Bel Sepeda Mbah Karto

Bel sepeda itu seharusnya tak lagi berbunyi. Tapi malam ini, suaranya kembali terdengar.

Suara bel dari sepeda ontel tua itu bergema di sepanjang jalan, membelah keheningan desa. Pemiliknya, Mbah Karto, mengayuh dengan santai diiringi tawa seraknya yang berat. Bunyi kring… kring… dari bel sepeda disambut ceria oleh anak-anak, menjadi hiburan kecil bagi desa mereka. Kakek tua kurus itu tersenyum menanggapi, ikut tertawa bersama dengan orang-orang yang dilewatinya.

Kring… kring….

Suara bel dari logam itu terus berbunyi di setiap waktu, dari pagi hingga malam, sampai pemiliknya merasa lelah sendiri menaiki sepedanya. Hampir semua orang mengenalnya sebagai kakek tua yang selalu mengitari desa dengan sepeda bututnya dan suara khas bel yang berdenting di udara. Seolah-olah kehadiran Mbah Karto sudah menjadi bagian dari kehidupan desa, yang memberi warna dan keceriaan di tengah keseharian yang tenang.

Aku sendiri juga termasuk di antara mereka yang menikmati dan menyukainya. Suara bel sepeda itu membawa ketenangan dalam diriku, seolah-olah aku tersihir oleh melodi lembutnya. Ada kehangatan dan keakraban yang terpancar, seakan memberi isyarat bahwa semuanya masih baik-baik saja.

Tapi, pagi ini, Mbah Karto telah meninggal.

Kabar duka itu mengguncang satu desa, sosok penting itu telah pergi dari kehidupan mereka. Orang-orang yang dulunya merasa bahagia akan kehadirannya, kini merasa terpuruk dengan kepergiannya yang tiba-tiba. Semua merasa kehilangan sosok yang telah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Aku pun merasakannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar merasa kehilangan. Kakek tua itu, dengan sepeda butut dan bunyi bel khasnya, selalu ada di setiap waktuku. Dan kini, suara bel itu tak akan terdengar lagi menyusuri jalanan desa.

Kakek itu telah pergi, membawa serta denting lembut bel sepedanya.

Suasana desa pagi itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya, seolah diselimuti kabut duka yang pekat.

*****

Malam ini, aku sendirian di rumah,  ditemani kesunyian. Ayah dan bunda berangkat ke luar kota sore tadi untuk urusan pekerjaan. Mereka mengajakku untuk ikut, tapi aku menolak. Perjalanan yang sangat jauh itu selalu terasa melelahkan dan membosankan, dan aku tidak suka hal-hal seperti itu.

“Kamu yakin nggak mau ikut? Kami khawatir kamu sendirian di rumah,” kata Bunda sore tadi. Wajahnya tampak cemas, seolah masih ragu untuk meninggalkanku sendiri di sini.

“Rini yakin, Bun,” jawabku lembut, menggenggam tangan Bunda dengan mantap. “Rini kan sudah besar, sudah SMA. Bisa jaga diri, kok. Lagi pula, tetangga di sini banyak. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Bunda masih tampak ragu. “Kenapa kamu nggak mau ikut?”

“Rini masih harus sekolah, Bun. Kalau sampai izin terus, bisa-bisa nggak naik kelas, lho. Bunda mau punya anak tinggal kelas?” ucapku santai, diselingi tawa kecil di akhir kalimat. Aku sengaja sedikit meledek, mencoba menghibur Bunda agar tak terlalu khawatir.

Tapi, setelah kupikir-pikir lagi, mungkin seharusnya aku tadi ikut saja. Apalagi, urusan mereka di luar kota cukup lama—lima hari. Dan sekarang, aku benar-benar sendirian di rumah. Tanpa siapa pun.

Sebenarnya, ini bukan hal baru. Aku sudah terbiasa sendirian di rumah setiap kali orang tuaku pergi. Tapi malam ini… entah kenapa, rasanya berbeda. Ada sesuatu yang terasa ganjil, seolah ada yang mengintai diam-diam dari balik kegelapan malam.

Tiba-tiba, aku teringat—Mbah Karto sudah meninggal. Suara bel sepedanya yang dulu akrab di telingaku, malam ini tak lagi terdengar. Padahal biasanya, suara bel itu yang menemani malam-malamku saat aku sendirian seperti ini. Tapi sekarang, semuanya terasa aneh, seperti ada ruang yang kosong, sunyi, dan tak tergantikan.

Aku segera menggeleng cepat, mencoba mengusir rasa gelisah yang sempat merayap masuk. Tak ada yang perlu ditakutkan. Aku sudah terbiasa sendiri di malam hari. Kenyataan bahwa Mbah Karto telah tiada, tak cukup untuk mengusikku. Seharusnya.

Perutku tiba-tiba berbunyi, seolah menuntut untuk segera diisi. Aku baru ingat, sejak sore tadi aku belum makan apa pun. Tanpa pikir panjang, aku langsung melangkah ke dapur, mencari sesuatu yang bisa dimakan. Tapi hanya ada mi instan. Aku mendengus kesal, merutuki diriku sendiri yang lupa membeli makanan sebelum malam terlanjur datang.

Dengan malas, aku segera mengambil panci dan mengisinya setengah penuh dengan air. Kutaruh di atas kompor, lalu menyalakan api yang langsung menyuar. Tanganku cekatan tak sabar membuka bungkus mi instan. Perutku terus berbunyi, membuatku nyaris kehilangan akal.

Air di panci mulai mendidih.

Tiba-tiba…

Kring… kring….

Jantungku serasa mencelat. Napasku tertahan. Ketakutan tiba-tiba menjalar di tubuhku, menyusup masuk ke dalam tulang. Bulu kudukku berdiri.

Itu… bukankah itu suara bel sepeda Mbah Karto?

Dengan ragu, aku melangkah mendekati jendela, mencoba mengintip suara yang terdengar dari luar rumah. Kakiku bergetar, lututku lemas. Ketakutan terus menggerogoti di setiap langkah pelanku.

Perlahan, dengan napas tak beraturan, tanganku menyibak tirai jendela. Mataku menelisik keluar, menembus kaca yang sedikit berembun. Tapi… tak ada apa-apa di sana. Hanya jalanan desa yang lengang, temaram, dan sepi seperti biasa.

Aku menghela napas panjang, lega. Ketakutan yang tadi mencengkeram, perlahan luruh dari dadaku.

“Ternyata cuma salah dengar,” gumamku pelan, mencoba menenangkan diri.


Aku kembali ke dapur dan mematikan kompor. Ketegangan barusan sukses mengusir rasa laparku—masih keroncongan, tapi selera makanku lenyap. Bungkus mi yang sudah terbuka kubiarkan tergeletak begitu saja di meja.

Tanpa banyak pikir, aku melangkah menuju kamar mandi, menggosok gigiku. Rasanya aku hanya ingin malam ini cepat berlalu. Lebih baik tidur saja.

Tapi—

Kring… kring….

Suara itu lagi.

Tubuhku menegang. Rasa gigil menyelimuti sekujur tubuhku, seketika. Jantungku berdetak tak karuan. Aku berusaha meyakinkan diri, ini pasti cuma halusinasi.

Mbah Karto… sudah meninggal pagi tadi. Tak mungkin—tak mungkin bel sepedanya masih berdenting malam ini.

Namun, keyakinan itu rontok seketika saat denting kedua kembali terdengar.

Kring… kring….

Aku buru-buru menyelesaikan sikat gigiku. Mulutku cepat menyesap air, berkumur, lalu memuntahkannya, menyisakan busa yang masih menempel di sudut bibir.

Tak ada waktu. Kuseka busa itu dengan punggung tangan, lantas bergegas menuju kamarku.

Aku langsung menutup pintu kamar, menguncinya dalam satu gerakan cepat. Aku gegas menuju tempat tidur, menarik selimut, menutupi seluruh tubuhku—seolah itu benteng terakhir dari rasa takut yang mengejar.

Dadaku naik-turun. Jantungku berdebar hebat. Napasku tak beraturan. Suara bel itu tak terdengar lagi. Hening. Terlalu hening. Yang terdengar hanya gemuruh jantung dan desah napasku sendiri—kasar, pendek, tak stabil.

Kesunyian ini justru terasa lebih mencekam, seperti ada sesuatu yang sedang menungguku di luar sana. Mataku terpejam rapat, terlalu takut untuk melihat dunia di luar selimut ini. Kupasang telinga, mencoba menajamkan pendengaran. Namun tetap saja, tak terdengar apa pun.

Aku menelan ludah—getir.

Meski ragu-ragu, perlahan kusibak selimut, hanya sedikit, cukup untuk mengintip dunia luar dari celah sempit. Mataku menyipit, kelopak mata yang gemetar berusaha terbuka. Ketakutan masih menggantung di dada, tapi rasa penasaran memaksaku melihatnya. Sekadar memeriksa apa yang ada di hadapanku.

Aku menghela napas lega. Tak ada apa-apa di sana.

Cahaya lampu kamar menyilaukan pandangan, membuat terang seisi kamar. Napasku mulai kembali teratur. Jantungku yang tadi berdetak liar, perlahan kembali normal.

Tapi ketenangan itu belum sepenuhnya utuh. Masih ada sisa-sisa ketegangan yang menggantung di dada.

Mataku menyapu setiap sudut kamar, mencoba tetap waspada. Semuanya tampak normal. Setidaknya untuk saat ini.

Kring… kring….

Jantungku seketika melonjak. Mataku membelalak—kaget, panik, terpaku. Suara itu datang begitu tiba-tiba, menggetarkan seluruh tubuh.

Ketakutan menyergap. Suara itu… kali ini lebih dekat—jauh lebih dekat. Seolah sedang berdiri di balik pintu. Menunggu.

Lalu, tiba-tiba—

Lampu padam.

Gelap menguasai ruangan. Pandangan menghitam. Ketegangan kembali mencengkeram tubuhku lebih kuat dari sebelumnya.

Bulu kuduk berdiri. Bahu menegang. Dalam panik, kutarik kembali selimut dengan cepat, menelungkupi tubuhku ke dalam perlindungan terakhir. Sekali lagi.

Kring… kring… Kring… kring….

Bel sepeda itu terus berdenting. Liar. Tak beraturan. Mengoyak keheningan dalam gelap.

Aku menggigit bibir. Menahan napas. Keringat dingin mengalir pelan di pelipis. Mataku terpejam lebih rapat.

Tak boleh ada gerakan.

Tak boleh ada suara.

Di dalam selimut, aku bertahan mati-matian. Ketakutan menghimpit terlalu lama, terasa seperti siksaan yang tak berujung.

Bel itu terus berdenting. Lagi. Dan lagi. Tanpa henti. Seolah sengaja mempermainkan pikiran. Mengoyak hatiku perlahan.

Tanganku meremas dada, mencoba menahan detak jantung yang makin menggila. Suasana begitu mencekam. Napasku terasa berat, udara di sekelilingku seperti menipis.

Sesak.

Sangat sesak.

Tanpa sadar, air mata menetes. Hatiku menjerit, meminta pertolongan—siapa pun… tapi tak ada satu pun di sini. Hanya aku. Dan kegelapan.

“Kumohon… berhentilah,” bisikku lirih, dengan suara bergetar, patah oleh ketakutan.

Aku hanya gadis biasa. Gadis yang baik. Aku tak pernah berbuat salah—kepada siapa pun.

Kepada Mbah Karto…

Aku bahkan selalu menyukai suara bel sepedanya. Tapi kenapa—kenapa setelah ia meninggal, suara itu justru menghantuiku?

Dan… suara itu berhenti.

Seolah mendengar permohonanku, denting bel itu lenyap begitu saja. Menyisakan keheningan yang berat.

Segalanya kembali sunyi. Senyap. Tenang. Tapi ketegangan itu… masih ada. Mengendap. Belum benar-benar pergi.

Aku menarik napas panjang, mencoba meredakan guncangan di dalam dada.

Kupikir… mungkin dengan menyalakan lampu kamar, aku bisa sedikit tenang. Setidaknya, mengusir kegelapan ini.

Tapi keraguan tiba-tiba menyelinap, haruskah aku melanjutkan?

Namun, ada sesuatu di dalam diriku yang mendorong. Kecil. Tapi cukup kuat untuk memaksaku bergerak.

Perlahan, dengan tangan gemetar, aku meraih ponsel. Kutekan ikon senter di layar—sekejap, cahaya putih memancar, membelah kegelapan kamar. Kusorotkan ke setiap sudut ruangan. Satu per satu. Tak ada yang mencurigakan.

Aku menghela napas. Kali ini lebih panjang. Lebih lega. Suara bel itu benar-benar sudah pergi. Ketegangan yang mencengkeram tubuh dan pikiranku… perlahan menghilang.

Aku melangkah pelan dalam kegelapan, meraba-raba dinding, menyalakan saklar.

Cahaya menyala.

Silau.

Meruntuhkan kegelapan yang sejak tadi menguasai ruangan.

Kring… kring….

Suara itu—berbunyi tepat di sebelah telingaku.

Napasku terhenti. Tubuhku membeku.

Sebelum sempat berbalik...

Sebuah tangan keriput menyentuh pundakku.


Catatan Kecil:

Ide cerita ini muncul dari suara bel sepeda yang kudengar saat malam, saat aku sendiri di rumah. Suara itu cukup membuatku berpikir… bagaimana jika bel itu berbunyi bukan karena manusia?


Komentar

  1. bagus banget kak, ikut merinding pas bagian akhirnya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Atas Podium

Retak di Angkringan

Daripada Cuaca Cerah, Aku Lebih Menyukaimu