mata mengalir deras membasahi wajahnya, bersama dengan beban berat
yang menyesakkan di dada. Tangannya balas merengkuh tubuh ibunya, memeluknya
dengan erat, seolah tak mau kehilangan kehangatan yang menenangkan itu. Ummi
membelai rambutnya dengan lembut, menenangkan hati kecil putrinya sambil mengucapkan
kata-kata yang begitu menyentuh. Fatim semakin terisak mendengarkan ucapan
ibunya, ketulusan yang diberikannya terasa begitu dalam dan mengalir ke dalam
dirinya.
“Maafkan Fatim, Mi. Fatim salah dan durhaka karena
sudah berani melawan Abi dan Ummi. Fatim janji, setelah ini Fatim akan putus
dengan Raka dan tidak akan pernah pacaran lagi,” katanya dengan suara bergetar,
terdengar tidak cukup jelas di tengah-tengah isak tangisnya yang semakin keras,
namun Abi dan Ummi bisa menangkap maksud perkataan putrinya dengan baik.
Abi tersenyum haru, menyaksikan istri dan anaknya saling berpelukan, saling berbagi kehangatan dan cinta. Pria tua itu tak tahan hanya menjadi penonton, ia ingin ikut bersama dalam kehangatan itu. Dengan perlahan, ia melebarkan tangannya, lalu merangkul erat dua perempuan yang paling ia cintai.
Dalam pelukan hangat itu, waktu seolah berhenti, memberikan ruang dan waktu pada keluarga kecil itu. Hanya ada mereka bertiga: Abi, Ummi, dan Fatim, yang saling mengikatkan diri dengan cinta hangat yang tak terucapkan. Hati mereka saling tertaut, menciptakan keharmonisan yang tak akan lekang oleh waktu.
Catatan Kecil:
Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku antologi hasil lomba yang diselenggarakan oleh Yakesma NTB & Teman Menulis dengan judul buku "Sejumput Asa di Senja Ramadan".



Komentar
Posting Komentar