Sebelum Musik Berhenti
Ada perasaan yang tak pernah sempat disampaikan. Ada momen yang terlalu indah untuk diulang. Dan ada satu dansa, yang menjadi akhir dari segalanya.
Ballroom hotel mewah itu bergemuruh oleh kemeriahan. Tawa,
denting gelas, dan alunan musik berpadu di bawah cahaya lampu kristal yang bergelantungan
indah, kilau keemasannya memantul ke dinding marmer. Karpet merah membentang
anggun, sementara udara dingin dari pendingin ruangan membawa aroma segar dari
bunga yang tersebar di setiap meja.
Di sudut ruangan, Jadid berdiri
bersama teman-temannya. Tangannya menggenggam gelas kaca berisi sirup merah
dingin. Sesekali ia menyesap, sekadar menutupi kegugupan yang semakin terasa. Pandangannya
berkeliling ke tengah kerumunan—ke wajah-wajah yang berseri, tawa yang riang, dan
mata yang berbinar. Ada yang larut dalam percakapan hangat, ada yang memilih diam,
sadar bahwa malam ini adalah pertemuan terakhir sebelum masing-masing melangkah
ke dunia yang baru.
Tatapan Jadid akhirnya berhenti
pada satu orang, Rayuna.
Ia berdiri bersama para
sahabatnya, tertawa. Tawanya begitu jernih, seolah semua suara di sekitarnya meredup.
Gaun panjang berwarna pink lembut jatuh dengan anggun mengikuti gerakannya. Kerudung
satin berwarna senada membingkai rapi wajahnya, disematkan bros mungil di sisi
kepala. Sederhana, tapi membuatnya tampak begitu bersinar.
Jadid menelan ludah. Telapak
tangannya basah. Dahinya mulai berkeringat. Gugup.
Malam ini adalah kesempatan terakhir.
Besok, mereka semua akan wisuda dan berpisah. Sejak tadi, ia ingin sekali mendekat,
sekadar menyapa, mengucapkan perpisahan. Tapi kakinya seolah tak mau bergerak,
tertahan oleh keraguan yang tak kunjung hilang.
Ia hanya ingin jujur, untuk
dirinya, tentang perasaannya—agar esok tak ada sesal yang tumbuh di hatinya.
Alunan musik tiba-tiba melambat,
nadanya mengalir lembut. Beberapa orang mulai melangkah ke tengah, berpasangan,
berdiri berhadapan. Senyum tipis timbul di wajah mereka, malu-malu. Lalu, dengan
gerakan anggun, mereka bergerak mengikuti irama. Kilau lampu kristal membuat setiap
gerakan tampak seperti bayangan anggun dan indah.
Jadid menelan ludah. Jantungnya
berdetak lebih cepat. Matanya tak lepas dari Rayuna. Ia membayangkan, bagaimana
jika malam ini, di situasi seperti ini, ia bisa berdansa bersamanya?
Jadid memantapkan hati. Ia merapikan
kemeja batiknya, memastikan tampilannya sudah pantas. Ia menarik napas, dalam, lalu
menghelanya pelan. Suara detak jantungnya terdengar semakin kencang. Gelas di
tangannya segera diletakkan di atas meja, sebelum akhirnya ia berani melangkah
dengan penuh percaya diri.
“Rayu… dansa bareng aku, yuk.”
Jadid sedikit membungkuk, tersenyum tipis.
Rayuna menoleh, sedikit
terkejut. Tapi wajahnya langsung berubah cepat. Ia tersenyum ramah, dan manis.
“Boleh.” Ia mengangguk
pelan, menoleh ke sahabatnya, meminta izin untuk pergi berdansa.
Jadid mengulurkan tangan, menunjuk
ke arah lantai dansa, seolah memberi jalan untuk Rayuna berjalan lebih dulu.
Mereka berdua kini berdiri saling
berhadapan. Musik mengalun tenang, melodinya seakan membelai ruangan dengan damai—berbanding
terbalik dengan jantung Jadid yang sudah berdebar cepat.
Di bawah lampu kemilau, perlahan, mereka mulai bergerak. Langkah demi langkah, seirama dengan denting nada. Sesekali bergeser ke samping, lalu berputar anggun, tubuh mereka mengikuti ritme yang mengalir lembut.
Jadid mencoba tersenyum, meski
tahu senyumnya tampak canggung, kaku. Bagaimana tidak? Hanya ada Rayuna di
hadapannya—begitu dekat hingga warna cokelat di matanya tampak jelas, begitu
nyata.
Rayuna tersenyum, tenang,
seperti biasa. Tak ada sedikit pun canggung di wajahnya. Tubuhnya bergerak
luwes, seolah tarian itu adalah cara ia berdialog dengan musik.
“Kamu menikmati malam ini,
Yu?” tanya Jadid, mencoba memecah keheningan yang terasa berat—menurutnya.
Rayuna mengangguk. “Tentu
saja. Malam ini kan spesial. Jadi harus dinikmati sebaik mungkin.”
Rayuna benar, malam ini memang
spesial. Farewell Gala Night akan menjadi kenangan terakhir sebelum semuanya
berpisah. Tapi Jadid, ia tak merasa seperti itu. Bukan makanan, bukan musik,
dan bukan keramaian ini yang membuatnya berarti.
Tapi Rayuna. Dari awal ia datang,
hanya Rayuna yang memenuhi pikirannya.
Tatapan Jadid tak pernah
lepas dari Rayuna. Wajah itu—cantik, masih sama seperti dulu. Sejak semester
pertama, mereka sudah dekat. Saling membantu, belajar bersama, bahkan terkadang
curhat tentang hidup masing-masing. Ada banyak kesamaan yang membuat keduanya
kian erat.
Dari kebersamaan itu,
sesuatu perlahan tumbuh. Diam-diam. Jadid tak pernah tahu kapan tepatnya rasa
itu bersarang di hatinya. Hanya saja, tanpa sadar, ia mulai memperhatikan detail-detail
kecil dari Rayuna—caranya berjalan, tawanya, bicaranya, bahkan diamnya.
“Mungkinkah… ini cinta?”
Sejak itu, sikapnya berubah.
Jadid tak lagi heboh seperti
biasanya. Ia lebih banyak diam, sedikit canggung, seolah sedang berusaha menjaga
citranya agar tetap terlihat baik di mata Rayuna.
Tapi selama ini, ia memilih
bungkam. Ia tak berniat mengutarakan perasaannya, karena takut akan merusak kedekatan
yang telah mereka bangun, juga takut jika Rayuna merasa tak nyaman di dekatnya.
Maka yang tersisa hanya satu
hal—cemburu.
Tentu saja rasa itu sering
menggerogotinya. Tiap kali melihat Rayuna tertawa dengan laki-laki lain, dadanya
serasa diremas. Pernah ada gosip kalau Rayuna menyukai seseorang—seorang lelaki
alim, pintar, meski tak terlalu tampan (menurutnya). Jadid hanya bisa tersenyum
kaku, sementara hatinya perlahan teriris. Kedekatan Rayuna dengan laki-laki itu
membuatnya merasa semakin kecil, semakin jauh dari jangkauannya.
Entah seberapa sering ia ingin
berteriak, “Aku ada di sini! Kenapa kamu tidak melihatku? Aku selalu mencintaimu
dengan tulus.” Tapi kalimat itu selalu terkurung di dalam hati, tanpa pernah sampai
di telinga siapa pun.
Dan kini, ia mencoba peruntungan
itu. Barangkali, ada kesempatan untuk mengungkapkan sesuatu yang selama ini ia
pendam.
“Setelah wisuda… rencanamu
apa, Yu?” tanyanya, lirih, hampir tenggelam oleh musik.
Rayuna menatap, lalu
tersenyum samar. Ia masih melangkah anggun di atas karpet merah, mengikuti irama.
“Mungkin kerja dulu. S2 juga
kepikiran, sih… tapi nanti saja.”
“Kirain mau langsung nikah,”
ucap Jadid spontan, lolos tanpa sempat ia saring.
Rayuna tertawa pelan, hangat.
Suara halusnya seakan menembus ke dalam hati, membuat Jadid merasakan surga
untuk sesaat.
Sebenarnya, ia memang penasaran.
Karena mungkin, malam ini adalah terakhir kalinya mereka bisa berbincang. Setidaknya,
ia ingin tahu ke mana langkah Rayuna pergi setelah semuanya berakhir.
Tapi dua bulan lalu, ia sudah
menyerah. Bukan untuk hidupnya, tapi untuk perasaannya sendiri. Malam itu, ia melihat
story Rayuna di layar ponsel—sebuah foto, Rayuna berdiri dengan seorang
laki-laki. Wajah mereka tak terlihat, tapi itu sudah cukup untuk membuat dunianya
hancur seketika. Rayuna… sudah punya kekasih.
Anehnya, ia tak marah. Tak
sedih. Tak juga kecewa. Hanya hampa.
Bintang yang selama ini menjadi
mimpinya, padam begitu saja. Cahaya yang selalu menerangi hari-harinya, meredup
dalam sekejap. Dan sejak hari itu, ia memutuskan untuk menghapus perasaannya.
Tapi Jadid tak pernah
menduga. Dengan menghapus perasaannya pada Rayuna, justru membuat hidupnya berjalan
tanpa cinta. Tak ada perempuan lain yang mampu menggetarkan hatinya. Secantik
apa pun wajahnya, seindah apa pun senyumnya, semuanya terasa hambar.
Seolah-olah, cinta
terakhirnya sudah diputuskan hanya untuk Rayuna. Dan sisanya, hanya ada ruang
kosong yang akan selalu menyimpan namanya.
Ia tahu, ia tak punya kesempatan
lain. Semuanya sudah selesai. Yang tersisa hanyalah kenangan—senyuman manis
Rayuna, tatapan lembutnya, dan hari-hari di mana perempuan itu pernah menoleh hanya
kepadanya.
Jadid menelan napas.
Tenggorokannya mendadak kering. Tangannya sedikit bergetar. Ia tahu, Rayuna
sudah memiliki seseorang. Tapi malam ini… izinkan ia untuk mengungkapkan
segalanya. Bukan berharap agar cintanya terbalas, tapi ini untuk dirinya—tentang
keberanian yang terlalu lama ditahan.
Ia hanya ingin Rayuna tahu, bahwa
pernah ada seseorang yang selama ini menyukainya. Itu saja. Setelah itu, semoga
dadanya bisa bernapas lega, hatinya bisa kembali kosong, siap membuka lembaran
baru.
“Eh… Yu.” Suaranya gemetar,
serak. “Aku… pingin ngomong sesuatu. Boleh?”
“Apa?” Rayuna menunggu, tatapannya
lembut, cukup untuk menggoyahkan pertahanan hati Jadid yang rapuh.
Jadid menarik napas panjang,
dalam, bersiap dengan keberanian yang tersisa.
Dunia di sekelilingnya perlahan
senyap, hanya tersisa Rayuna, hanya tersisa momen ini.
Sekarang ini ia tak lagi
peduli pada apa pun. Yang ia inginkan hanyalah pengungkapan. Jika ia terus
menahan diri, maka penyesalan itu akan terus menghantui—sama seperti dulu, ketika
ia tak pernah berani mengatakannya.
Ia hanya ingin bebas. Tak
ingin lagi cemburu. Tak ingin lagi terluka. Semua perasaan yang membebaninya
selama ini, harus keluar sekarang juga.
“Sebenarnya… aku dulu tuh—”
Musik tiba-tiba berhenti. Disusul
tepuk tangan pelan dari sekeliling ruangan. Dansa telah usai. Orang-orang kembali
ke meja masing-masing, diiringi tawa puas dari pertunjukkan barusan.
“Musiknya sudah habis. Aku
kembali dulu ke teman-temanku, ya. Makasih udah mau ngajak aku dansa. Cukup menyenangkan.”
Rayuna tersenyum tipis, menunduk singkat, lalu berbalik menuju mejanya.
Jadid ingin mencegah. Kalimatnya
tadi belum selesai, bahkan bagian terpentingnya belum keluar dari mulutnya. Tapi
ia tak bisa menahan Rayuna. Perempuan itu sudah lebih dulu melangkah, perlahan ditelan
kerumunan.
Ia masih berdiri diam di
tempatnya. Sendirian.
Pandangannya menatap kosong
ke depan, ke arah yang baru saja ditinggalkan Rayuna. Hatinya hancur. Perih. Keramaian
di sekitarnya tak lagi terdengar, tenggelam, jatuh dalam keterpurukan yang tak
bertepi.
Lagi dan lagi. Ia gagal mengatakannya.
Padahal kesempatan itu ada di depan matanya, tapi sekali lagi ia hanya terdiam.
Seolah waktu sendiri tak pernah merestui, sengaja membuat mulutnya terkunci—bahkan,
mungkin untuk selamanya.
Dengan langkah berat, Jadid
berjalan keluar ballroom. Gemerlap lampu kristal kini hanya bayangan.
Hiruk pikuk dunia tertinggal di belakang. Koridor hotel ini sunyi, terlalu
sunyi—seperti hatinya. Hampa, namun sesak oleh kata-kata yang tak pernah sempat
terucap.
Catatan Kecil:
Terinspirasi dari adegan dansa Arcane, dan juga dari kisah teman yang cintanya… tak sempat tiba di waktu yang tepat. Fiksi ini mungkin rekaan, tapi getirnya nyata.



Komentar
Posting Komentar