Manusia dengan Misterinya

Bahkan orang terdekat sekalipun, menyimpan misteri yang tak ingin ia buka pada dunia.

Pemakaman pagi itu sudah sepi. Beberapa menit lalu orang-orang berangsur pergi, menyisakan satu perempuan yang sedang berdiri di depan pusara, Cia.

Perempuan dengan pakaian serba hitam itu berjongkok di depan gundukan tanah yang masih basah. Matanya nanar menatap nama yang tertera di nisan—temannya, orang yang dulu begitu dekat dengannya. Aroma melati masih tercium segar, bercampur dengan tanah lembap setelah pemakaman.

Cia terdiam. Wajah yang biasanya cantik kini tampak muram, matanya kosong menatap nisan. Tangannya mengelus batu dingin itu, seakan itu satu-satunya cara untuk menyentuhnya lagi. Penyesalan menghimpit dadanya. Sesak. Dunia seakan menindih dari segala arah.

Arya. Seandainya mereka masih dekat, mungkin kehilangan ini tak akan sesakit ini. Andaikan Arya tidak menghilang hari itu, tidak menjauh darinya, mungkin ia tak akan merasa sebegitu hancur.

Kabar kematian itu datang bagai petir. Awalnya ia kira itu kebohongan, sebuah candaan kejam. Tapi kenyataan lebih dingin dari peti mati yang membeku. Arya benar-benar pergi, menghilang dari dunia. Dan kini, ia adalah orang pertama yang meninggalkan lingkaran mereka.

“Ar… selama ini kamu di mana sih? Kok tiba-tiba pergi gini aja…”

Cia bergumam lirih, tapi kata-katanya mengalir, seakan tetap ingin mengajak seseorang di depannya bicara—meski ia tahu, itu mustahil didengar.

Ia menundukkan kepala, jemarinya meremas ujung kain hitam yang ia kenakan. Air matanya tak jatuh, tapi hatinya sakit, seolah ada sesuatu yang mengirisnya pelan-pelan. Sesekali ia mengusap wajah sendiri, lalu menarik napas panjang, seakan berusaha keras untuk tetap kuat.

Saat keheningan menelannya, suara langkah terdengar mendekat. Tanah basah berderap diinjaki, disusul hembusan napas yang memecah sunyi pemakaman.

Perlahan, Cia mengangkat kepala. Matanya melebar saat menangkap sosok yang kini duduk di sampingnya.

“Rizal? Seriusan kamu?”

Laki-laki itu tersenyum tipis. “Hai, Cia. Lama nggak ketemu.”

“Eh—hai! Iya… udah lama banget.” Suaranya terbata, matanya menatap Rizal penuh heran bercampur lega.

Kehadiran Rizal mengejutkannya. Namun itu wajar—Rizal adalah teman dekat Arya, tentu ia datang untuk melepas kepergian sahabatnya.

Sunyi kembali turun. Hanya suara angin yang menggeser dedaunan kering.

Cia masih menatap kosong pusara di depannya. Hatinya kini sedikit lebih tenang—meski rapuh—tapi kedatangan Rizal membuatnya buru-buru merapikan diri. Ia mengusap pipinya cepat-cepat, menegakkan punggung, berusaha tidak tampak terlalu larut dalam duka.

Sementara Rizal tetap diam. Ia hanya duduk, memandangi gundukan tanah dengan senyum tipis. Tapi Cia tahu, itu senyum yang penuh luka.

Ia menghela napas panjang, berat. Ia harus pergi, bergantian memberi Rizal ruang untuk melayat Arya. Laki-laki itu mungkin ingin menangis, tapi menahan karena ada dirinya. Jadi, lebih baik jika ia pergi.

Cia perlahan berdiri. “Aku pergi dulu—”

“Cia… Arya nggak pernah berhenti nyebut nama kamu.”

Cia membeku. Tubuhnya yang setengah berdiri kembali jatuh terduduk. “Maksud kamu apa, Zal? Kenapa Arya nyebut-nyebut aku?”

Rizal menatapnya lama sebelum akhirnya menjawab, lirih, “Karena… kamu cinta pertamanya.”

Dadanya remuk, seperti ada tangan halus yang meremasnya.

“Ba-bagaimana bisa? Kenapa aku nggak tahu soal itu? Kenapa Arya nggak pernah bilang apa-apa? Dan kenapa justru kamu yang tahu, Zal?” Suaranya bergetar, kebingungan terpancar di matanya.

“Aku juga baru tahu setelah dia sakit.”

Cia terkesiap. Ucapan Rizal barusan menamparnya, membuka fakta yang tak pernah ia duga. Berbagai pertanyaan langsung membanjiri pikirannya.

“Arya… sakit? Sejak kapan? Kenapa aku nggak pernah tahu? Kupikir dia menghilang, mengasingkan diri karena ingin menjauh dari semua orang. Jadi…”

Rizal mengangguk. Senyum tipisnya lenyap, berganti dengan mata yang berair.

Cia membisu. Masih terlalu banyak yang tak ia ketahui soal Arya. Atau mungkin, memang ia yang tak pernah mau tahu.

Ia selalu mengira hubungan mereka merenggang karena pilihan Arya sendiri—bahwa Arya sengaja menjauh. Ia pernah mencoba mendekat lagi, berusaha merekatkan kedekatan mereka seperti dulu. Namun, tak pernah ada balasan. Arya tetap pergi, seolah benar-benar ingin memutuskan segalanya.

Ternyata ia keliru. Ada alasan lain yang tak pernah ia mengerti, alasan yang baru terungkap setelah Arya benar-benar pergi untuk selamanya.

“Cia… kamu mau tahu semua ceritanya?” tanya Rizal, memecah hening yang berat.

Cia mengangguk cepat. Ia ingin segera mendengarnya. Rahasia tentang Arya dan kehidupannya, meski itu berarti harus mengorek kenangan lama yang bisa menyayat hatinya.

Rizal menarik napas panjang, lalu menghelanya pelan. Pandangannya lurus ke depan, ke batu nisan yang baru didirikan. Bibirnya bergetar, ragu. Ia menelan ludah, berusaha menenangkan debaran jantungnya. Ia tahu, ini akan sulit. Tapi ia harus melakukannya, karena ini… adalah permintaan terakhir temannya.

“Arya mulai sakit setelah bapaknya meninggal,” ucapnya, pelan, berat. Ada isak kecil di ujung kalimatnya.

Cia membelalak. “Serius? Kok bisa? Dua tahun lalu itu, ya? Pas bapaknya meninggal?” Suaranya meninggi, seperti refleks ingin memastikan.

Rizal mengangguk, lalu melanjutkan.

“Arya jadi menutup diri setelah itu. Jarang makan, jarang keluar, hingga akhirnya sakit. Kematian bapaknya adalah luka yang sangat dalam. Jantungnya melemah karena trauma emosional. Selama ini, hanya bapaknya satu-satunya keluarga yang dia punya. Setelah itu… Arya benar-benar sendirian.”

Cia menggigit bibir, dadanya sesak. “Ya ampun, kenapa dia nggak cerita sama aku, Zal? Kenapa malah aku nggak tahu apa-apa?!” Tangannya mengepal di atas lutut, marah pada dirinya sendiri.

“Hanya aku saja yang masih berhubungan dengannya. Dia memintaku datang ke rumahnya. Saat aku sampai… kondisinya mengenaskan. Dia cuma terbaring lemah di kasurnya setiap hari.”

“Aku akhirnya memutuskan untuk menemaninya, mencoba membuatnya bersemangat lagi. Tapi nggak bisa. Selalu gagal. Atau mungkin… memang dia yang nggak mau hidup lagi.” Rizal berhenti sejenak, menarik napas berat.

Cia menutup mulutnya, satu air mata jatuh perlahan. “Astaga, Arya…”

Rizal kembali berbicara, suaranya bergetar. “Arya mencintaimu, Cia. Dan aku baru tahu… kalau ada laki-laki yang bisa mencintai seorang perempuan setulus Arya.”

Wajah Cia merah, campuran bingung dan sedih. “Maksud kamu apa?”

Rizal memaksa tersenyum—senyum canggung sekaligus pahit. “Dia nggak pernah minta apa pun darimu. Katanya, asal kamu bahagia, itu sudah cukup untuk bikin hidupnya terang.”

Cia menoleh cepat. Sorot matanya bergetar.

“Kamu perempuan pertama yang mengubah hidupnya. Dia sering bilang kamu cantik. Dia jadi ingin memantaskan diri, agar bisa berdiri di sisimu. Karena itu, dia berjuang mati-matian—mencoba jadi laki-laki yang, setidaknya, bisa kamu sukai. Tapi…”

Cia mengernyit. “Tapi apa, Zal?”

Rizal menghela napas. “Kamu makin cantik. Dia selalu bilang ke aku, ‘Cia kok jadi cantik banget, ya. Aku udah nggak bisa ngejar dia lagi.’ Akhirnya, dia cuma bisa memandangimu dari jauh.”

Cia terkekeh kecil. Suaranya parau, tapi jelas terdengar. “Arya itu lebay banget. Aku biasa aja. Nggak secantik itu, kok. Masih banyak cewek lain yang jauh lebih cantik dari aku.”

Rizal tersenyum tipis, menggeleng. “Arya juga bilang gitu. Katanya kamu pasti bakal menyangkal.”

“Ya emang kenyataannya gitu, Zal.”

“Tapi Arya titip pesan ini…” Rizal menatap lurus ke pusara.

“Katanya, ‘Mungkin Cia bakalan bilang dirinya nggak cantik. Tapi buat aku, nggak ada wajah lain yang bisa bikin aku bergetar kayak ngelihat Cia. Cantik orang lain cuma sampai mata, tapi Cia sampai ke hati.’

Rizal menahan napas sejenak, lalu melanjutkan, lirih, “Buat Arya… kamu dunianya. Kamu cahayanya. Kamu tujuannya. Dan… kamu cintanya.”

Cia termangu. Matanya panas, bibirnya kelu. Meski bukan suara Arya yang mengucapkannya, ia tahu—kata-kata itu benar-benar milik Arya.

Baru kini ia sadar, selama ini dirinya begitu berharga bagi Arya. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Kenapa, Ar… Kenapa kamu simpan semua ini sendirian?

Hening menyelubungi. Hanya desau angin yang lewat, menyapu bunga melati di atas pusara.

“Arya itu… kurang ajar, ya,” gumam Cia tiba-tiba.

“Heh. Nggak boleh gitu, orangnya udah nggak ada.”

“Maksudku bukan gitu.” Cia buru-buru menyanggah, mengibaskan tangan kecil. “Kenapa dia nggak bilang langsung ke aku? Padahal dulu kita deket banget.”

“Kalau dia bilang… bukannya justru kalian jadi asing?”

Cia spontan menoleh. Mulutnya sedikit terbuka, ingin protes, tapi tertahan. Kepalanya kembali tertunduk, menatap tanah basah. Kata-kata Rizal menancap tepat di hatinya.

“Dia nggak mau hubungan kalian jadi rusak gara-gara perasaan itu. Buat Arya, sudah bisa dekat denganmu saja dia bersyukur. Bisa dengar suaramu, lihat tawamu… itu sudah jadi kebahagiaan untuknya. Dia nggak mau merusak semua itu hanya karena ego.”

Rasa perih itu tiba-tiba menyerang, membuat Cia menunduk tak berdaya. Sekuat itukah Arya menahan perasaannya selama ini?

“Setahun ini, kalian memang nggak deket lagi, kan?” tanya Rizal pelan.

Cia hanya mengangguk, lesu. Mereka nyaris tak pernah mengobrol lagi. Entah karena sibuk, atau… karena sama-sama berhenti peduli.

“Dia memang sengaja melakukannya. Dia ingin mencoba melupakanmu, Cia.”

“Kenapa begitu?”

“Arya nggak mau terlihat lemah di depanmu,” jawab Rizal. Kata-katanya menusuk, membuat napas Cia tercekat.

“Selama ini Arya sendirian. Nggak punya teman buat curhat, nggak punya tempat buat berbagi. Masalah hidupnya serumit itu, tapi… dia tanggung sendiri.”

Bahu Cia bergetar. Kedua tangannya menggenggam erat di depan dada, seolah berusaha menahan dirinya dari runtuh.

“Tapi tetap saja… dia nggak pernah bisa melupakanmu. Karena hanya kamu yang dia punya. Kamu orang pertamanya. Orang pertama di hidupnya.”

Rizal menarik napas panjang, suaranya bergetar. “Kondisinya makin parah tiap hari. Dia tahu waktunya nggak lama. Tapi dia tetap bertahan. Untuk kamu. Cuma karena kamu.”

“Ke-kenapa… aku sebegitu berarti buat dia?” Suara Cia pecah. Tangisnya lolos bersama kata-kata, serak dan patah-patah.

“Karena dia sudah kehilangan segalanya. Keluarganya. Bapaknya. Lalu siapa lagi yang tersisa? Cuma kamu, Cia. Kamu yang masih ada di dunia ini. Itu sebabnya, kamu jadi satu-satunya harapan terakhirnya.”

Cia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tapi air matanya tak terbendung.

“Ia ingin bilang semua itu langsung padamu. Ingin habiskan sisa waktunya bareng kamu, kayak dulu. Supaya ada kenangan terakhir sebelum dia pergi.”

Rizal menunduk, matanya basah. “Dia pernah cerita ke aku, sambil menangis di kasurnya. Katanya, dia takut kehilangan cinta pertamanya juga. Setiap hari dia takut mati tanpa sempat bikin kenangan bareng kamu. Karena setiap kehilangan selalu datang bersama penyesalan. Dan sekarang pun… dia menyesal.”

Tangis Cia akhirnya pecah. Bahunya berguncang. “Aku… aku nggak tahu, Zal. Maafkan aku…”

Rizal menunduk, menahan perihnya sendiri. Tapi ia tetap harus menyampaikan pesan terakhir.

“Arya… titip sesuatu buat kamu,” ucapnya lirih, hampir berbisik.

Cia menoleh. Wajahnya sembab, basah oleh air mata. Matanya memerah, bibirnya bergetar.

Rizal menelan ludah, lalu menyampaikan.

“Katanya… Terima kasih, Cia. Karena kamu, aku bisa merasakan hidup. Aku jadi tahu dunia ini bisa terlihat indah. Selama ini, aku nggak pernah kenal kebahagiaan kayak gitu. Melihat wajah cantikmu… senyum manismu… tawa lucumu… dan tingkah konyolmu. Semuanya bikin hidupku penuh warna.

Maaf, kalau aku pernah nyakitin kamu. Maaf kalau kehadiranku bikin kamu repot dan terganggu. Tapi aku tetap bersyukur sama Tuhan, karena aku bisa kenal kamu.

Cia menggeleng pelan, tak percaya, air matanya makin deras.

Aku tak pernah bisa menemukan cinta di keluargaku. Tapi aku berhasil menemukan cinta… di dalam dirimu. Itu yang bikin aku kuat, bikin aku mau berjuang untuk hidup.

Rizal menunduk lebih dalam.

“Dia bilang, tetaplah tumbuh cantik dengan senyum di bibir kecilmu. Carilah laki-laki yang tampan dan pintar. Yang bisa jagain kamu, yang bisa ngasih cinta yang besar. Jangan sering overthinking. Jaga kesehatan, jangan tidur terlalu malam.

Cia menahan napas, pundaknya berguncang hebat.

Bahagiamu itu penting buatku. Jadi, tolong jangan sedih, ya. Kalau kamu menangis, aku ikut menangis diam-diam… aku nggak kuat melihatnya.

Rizal menutup matanya sebentar, suaranya serak saat mengakhiri.

Terima kasih, Cia… untuk segala hal yang kamu berikan dalam hidupku.

Seolah dunianya runtuh. Tangisnya makin hebat, tak tertahankan. Tangannya menggenggam tanah basah, wajahnya rebah ke pusara. Dadanya sesak, perih sekaligus sakit.

“Kenapa… kenapa aku baru tahu sekarang? Kenapa aku nggak pernah sadar…?” suaranya parau, pecah bersama isak.

Rizal terdiam, matanya menatap tanah. Melihat Cia menangis di makam sahabatnya membuat hatinya tercekat. Ia merasakan rasa sakit dan penyesalan itu—tapi semuanya sudah terlambat. Orang yang mereka tangisi telah pergi, dan tak akan kembali.

“Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu, Cia,” ucap Rizal hati-hati.

Cia menoleh pelan. Wajahnya sembab. Napasnya tersengal.

“Arya pernah ingin mengirim sebuah pesan buat kamu.”

“Pesan?” Cia tercengang, mencoba mengatur napasnya di antara tangisnya.

“Iya.” Rizal merogoh saku, mengeluarkan ponsel. “Tapi pesan itu tak pernah sampai padamu.”

Ia menyalakan layar, jarinya menelusuri galeri. “Aku sempat mengambil foto… pesan terakhirnya. Ditujukan untukmu, tapi belum sempat terkirim. Arya keburu pergi.”

Cia menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. Napasnya tercekat. Matanya langsung berkaca-kaca lagi, tubuhnya bergetar hebat ketika melihat foto di layar.

Sebuah pesan singkat.

Sederhana.

Namun begitu menghancurkan.

“Aku sangat mencintaimu, Cia.”

Cia terdiam. Air matanya tumpah deras, lebih kuat dari sebelumnya. Tangannya menutup mulutnya rapat, seolah tak sanggup menahan hantaman kalimat sederhana itu. Pesan yang seharusnya sampai… pesan yang mungkin bisa merubah segalanya… kini hanya jadi kenangan pahit.

Tangannya menggenggam ponsel erat, seakan takut huruf-huruf itu lenyap.

“Arya… kenapa kamu nggak pernah bilang? Kenapa harus sesulit ini?”

Rizal tetap hening, membiarkan Cia larut dalam tangisnya.

Di tengah sunyi, Cia akhirnya mengerti satu hal. Bahwa manusia memang penuh misteri—bahkan orang terdekat sekalipun, bisa menyimpan rahasia sebesar hidupnya sendiri.

Kini, hanya keheningan yang memeluknya. Hanya hujan air mata, tanah basah, pusara dingin, dan sebuah pesan yang tak pernah terkirim.

Catatan Kecil dari Penulis:

Cinta dalam diam. Indah ketika tak diungkapkan. Agung ketika tak dipaksakan. Dan suci ketika didoakan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Atas Podium

Retak di Angkringan

Daripada Cuaca Cerah, Aku Lebih Menyukaimu