Rumah Makan Terakhir: 1 vs 3

Pintu besi itu turun. Tawa mereka membeku. Malam pun mulai memilih siapa yang pantas mati.

Nara berdiri tegang di pinggir jalan. Sejak tadi, pandangannya tak pernah lepas dari rumah makan Padang di seberang. Matanya menatap lurus ke depan, mengawasi empat orang yang duduk di sana—tertawa keras, seolah dunia hanya milik mereka.

Tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengeras. Di antara tawa itu, ada satu wajah yang tak asing—duduk santai, tertawa. Orang yang telah memperkosa adiknya. Dan kini, masih bisa mengisap rokok dengan tenang, seakan tak pernah berbuat dosa.

Sekelebat bayangan tubuh adiknya yang tergantung masih menghantui pikirannya. Seolah baru semalam kejadian itu terjadi. Rasa sesak, duka, dan amarah bercampur menjadi satu, menyesak di dada.

Malam turun makin pekat. Kendaraan sudah jarang melintas. Rumah makan itu hampir tutup, menyisakan empat orang yang masih betah bercanda di dalam.

Nara menarik napas panjang. Tangannya bergetar, tapi genggamannya semakin kuat. Ia sudah meneguhkan hatinya malam ini. Langkahnya cepat dan menyeberang jalan, lalu masuk ke dalam rumah makan.

Semua kepala serempak menoleh ke arahnya. Mereka memandangi Nara dengan tatapan bingung, lalu tertawa kecil, menganggapnya hanya gadis aneh yang nyasar.

Salah satu dari mereka bangkit. Tubuhnya besar dan berisi. “Hei. Lebih baik kamu pulang, tidur cantik di rumah. Kita nggak mau berbuat jahat kok.”

Nara tak menjawab. Tatapannya tetap lurus—menusuk ke arah satu orang, ketua geng itu. Api amarah membakar di dalam dadanya.

“Kau…” suaranya berat. Ia mengangkat tangan, telunjuknya teracung lurus. “Kau yang sudah membunuh adikku!”

Suasana langsung hening sesaat, sebelum tawa sinis pecah dari meja itu. Beberapa terkekeh, yang lain menatapnya dengan ejekan. Sementara sang ketua hanya bersandar di kursinya, tenang. Bibirnya sedikit terangkat, seolah tuduhan itu hanya lelucon murahan.

Nara mendengus, napasnya berat. Matanya memerah, berkilat seperti bara api yang menyala.

“Heh! Usir saja perempuan itu! Ganggu tongkrongan saja!” ujar seseorang.

Lelaki bertubuh besar itu maju, mendorong Nara dengan kasar. “Pergilah! Selagi aku masih baik-baik sama kamu.”

Nara menoleh perlahan. Tatapan tajamnya menembus wajah lelaki gumpal itu. Napasnya menderu.

Dalam hitungan detik, tangannya bergerak cepat—meraih garpu di meja, menghujamkannya ke bahu lelaki itu.

Garpu itu menancap dalam. Darah langsung merembes di sela jemari Nara.

“AARGH!” teriak lelaki itu parau, tubuhnya terhuyung ke belakang.

Ruangan mendadak tegang. Orang-orang memekik, terkejut melihat serangan Nara yang datang tiba-tiba. Kebingungan berubah cepat jadi amarah liar.

“Bangsat! Apa yang barusan kau lakukan?” teriak salah satu. Ia langsung bangkit, tanpa ragu mengayunkan tinju ke wajah Nara.

Nara terpental ke belakang, tersungkur menghantam lantai.

“Pergi! Dasar cewek brengsek!” Orang itu mendekati temannya, memeriksa keadaan, membantu mencabut garpu yang masih menancap di bahu lelaki itu.

Nara tertawa, kecil yang getir. Tangannya menyentuh pipi, meraba denyut sakit yang merambat hingga rahang. Darah hangat mengalir di sudut bibirnya, tapi rasa sakit itu tak sebanding dengan yang menyesak di dadanya.

Ia bangkit secepatnya. Tenaganya belum habis. Ia tak akan roboh semudah itu.

Di tengah kekacauan—sibuk dengan lelaki besar itu—Nara melompat ke depan dan meraih pintu besi gulung. Dengan tarikan kasar, ia menurunkannya. Aluminium berderak, lalu pintu menutup rapat. Rumah makan Padang itu seketika terisolasi dari dunia luar.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tutup pintu itu?” Lelaki yang tadi memukulnya berteriak. Wajahnya memerah. Rahangnya mengeras.

Nara mengangkat dagu perlahan. Matanya kosong—bukan lagi marah, bukan lagi takut, hanya gelap menyerap.

“Aku akan membunuh kalian semua di sini.” Ia tersenyum, disusul cekikikan kecil dan rendah.

Dia merangsek maju, menubruk lelaki itu dengan berat badannya. Meja berguncang, gelas dan piring berjatuhan, pecah berdebam ke lantai.

Saat keributan terjadi, sebelum lelaki itu sadar dan bangkit, Nara langsung melancarkan serangannya. Tinju demi tinju menghantam wajah lelaki itu.

Satu kali.

Dua tinju. Darah segar mengucur dari sudut bibirnya.

Pukulan ketiga. Kuat. Membuat satu matanya langsung membiru.

Tangannya terangkat tinggi, siap mendaratkan pukulan sekali lagi. Tapi—

Lelaki besar itu menangkapnya dengan langkah cepat, menariknya hingga tubuh Nara terbanting ke meja kasir dengan benturan keras.

Dua pegawai di belakang berteriak panik, merayap mundur ke pojok. Wajah mereka pucat. Tubuh mereka merapat satu sama lain, saling melindungi. Tak berani mendekat. Tak berani melerai.

Nara mendesis pelan. Punggungnya nyeri, terbentur keras. Ia mencoba berdiri tegak, butuh beberapa detik untuk menstabilkan napasnya yang berat, dan menahan rasa sakit yang menjalar di tulang belakang.

“Pegangi dia! Cepat!” Lelaki yang tadi dihajarnya kembali bangkit. Wajahnya lebam dan berlumur amarah, napasnya terengah, namun matanya menyala liar.

Lelaki besar itu segera mencengkeram tangan kanan Nara. Satu orang lagi, lebih kurus, memegang lengannya yang lain.

“ARGHH!!!” Lelaki yang dipukul tadi berjalan tertatih mendekat, memegangi pipinya yang bengkak. Wajahnya kini tampak menyedihkan, tapi dari matanya terpancar bara dendam yang membara.

“Apa yang kau pikirkan, hah, jalang?! Kenapa tiba-tiba menghajarku?!” teriaknya, suaranya serak bercampur amarah.

Nara mengangkat kepala pelan. Napasnya berat, tapi matanya menatap lurus, tak lagi bergetar.

“Kalian… kalian yang sudah memerkosa adikku. Dia nggak kuat… sedih… dan akhirnya bunuh diri.” Suara Nara parau, nyaris pecah. “Kalian sudah membunuh adikku!”

Keheningan menekan ruangan.

Lelaki itu terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa. Tawa keras, kasar, penuh ejekan. Bahunya berguncang, tubuhnya sedikit membungkuk karena terlalu keras menahan tawa.

“Jadi kamu ke sini cuma untuk balas dendam ke kami?” katanya, masih terkekeh.

Nara tak menjawab. Ia hanya menggeram pelan, matanya menatap lurus tanpa emosi.

Senyum sinis perlahan muncul di wajah lelaki itu. Pandangannya menelusuri tubuh Nara dari kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu menelanjangi, menyapu setiap lekuk tubuhnya dengan rakus.

Ia melangkah maju. Pelan. Menekuk lutut di hadapan Nara, mendekat begitu dekat hingga napasnya terasa di kulitnya.

“Kamu punya badan yang bagus rupanya,” bisiknya rendah.

Tangannya terulur, menyentuh sisi pinggang Nara. Gerakannya lambat, licin, menyusuri ke atas—menyibak bajunya secara perlahan. Matanya berkilat penuh birahi, napasnya berat dan tak beraturan. Ujung jarinya terus naik, membukanya lebih jauh lagi, mencoba membuka bagian tubuh yang lain.

Namun Nara hanya diam. Menatap lurus ke bawah, datar, tanpa sedikit pun reaksi.

“Ternyata pikiran kalian semesum itu, ya?” ucapnya pelan, tapi nadanya tajam, menembus.

Lelaki itu tertegun. Ia mendongak, berusaha membaca wajah Nara—

—dan pada detik itu juga, Nara bergerak.

Tanpa aba-aba, Nara membungkuk cepat, menggigit rambut lelaki itu—keras. Rahangnya mengunci, mencengkeram helaian rambut seperti gigitan binatang.

“A-ARGHH! BANGSAT!!” Lelaki itu menjerit tertahan.

Nara menggigit lebih dalam, menarik kuat-kuat. Dalam sekali hentakan kuat, segumpal rambut tercabut bersama kulit kepala. Lelaki itu menjerit, tubuhnya gemetar. Tangannya refleks menutupi luka di kepala yang berdenyut hebat.

Belum sempat ia bernapas, Nara langsung melontarkan tendangan ke dada lawan.

BUK!

Lelaki itu terpental ke belakang, menghantam meja. Piring, sendok, gelas berhamburan. Kursi jatuh menimpa lantai, menimbulkan bunyi gaduh.

Dua orang di sisi Nara terperangah. Cengkeraman mereka melonggar. Itu sudah cukup.

Nara langsung menyambar ke arah kanan. Giginya menancap di telinga lelaki bertubuh besar itu.

HAP!

Jeritan melengking menggema di ruangan. “ARGHH!”

Lelaki itu meronta, tapi Nara menggigit makin kuat, menariknya ke samping. Darah merembes dari sela giginya, menetes di pipinya sendiri.

Nara menggigitnya dalam sekali tarikan cepat. Teriakan berubah parau. Kulit telinga terkoyak.

“BANGSAT!! Aku kena lagi!” Lelaki itu memegangi sisi kepalanya, mundur sempoyongan, darah menetes deras membasahi bajunya.

Nara menoleh cepat, menatap pria kurus di sisi satunya. Mata mereka bertemu. Sebelum lawannya sempat berpikir, Nara menyambar gelas di meja kasir, menghantamkannya.

PYARR!

Gelas pecah. Suara retakan disusul semburan darah di pelipis lawan. Lelaki itu terjatuh, mengerang, menahan sakit yang seperti merobek dalam kepalanya.

Nara tak berhenti. Ia meraih kepala itu dengan kedua tangannya, lalu lututnya naik—

BUK! BUK!

Kepala lawan terhuyung ke belakang. Darah segar muncrat dari hidung dan bibirnya.

Lelaki itu mencoba menjerit, tapi tak sempat. Nara mundur setengah langkah, kaki kanannya meluncur deras—

BUKK!!

Tendangan itu menghantam rahang keras. Bunyi patahan terdengar samar. Tubuh lawan terpental, menghantam lantai, tak bergerak lagi.

Nara mengambil napas sejenak. Dadanya naik-turun cepat. Rambut pendeknya kusut, keringat mengalir deras di pelipis.

Di sebelah sana, lelaki yang baru saja ia tendang sedang merangkak, berusaha berdiri sambil menempelkan tangan ke kepala yang botak sebagian. Kulit kepalanya merah dan berdenyut, rontok berantakan.

Lalu, saat ia mencoba menoleh lagi, tubuh besar itu melesakkan dirinya—

DUG!

Mendorong Nara dari belakang. Seperti badai yang menimpa, Nara terpelanting ke depan, menubruk etalase penuh piring bertingkat.

Suara pecahan beruntun. Piring-piring jatuh, denting kaca yang retak. Kuah gulai dan minyak menyemprot, menyiram lantai jadi licin. Bau rempah yang tadinya menguar kini bercampur bau logam dan darah.

“DASAR JALANG! AKAN KUBUNUH KAU, ANJING!”

Lelaki besar itu berteriak, suaranya menggaung. Tinju besar mengayun deras, kuat—bisa mematahkan apa pun.

Nara bergeser cepat, melompat ke samping.

Tinju itu melesat, menabrak kaca etalase—CRASH!!—pecah berkeping, memekakkan telinga. Serpihan menancap di tangan lelaki itu. Darah meleleh di sela-sela jarinya, kilapannya seperti permata gelap.

Nara tak memberi ampun. Dia menyikat geraknya, meraih piring terdekat—keras, berat—menghantamkannya ke kepala lawan.

PAKK! Piring pecah. Bunyi denting memekakkan. Lelaki itu goyah sepersekian detik. Kesadaran sejenak melayang.

Nara kembali menghempaskan piring kedua, tanpa henti.

PAK!

Pecahan menabur. Darah memercik. Kepala lelaki itu pecah oleh hantaman beruntun.

Ia terhuyung, lalu terjatuh. Kepalanya membentur lantai dengan suara tumpul, tubuh besar itu ambruk tak sadarkan diri. Darah mengalir dari kulit kepalanya, menodai keramik dan tumpahan gulai, membuat lantai berwarna merah lengket.

Nara mengangkat kepala. Pandangannya berpindah pada satu sosok yang baru saja bangkit. Mereka saling menatap—mata saling menikam dalam diam. Lelaki itu mendengus keras, napasnya berat, wajahnya penuh amarah.

Ia melangkah maju, berteriak seperti binatang liar.

Nara tak menunggu, juga merangsek ke depan. Tangannya meraih kursi di dekatnya, melemparnya keras ke lawan.

Kursi itu melayang cepat.

Lelaki itu mengangkat tangan, mencoba berlindung—

BRAK!

Besi menghantamnya, membuat tubuh itu goyah. Sekejap pandangannya teralihkan. Ia lengah.

Detik berikutnya, Nara sudah menerjang ke depan. Kakinya melesat.

DUG!

Tendangan keras mendarat tepat di selangkangan.

“ARRGGHH!!”

Tubuh lelaki itu menegang, melipat. Tangannya refleks menutup bagian bawah. Wajahnya kaku menahan sakit yang menyambar sampai ke dada.

“Itu untuk otak mesummu. Aku perlu memberi pelajaran untuk burung kecilmu,” desis Nara, suaranya dingin dan tajam.

Nara tidak memberi jeda bernapas.

Ia melangkah sekali, menyambar kepala lawan dari belakang—mencengkeramnya kuat dengan dua tangan.

Dalam satu hentakan cepat, Nara melompat sedikit, menarik kepala dan tubuh itu—menghantamkannya ke lantai sekeras-kerasnya.

BRAK!

Kepala itu menghantam ubin. Suaranya tumpul dan berat. Tubuh itu langsung jatuh diam, napasnya terputus, terkulai tanpa suara.

Nara terbaring di lantai sejenak, napasnya tersengal. Matanya menatap langit-langit. Lampu neon putih berpendar silau, membuat dunia tampak bergetar. Ia menarik napas dalam, merasakan denyut sakit di setiap sendi—rahang, punggung, lengan yang bergetar halus.

Perlahan, ia bangkit. Kakinya mencoba tegak. Pandangannya lurus ke satu arah—ke lelaki yang masih duduk di kursinya.

Ketua tak bergeming. Tangannya bersedekap, wajahnya tenang. Ia tersenyum tipis. Senyum yang dingin, seolah menikmati kekacauan yang baru saja terjadi.

“Sekarang, giliranmu,” gumam Nara pelan, matanya tajam.

Ketua hanya tertawa kecil. Senyum di bibirnya makin lebar, seperti menantang maut datang menghampiri.

Nara sudah tak sabar untuk segera merobek mulutnya.

Bersambung...

Catatan Kecil:

Cerita ini terinspirasi dari film dan drakor aksi dengan tokoh utama perempuan. Dari sana, saya ingin menulis cerita tentang pahitnya kehilangan dan brutalnya perlawanan ketika perempuan menjadi korban pelecehan seksual. Mungkin perempuan seperti itu jarang kita temui di dunia nyata, tapi setidaknya mereka masih bisa hidup di dalam sebuah cerita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Atas Podium

Retak di Angkringan

Daripada Cuaca Cerah, Aku Lebih Menyukaimu