Bau yang Tak Sampai ke Dasi

 Kadang, yang busuk bukan hanya sampah di jalanan. Ada yang lebih menusuk, meski tak terlihat

Kondisi lingkungan semakin kacau. Semakin bertambah parah. Bau busuknya merayap hingga ke sudut rumah, menusuk hidung.

Ini bukan perkara sepele. Ini menyangkut kehidupan, dan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Sepanjang gang, hanya ada sampah yang tergeletak di pinggiran. Plastik-plastik hitam lembab menumpuk nyaris setinggi pinggang anak-anak. Lalat-lalat beterbangan di sekitarnya, merasa terpanggil dengan uap busuk yang menggoda.

Tak ada yang peduli satu pun. Seolah tumpukan itu hanya pemandangan biasa. Mereka muak—sebenarnya—tapi tak tahu harus berbuat apa. Mereka ingin peduli, tapi entah harus memulai dari mana. Yang bisa mereka lakukan hanya diam, menunggu truk pengangkut sampah datang untuk mengambilnya, seperti biasa.

Tapi, sudah beberapa hari—bahkan beberapa minggu—truk itu tak pernah datang. Kini setelah satu bulan, tanpa sadar gunungan itu sudah setinggi dada anak-anak.

Pak Damar, satu-satunya orang yang gelisah melihat gundukan itu. Setiap kali kakek tua itu melewati gang, dadanya terasa sesak. Meski ia hanya penjual balon, tapi jiwa nasionalisnya mendesak untuk berbuat sesuatu.

Dulu, ia pernah berdiri tegak mengangkat bendera tinggi-tinggi saat zaman Orde Baru. Bukan untuk melawan pemerintah, tapi karena ia mencintai bangsanya.

Ah. Itu adalah kisah lama.

Kini, semangat itu kembali menggelora. Setiap kali melihat tumpukan sampah yang tak berkurang sedikit pun—justru semakin menggunung—membuatnya tak bisa berhenti mempertanyakan kinerja para pejabat di kantor sana.

Masalah ini tak hanya di desanya, tapi juga seluruh kota. Sepanjang jalan yang ia lewati, gunungan sampah ada di setiap sudut. Di depan pasar, sampah sudah menjulang tinggi hingga membentuk bukit kecil. Hewan-hewan datang mengais sisa-sisa di sana, berebut remah kehidupan.

Tak hanya pasar. Sampah itu menyebar seperti wabah—menyerang ruko-ruko di pinggir jalan, tukang foto copy, hingga warung makan. Bau busuknya menyatukan semua tempat itu dalam satu aroma, mengusir para pembeli sebelum mereka sempat melangkah masuk.

Siang itu, sepanjang jalan, Pak Damar terus menghela napas berat. Dadanya sesak melihat kota kelahirannya berubah menjadi lautan sampah.

Ia menghentikan sepeda tuanya di persimpangan lalu lintas. Balon-balon warna-warni di kursi belakang bergoyang pelan saat angin berhembus. Sinar matahari membasuh warna itu, membuat siapa pun yang melihatnya ingin membelinya—dulu. Sekarang, keindahan itu tenggelam dalam bau busuk dan pemandangan yang muram.

Pak Damar melirik ke arah median jalan. Plastik-plastik hitam berjejer rapi di sana, entah sudah mengeram berapa lama. Di tengahnya, sebuah papan kardus berdiri dengan tulisan spidol hitam:

“Kalian digaji oleh rakyat. Mana tindakan kalian untuk rakyat?”

Pak Damar hanya menggeleng pelan. Ia tahu, rakyat sudah marah. Mereka melemparkan sampah ke mana-mana sebagai bentuk protes—bahkan di persimpangan ini. Mereka meminta Wali Kota untuk segera turun tangan. Tapi, sampai hari ini, tak ada perubahan. Mereka… tampak tak peduli. Atau, mungkin, sengaja tak peduli.

Lalu lintas berubah hijau. Pak Damar segera mengayuh sepedanya. Angin hangat langsung menerpa wajah keriputnya, tapi tak cukup kuat untuk mengangkat senyum dari bibirnya. Hatinya berat, kota ini tak lagi sama.

Di sepanjang jalan, pandangannya mengedar ke sekitar. Bendera merah putih sudah berkibar di mana-mana—menggantung di bawah atap, terikat pada tiang kayu di pinggir jalan, bahkan menjuntai dari langit-langit jalan.

Ia hampir lupa ulang tahun kemerdekaan negaranya. Seharusnya ini perayaan kemerdekaan yang ke… entahlah, ia tak ingat. Bukan karena sengaja melupakan, tapi karena memang usianya yang sudah sulit untuk mengingat angka dengan benar.

Atau… mungkin ia sudah terlalu muak dengan kata “merdeka”, ketika kotanya sendiri masih terjajah oleh sampah?

Tapi yang jelas, ulang tahun kali ini berbeda. Karena di antara merah putih, ada bendera lain yang berkibar—hitam, bergambar tengkorak bertopi jerami, mirip simbol bajak laut. Bendera itu begitu asing di matanya, seumur hidup ia tak pernah melihatnya. Bendera dari mana? Kota apa? Atau mungkin… negara apa?

Pernah sekali ia mendengar obrolan remaja di warung. Katanya, itu dari tontonan favorit mereka—namanya One Piece.

Entahlah. Pak Damar sudah terlalu tua untuk mengerti. Terserah anak muda, pikirnya. Mungkin itu cara mereka mengekspresikan diri.

Sepeda tua itu melaju melewati kantor wali kota.

Pandangan Pak Damar mengarah ke sana. Hanya tempat ini satu-satunya yang bebas dari sampah. Tak ada bau yang menyengat, tak ada lalat, tak ada plastik hitam yang mengendap. Bersih—seolah memang harus suci, sementara seluruh kota dibiarkan busuk.

Bangunannya bergaya kuno, dominan putih—meski tak seputih hati yang seharusnya peduli rakyat. Halamannya luas, rumputnya rapi dan hijau, tak seperti halaman rumah di desa. Mobil-mobil hitam mengilap berjajar, memantulkan cahaya matahari, kontras dengan jalanan kota yang kusam dan bau.

Sungguh indah sekali bangunan itu. Dan sungguh kotor sekali kota ini.

“Kalau mereka bisa sebersih ini, bagaimana kalau aku saja yang mengantarkan sampah ke sini?” bisiknya, lirih, pada diri sendiri.

Pikirannya melayang. Ia heran—para pejabat yang mengaku sebagai petugas rakyat, yang seharusnya bisa ikut merasakan penderitaan rakyat, justru memilih ruang bersih dan harum, jauh dari bau busuk yang tiap hari dihirup warganya.

“Mungkin bau-bau sampah itu tak sampai ke hidung mereka,” gumamnya.

“Makanya, mereka nggak bisa merasakan udara yang sama dengan masyarakat. Mereka hidup dengan udara segar dari AC.”

***

Esok hari. Kota gempar. Keadaan pecah. Kebingungan menyebar ke setiap sudut kota.

Sebuah berita dengan tajuk yang tak biasa mengguncang—bukan hanya kota ini, tapi seluruh negara.

KANTOR WALI KOTA DIPENUHI SAMPAH. PELAKU TAK TERIDENTIFIKASI.

Masyarakat saling bertanya, saling mengulang cerita. Tak ada yang tahu siapa yang berani melakukannya. Bukan untuk mencela—justru banyak yang ingin memuji. Mereka melihatnya sebagai aksi heroik, sesuatu yang tak semua orang berani lakukan.

Di sisi lain, para pejabat merasa terganggu. Mereka bingung. Marah. Kesal. Kantor kebanggaan mereka—tempat mereka bisa bersantai-santai—kini diserbu bau busuk yang menyengat. Mereka langsung enggan masuk, memilih menjauh dari kantor daripada harus menghirup bau yang mengganggu kinerja—maksudnya, kedamaian mereka.

Polisi dikerahkan. Satpam dimintai keterangan. Rekaman CCTV diputar berkali-kali, mencari pelaku yang—bagi mereka—telah melakukan kejahatan mengganggu ketertiban. Tapi hasilnya nihil. Pelaku tak terlihat wajahnya, seperti bayangan yang melintas lalu lenyap.

Malam sebelumnya, seseorang berpakaian serba hitam, wajah tertutup kain hitam, mendorong gerobak penuh sampah. Ia berhenti di depan gerbang kantor, menumpahkan semuanya, lalu pergi tanpa menoleh. Tanpa jejak. Tanpa suara.

Masyarakat bersorak riang, tersenyum bangga saat membaca berita itu. Bagi mereka, orang itu adalah simbol keberanian untuk bersuara—demi hak rakyat, demi hak yang memang seharusnya mereka dapatkan.

Keesokan harinya, sampah semakin menumpuk. Tak hanya di gerbang, tapi merambat di sepanjang pinggir jalan, mengepung kantor wali kota. Rakyat memberontak. Mereka sadar, ini bukan lagi soal sampah, tapi soal tanggung jawab yang seharusnya segera ditindaklanjuti aparat.

Siang itu, truk pengangkut sampah datang. Bukan untuk mengangkut sampah di desa, bukan untuk jalanan umum. Hanya untuk membersihkan halaman mereka sendiri.

Mereka mengambil tindakan—setidaknya untuk diri mereka sendiri, terlebih dahulu.

Dalam sekejap, kantor kembali suci. Tak ada sampah. Tak ada bau. Tak ada lalat. Cepat, rapi, dan… kontras sekali dengan nasib kota. Ternyata mereka bisa bergerak cepat, asalkan yang terganggu adalah kenyamanan mereka sendiri. Sementara kehidupan rakyat? Itu bisa dipikirkan nanti.

“Lihat! Kantor wali kotanya bersih lagi. Padahal baru semalam kita kasih sampah,” bisik seorang warga.

“Iya. Cepet banget kerjanya. Giliran sampah di jalanan? Lama banget,” sahut yang lain.

“Ya udah. Sekarang giliran kita pindahin aja tempat buang sampahnya. Ke kantor wali kota, pasti langsung diangkut. Daripada desa kita yang bau.”

Kesepakatan tak terucap pun lahir. Hari demi hari, sampah terus dibuang di depan kantor pemerintah. Bukan karena mereka mau, tapi karena itu satu-satunya cara agar kota kembali bersih.

Esok hari. Lalu esoknya lagi. Sampah kembali menumpuk di sekitar kantor, dan setiap kali, dengan sigap diangkut pergi. Beberapa polisi mulai berjaga di depan gerbang, bersiap menghadang warga yang mencoba membuang sampah lagi di sana.

Tak lama, berita kembali muncul. Kali ini membawa kabar—setidaknya—lebih baik dari sebelumnya.

WALI KOTA CANANGKAN PROGRAM TPS 3R BARU UNTUK ATASI KRISIS SAMPAH.

“Kami sudah berusaha. Setidaknya ini menjadi solusi sementara untuk masalah kota. Sambil berjalan, kami akan mencoba mengevaluasi lagi demi kebaikan rakyat,” ujar Wali Kota, seperti ditulis di berita—yang tak lagi menarik perhatian warga.

Kota masih berbau. Tapi setidaknya… kini baunya ikut tercium oleh mereka yang selama ini duduk di ruangan ber-AC.

***

Hari ini, untuk memperingati kemerdekaan, seluruh sampah di kota sudah diangkut sejak kemarin. Jalan-jalan bersih. Tak ada sampah dan bau.

Masyarakat menyambut gembira. Usaha mereka selama ini—membuang sampah di depan kantor wali kota—akhirnya berbuah. Tumpukan yang dulu berserakan di pinggir jalan, sudut gang, depan pasar, hingga toko, kini lenyap satu per satu.

Entahlah. Tak ada yang tahu apakah ini akan bertahan, atau hanya sekadar bersih demi upacara kemerdekaan. Tak ada yang benar-benar percaya.

Sementara itu, Pak Damar duduk santai di teras rumahnya. Hari ini ia tak berjualan balon, tak mengayuh sepeda tuanya. Ia hanya ingin menikmati kemerdekaan ini dengan tenang. Menatap langit cerah yang seolah ikut merayakan hari istimewa ini.

Ia tak pernah menyangka, aksinya membuang sampah malam itu akan membuat kekacauan besar di kota. Niatnya hanya mengumpulkan sampah di desanya, lalu memindahkannya ke depan gerbang kantor wali kota. Namun, aksinya diliput berita, menyebar ke seluruh negeri. Warga pun menirunya—membuang sampah ke sana—hingga membuat para pejabat jera dan terpaksa bertindak.

“Ternyata mereka baru sadar dan bergerak… setelah bau sampah itu sampai ke dasi mereka,” bisik Pak Damar, lalu terkekeh pelan, menertawakan betapa lucunya pemerintahan ini.

Kakek tua itu menyeruput teh hangatnya. Kepalanya mendongak pelan. Matanya terpejam. Tubuhnya menikmati desiran angin lembut yang mengiringi hari cerah.

Sebenarnya, ia senang krisis sampah ini akhirnya menemukan jalan keluar. Meski tak benar-benar puas, tapi setidaknya ini bisa mengurangi. Kota bisa sedikit bernapas. Lebih baik bergerak meski kecil, daripada tidak sama sekali dan membiarkan gunungan itu terus membusuk.

Bagi Pak Damar, ini bukan sekadar soal sampah. Ini soal bangsa, dan kemerdekaan. Berani mengambil tindakan saat hidup dibusukkan oleh orang-orang yang bilang mereka peduli—padahal tidak sama sekali.


Catatan Kecil:

Cerita ini terinspirasi dari rasa kecewa melihat sampah yang berserakan, juga dari lambannya tangan yang seharusnya bergerak. Dari kegelisahan itu, lahirlah kisah ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Atas Podium

Retak di Angkringan

Daripada Cuaca Cerah, Aku Lebih Menyukaimu