Kurban yang Tak Tercatat
Idul Adha bukan hanya tentang kambing dan sapi yang disembelih, tapi juga tentang hati yang diam-diam rela melepaskan meski tak pernah dicatat.
Siang itu, matahari di hari
Idul Adha bersinar terik, memantulkan cahaya ke aspal yang terpanggang. Suara
takbir masih samar-samar terdengar dari masjid dan surau di setiap gang, bercampur
aroma khas daging segar yang menyusup dari berbagai sudut kampung.
Elan sudah berdiri di depan
halaman masjid, mengenakan kaus putih yang mulai basah oleh keringat. Di
tangannya, ponsel tergenggam tanpa benar-benar ia lihat. Matanya lebih tertarik
pada pemandangan di depannya. Ramai warga yang tengah sibuk mengurus daging kurban.
Kelompok bapak-bapak bertugas memotong daging, sementara ibu-ibu menimbang dan
memasukkannya ke dalam plastik putih—siap untuk dibagikan kepada warga.
Tak lama, dari keramaian
yang penuh kesibukan itu, muncullah Raya. Perempuan itu berjalan tergesa, wajahnya
teduh meski matahari menyengat. Ia tersenyum hangat begitu melihat Elan, sambil
menunjukkan beberapa plastik putih yang sedang dibawanya—berisi potongan daging
kurban.
Elan mengangkat kedua alisnya,
lalu menyambut Raya dengan senyum hangat yang sulit ia sembunyikan. Raya yang kerepotan
membawa banyak plastik tampak lucu di matanya—begitu lucu hingga membuatnya
spontan tersenyum tanpa diminta.
“Sudah semua yang dibawa?”
tanya Elan sambil mengulurkan tangan. Menawarkan bantuan membawa sebagian
plastik dari tangan Raya.
Raya mengangguk lalu memberikan
setengah dari barang bawaannya. “Sudah. Tugas kita hari ini nganterin ini aja.”
Tanpa membuang waktu, mereka
melangkah pergi bersama, mendatangi satu per satu rumah warga—menjalankan tugas
mereka hari ini.
Sudah menjadi rutinitas
mereka bersama setiap Idul Adha: membagikan daging kurban kepada warga.
***
Dengan langkah seirama, Elan
dan Raya berjalan menyusuri gang. Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam untuk
mengantarkan semua daging itu. Di tangan Elan, masih tersisa satu plastik, untuk
rumah yang berada di gang paling ujung.
“El. Lebaran ini, kamu
kurban apa?” tanya Raya, spontan keluar begitu saja dari mulutnya.
Elan tak langsung menjawab, matanya
melirik Raya yang sedang fokus ke depan. “Hah? Ya nggak kurban apa-apa lah.
Malah disuruh bantu kamu nganterin daging ke warga. Nggak ada yang begituan.”
“Yee. Bukan gitu maksudku,”
ucap Raya sambil menyipitkan mata.
“Kan suka ada tuh, jokes di postingan
orang-orang. ‘Kurbanin apa hari ini?’ gitu. Terus jawabannya macam-macam—ada yang
kurbanin waktu, uang, bahkan perasaan,” jelasnya sambil tertawa kecil.
“Oh, gitu,” gumam Elan pelan.
Ia terdiam sebentar.
Sebenarnya, pertanyaan itu terdengar ringan, namun cukup berat baginya, seperti
diminta membuka pintu yang selama ini ia coba tutup rapat-rapat.
Ia menarik napas perlahan,
lalu menjawab dengan senyum tipis. “Aku kurban kok lebaran ini. Ada dua pilihan.”
“Ih, serius? Apa aja tuh?” Sorot
mata Raya seketika berubah. Kepalanya menoleh, memandang Elan dengan wajah
penasaran.
Bibir Elan melengkung membentuk
senyum kecil, matanya menatap wajah Raya yang tampak lebih hidup dari
sebelumnya. Tapi Raya tak tahu, kalau Elan sedang menahan getir yang
mengaduk-aduk dadanya. “Antara ngorbanin perasaan… atau persahabatan.”
Alis Raya refleks terangkat,
dahinya mengerut. Mulutnya sedikit terbuka, jelas ia belum sepenuhnya menangkap
maksud perkataan Elan. “Hah? Maksudnya?”
Elan ingin menjelaskan,
ingin jujur—tentang perasaannya, tentang sesuatu yang ia lihat lebih dari
sekadar sahabat dalam diri Raya. Tapi kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
Ia ragu. Ia takut. Takut semuanya berubah, takut Raya menjauh, takut kehilangan
semua tawa-tawa kecil dan jalan-jalan seperti hari ini.
Namun, sebelum Elan sempat menjelaskan, mereka berdua sudah tiba di depan rumah terakhir. Raya langsung mengetuk pintu, mengucap salam dengan suara lembut. Sejenak, ia melupakan pertanyaannya yang belum terjawab.
Tak butuh waktu lama. Pemilik
rumah itu membuka pintunya. Seorang wanita paruh baya, berdiri di ambang pintu dengan
wajah penuh senyum. Elan mengulurkan plastik daging itu padanya, yang disambut
hangat dan ucapan terima kasih. Elan dan Raya juga membalas dengan senyum dan sapaan
akrab. Mereka sempat ditawari untuk singgah sebentar, sekadar minum teh manis
untuk menghilangkan dahaga. Tapi mereka berdua menolaknya sopan, memilih untuk langsung
pamit undur diri.
Notifikasi dari ponsel Raya berbunyi
saat mereka melangkah kembali menyusuri gang. Wajah Raya langsung berubah,
senyum kecil terbit saat ia membaca pesan di layar.
“Dari dia, ya?” tanya Elan
pelan, walau tak ada nama yang disebutkan. Nada suaranya tenang, tapi matanya
tak bisa sepenuhnya menyembunyikan sesuatu yang lain.
Raya mengangguk pelan,
sambil membalas pesan singkat itu dengan jemari ringan. “Iya. Dia nanya aku
lagi di mana, katanya mau nelpon nanti.”
Elan mengangguk kecil,
mencoba tersenyum, walau terasa hambar. Hatinya terasa kosong, seperti jalan
yang sedang mereka lalui, sepi tak ada siapa pun.
Ingatan itu mengalir seperti
cuplikan film, mengingatkan dia akan kenangan masa lalu. Saat Raya menangis
karena tugas kuliah yang tak bisa dikerjakannya, sampai ia frustasi dan hampir
putus asa. Elan duduk di sebelahnya diam-diam, menyodorkan minuman kesukaan
Raya tanpa banyak bicara. Yang ia pikirkan, hanyalah berada di samping Raya
ketika perempuan itu sedang tak baik-baik saja.
Lalu lambat laun, rasa itu
tumbuh. Tanpa diminta, tanpa disadari. Seperti hujan yang turun perlahan—tak
langsung deras, tapi cukup membuat hati basah.
Namun, Elan juga sadar.
Mereka terlalu dekat untuk memulai sesuatu. Terlalu banyak hal yang rusak jika
ia mengaku. Maka ia memilih diam. Menahan perasaannya lebih lama… setidaknya
sampai saat ini.
Raya menyimpan ponselnya,
menoleh sambil tersenyum. “Nanti malam datang ke rumah ya. Ibu masak daging
opor kesukaan kita berdua.”
Elan membalas dengan
anggukan kecil. Tak berkata apa-apa.
Raya pergi meninggalkan Elan,
kembali ke rumahnya. Sementara Elan, ia berdiri diam sambil menatap punggung
Raya yang perlahan menghilang dari pandangannya. Hanya satu-satunya hal yang bisa
ia lakukan saat ini… adalah terus melihat Raya, tanpa harus kehilangan.
***
Malam menggantung tenang di
langit. Di taman kecil dekat masjid, Elan dan Raya duduk berdampingan di bangku
kayu yang warnanya mulai pudar. Lampu taman temaram, menyinari wajah mereka
yang saling diam setelah makan malam bersama di rumah Raya—menikmati opor
hangat buatan ibunya, lengkap dengan lontong dan sambal goreng kentang.
Raya tertawa kecil, jari-jarinya
sibuk menggulir layar ponsel. Wajahnya bersinar oleh cahaya layar. Dan senyum
itu… membuat hati Elan terasa lebih berat dari sebelumnya.
“Elan,” kata Raya pelan,
masih menatap layar, “lucu banget sih dia. Barusan dia ngirim video kambingnya
sendiri yang kabur tadi pagi.”
Elan hanya menoleh, diam. Matanya
memandangi Raya, seperti sedang menonton sesuatu yang tak bisa dia miliki. Dalam
hatinya, suara yang tak benar-benar pergi itu kembali menggemakan satu kalimat:
Harusnya aku yang ada di
layar itu.
Ia membuka mulut. Jantungnya
berdetak lebih cepat.
“Ra, aku…” ucapnya nyaris
berbisik.
Tapi kata-katanya berhenti
di sana. Ia tak bisa melampaui batas antara hati dan lidah. Ia menelan napas, lalu
tersenyum tipis, mencoba menyamarkan semuanya dengan suara tenang.
“Makasih, ya. Udah nemenin
aku sejauh ini,” katanya, akhirnya. Meski bukan itu kalimat yang ingin ia ucapkan.
Raya mengangkat wajahnya.
Menatap Elan dengan tatapan hangat dan jujur. “Kamu sahabat terbaikku, El.
Dunia ini bakal terasa sepi kalau nggak ada kamu.”
Kata-kata itu menamparnya
halus. Elan tersenyum, sedikit kecut—yang untungnya tak dilihat oleh Raya. Ia
sudah kembali memandangi layar ponselnya.
Mereka kembali diam. Namun
di dalam dada Elan, semuanya berantakan. Ada sesuatu yang perlahan-lahan pecah,
tanpa suara. Dan angin hanya berbicara malam ini, menggoyangkan daun-daun dan
memberikan keheningan untuk melindungi perasaan yang tak tersampaikan.
Malam semakin larut. Langit pekat
tanpa bintang. Mereka akhirnya berpisah, berjalan pulang ke rumah
masing-masing. Raya pulang dengan senyum lebarnya, sementara Elan dengan senyum
yang getir.
Begitu sampai di rumah, Elan
langsung menuju kamarnya. Duduk di tepi ranjang, dengan lampu kamar yang
menyala redup. Ia meraih ponselnya, membuka layar. Jempolnya gemetar sedikit
saat membuka WhatsApp. Ia mengetuk nama favorit di dalam hatinya: Raya.
Lalu, ia mulai menulis:
Hari ini aku berkurban antara
dua hal, dan aku bingung memilih yang mana. Perasaan yang tak sempat aku utarakan.
Atau persahabatan yang terlalu berarti untuk dihancurkan. Mungkin aku harus
kehilangan salah satunya, atau… mungkin harus keduanya. Jika akhirnya bukan aku
yang membuatmu bahagia, semoga ada seseorang yang bisa.
Elan menatap tulisan itu
lama. Napasnya berat. Jari telunjuknya mengarah ke tombol kirim, namun tak
bergerak.
Di kepalanya, bayangan
senyum raya—dan ucapan: “Kamu sahabat terbaikku, El…”—terngiang jelas.
Ia tahu, sekali pesan itu
terkirim, tidak akan ada jalan kembali. Mungkin, hubungan mereka tak akan pernah
sama lagi. Mungkin, akan ada jeda, atau bahkan jarak.
Akhirnya, Elan menghela
napas panjang. Ia menutup matanya sejenak. Lalu, dengan satu gerakan pelan,
pesan itu—ia…
***
Idul Adha tahun ini, langit
tetap cerah. Panas teriknya masih sama membakar aspal. Angin masih sama
berhembus dari arah gang kecil. Tapi ada yang berbeda.
Raya berjalan sendiri
menyusuri gang—jalan mereka biasa lalui tahun lalu. Gang itu masih sama. Plastik
putih berisi daging masih sama. Tugasnya pun masih sama. Hanya saja… Elan tak
lagi ada di sampingnya.
Tadi pagi, sebelum berangkat
bantu membagikan daging, Raya membuka Instagram. Elan mengunggah sesuatu—sebuah
foto dirinya bersama dengan sapi kurban. Tapi latarnya bukan masjid dekat
rumah, bukan tempat biasa mereka saling sapa dan bantu panitia setiap tahun. Elan
tak ada di sini hari ini.
Dan yang membuat hati Raya
terusik… foto itu berdiri sendiri. Tak ada caption. Tak ada ucapan selamat Idul
Adha, atau sekadar kata-kata puitis yang biasa orang tulis. Hanya foto. Hanya
diam.
Ia menatap layar ponselnya
lama, berharap ada sesuatu yang bertambah. Entah story, komentar, atau unggahan
lain. Tapi tak ada. Elan seperti hadir hanya untuk menunjukkan bahwa dia masih hidup—tanpa
benar-benar hadir. Dan entah kenapa… ada jarak yang terasa begitu jauh dan tak
bisa dijangkau lagi.
Angin menyentuh pipinya
pelan. Sinar matahari menyengat kepalanya tanpa ampun. Kini, di sepanjang gang yang
membentang, hanya ada dia. Matanya menatap langit yang bersih, dan kosong—seperti
hatinya yang tak lagi utuh.
Dan untuk pertama kalinya…
Raya terdiam cukup lama.
Bukan karena tak tahu harus
berkata apa, atau bertindak bagaimana.
Tapi karena ada yang
mengganjal—rasa yang tak bisa ia beri nama, tapi cukup membuat dadanya sesak. Rasa
yang baru ia kenal, setelah lama bersama… lalu tiba-tiba menghilang.
Entah mengapa… sepi ini tak
terasa biasa.
Catatan Kecil:
Cerita ini terinspirasi dari candaan lebaran yang akrab di telinga. Namun di balik tawa itu, aku percaya—dalam hidup, yang dikurbankan tak selalu hewan. Kadang, hati pun ikut disembelih dalam diam.



Komentar
Posting Komentar