Cantik di Mataku

 Kembang api terlihat indah malam ini. Kamu juga—selalu—cantik di mataku.

Aku menggenggam tangan Binda erat, menuntunnya menuju pagar besi.

Rooftop bangunan tua yang sudah lama tak terpakai ini tampak sepi, nyaris terlupakan. Beruntung aku menemukannya. Dari sini, kembang api akan terlihat jelas—cukup tinggi, cukup jauh dari keramaian.

Kami berdiri berdampingan, tangan bertumpu pada pembatas besi sebagai pijakan. Pandangan Binda lurus ke depan, ke langit malam yang gelap, tanpa bintang. Di bawah sana, orang-orang berkerumun, saling berdesakan, seperti lautan manusia yang membanjiri kota.

“Masih lama lagi, Mata?” tanya Binda. Pandangannya tak bergeser.

Aku menoleh sekilas. “Tiga menit lagi. Kita datang tepat waktu.”

Binda tersenyum sebagai jawaban. Senyum lebar yang selalu membuatnya tampak manis dari sudut mana pun. Mata bulatnya mengerjap-ngerjap, tak sabar menanti kembang api meledak di langit.

Aku justru masih terpaku memandang wajahnya. Tak pernah bosan bisa melihat Binda dari jarak sedekat ini. Kebahagiaan menyelinap pelan ke dalam dadaku, seperti melati yang tiba-tiba tumbuh—putih, tenang, di tengah gelapnya malam.

Beberapa minggu lalu, aku berjanji mengajaknya melihat kembang api saat malam tahun baru. Aku tahu, Binda pasti akan langsung menolak.

“Ngapain, ih. Cuma ngerepotin kamu doang. Lagipula, nggak penting juga buat aku,” katanya pagi itu, saat aku datang ke rumahnya.

“Ya nggak apa-apa. Aku cuma pingin kamu bisa ngerasain kayak orang-orang lain. Bisa ikut merayakan tahun baru,” jawabku beralasan.

“Tapi gimana caranya buat aku?”

“Tenang aja. Nanti aku bantuin kamu. Kamu aman kalau ada aku.”

Binda tertawa pelan, lalu akhirnya setuju.

Dan kini kami berdiri di sini. Di rooftop bangunan tua ini, hanya kami berdua dalam hening. Sementara hiruk-pikuk dunia tetap bergemuruh, mengelilingi kami dari kejauhan.

Angin malam berdesir lembut. Dingin, tapi sekaligus sejuk, menyusup pelan ke kulit.

Aku melirik jam di tanganku. Tinggal beberapa detik lagi, hingga kembang api diluncurkan, hingga tahun benar-benar berganti.

“Masih lama, kah, Mata?” Binda kembali bertanya. Tangannya mencengkeram pagar besi di depan, jemarinya tampak tegang. Tatapannya tetap lurus ke depan.

“Sebentar lagi,” jawabku sambil tersenyum tipis. “Mau hitung bareng, nggak?”

Binda mengangguk cepat. “Ayo!”

“Lima…” aku mulai menghitung. Binda langsung mengikuti.

Empat…

Tiga…

Dua…

Satu…

Sebuah cahaya tipis meluncur ke atas. Garisnya cepat, membelah langit, meninggalkan jejak warna sesaat.

Byar!

Kembang api itu meledak. Suaranya keras, memecah malam. Beberapa orang di bawah sana berseru, disusul teriakan lain. Satu demi satu, kembang api meluncur, mekar di udara, lalu menghilang.

Orang-orang bertepuk tangan, berteriak penuh bahagia. Mata mereka tak berkedip, kepala terus mendongak. Takut kehilangan momen walau hanya sedetik.

Langit berkali-kali terang, lalu kembali gelap. Warna-warni mekar di angkasa. Ledakan besar yang menggelegar, indah dengan caranya sendiri. Ada yang meletup kecil, sederhana, tapi tetap cantik saat hamparan hitam itu dijatuhi cahaya terang.

“Pasti indah banget, ya, Mata,” seru Binda. Matanya tak berkedip. Tangannya masih bertumpu pada besi.

Aku menoleh perlahan. Menatap wajahnya yang disinari berjuta warna dari kembang api—pantulan cahaya menari di kulitnya. Cantik. Lebih dari biasanya.

“Iya,” jawabku lirih, dengan nada yang sedikit sendu. “Cantik banget.”

Andai pemandangan di hadapannya saat ini… bisa Binda lihat.

“Warnanya apa aja, ya? Ah, tapi aku lupa. Aku kan nggak bisa bedain warna. Warna aja aku nggak tahu.” Binda tertawa pelan, seolah itu bukan sesuatu yang menyakitkan baginya.

Aku menunduk. Dadaku menghangat, perihnya datang tiba-tiba. Air mata hampir jatuh, tapi kutahan. Aku tidak boleh terlihat menyedihkan di hadapan Binda. Kalau tidak, ia akan tahu.

Aku menarik napas, lalu mengangkat kepala. Senyum kecil terangkat, terasa kaku.

“Kamu nggak perlu tahu warna-warnanya,” kataku pelan. Suaraku kujaga tetap tenang, meski hatiku tidak. “Yang penting… rasanya.”

Hening.

Binda diam. Kepalanya sedikit menoleh, tidak tepat ke arahku. Seperti sedang berusaha memastikan aku benar-benar ada di sana.

“Kamu pernah ngerasa nggak, kalau senyum itu bisa bikin dada jadi ringan?”

Binda mengangguk kecil.

“Kayak gitu kembang api. Bukan karena warnanya. Tapi karena tiap kali dia meledak, rasanya kayak… dunia lagi senang. Kayak semua orang berhenti sebentar, cuma buat ngerasain momen yang sama.”

Ledakan kembang api meletup keras. Suaranya menggema, disusul sorakan ramai dari jalanan.

“Kamu dengar barusan?” tanyaku.

“Iya.”

“Itu,” kataku lirih, “mirip rasanya tiap kali kamu manggil namaku. Ramai. Hangat. Kayak ada sesuatu di dadaku yang ikut meledak pelan, tapi malah bikin tenang.

“Kalau kembang api bikin orang-orang teriak senang, senyummu bikin aku ngerasa… cukup.”

Kami terdiam. Mataku tetap tertuju pada Binda, menatap lurus ke arah bola matanya yang tak memantulkan cahaya—tidak berkilau, seolah tak hidup. Tapi aku bisa merasakannya.

Binda sama sekali tidak terlihat menyedihkan. Bahkan kekurangannya saat ini tampak begitu pas untuk dirinya.

Seharusnya aku merasa malu mengatakan semua ini. Malu jika perasaan yang sudah lama kupendam akhirnya terdengar olehnya.

Namun wajah polosnya tetap terlihat begitu cantik di mataku. Seperti purnama di tengah malam. Atau mentari yang muncul di balik mendung.

Binda berbeda. Meski ia tak bisa melihat, orang-orang tak pernah tahu kalau Binda jauh lebih indah daripada apa pun yang bisa mereka lihat.

Empat tahun lalu. Saat itu aku baru mulai menyadari bahwa Binda adalah perempuan paling istimewa yang pernah kutemui.

Kami sudah bersahabat sejak kecil. Orang tua kami dekat, dan aku hampir selalu menghabiskan waktu bersama Binda. Tapi baru saat itu aku benar-benar paham, bahwa Binda mampu melakukan hal yang tak bisa dilakukan orang lain. Meski ia tak melihat, ia justru bisa melihat dengan cara yang berbeda. Dengan cara yang lebih jauh, dengan merasakan.

Malam itu, kami makan bersama di rumahnya. Aku membawa sesuatu yang berat di dalam diri, berusaha menyimpannya rapat-rapat. Aku merasa sudah cukup tenang, cukup rapi menyembunyikannya.

Tapi tanpa kuduga, Binda tahu.

“Kamu kenapa, Mata?” tanyanya pelan. “Kok kayak sedih gitu malam ini. Ada masalah?”

Aku tersentak. “Kok kamu tahu?”

“Napasmu,” jawabnya singkat.

Aku mengernyit, tak mengerti.

“Napasmu terdengar beda dari biasanya,” lanjut Binda. “Aku udah kenal kamu bertahun-tahun. Dari caramu bernapas aja, aku tahu kalau ada yang nggak beres. Sebenarnya, kamu kenapa?”

Aku membeku.

Binda mengetahuinya hanya dari caraku bernapas. Dari helaan yang bahkan tak kusadari berubah. Katanya, nadanya berbeda—dan itu cukup baginya untuk tahu.

Meski Binda tak bisa melihat, ia tetap bisa menyadari. Lewat suara. Lewat udara. Lewat perasaan. Bukan dari wajahku, bukan dari ekspresi yang kutampilkan, melainkan dari sesuatu yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.

Sejak saat itu aku mengerti. Binda mungkin tak bisa melihat dunia, tapi ia melihatku—lebih dalam dari siapa pun.

Dan di sanalah, pada momen sederhana itu, aku mulai jatuh cinta padanya. Diam-diam.

“Mata…” Binda memanggilku.

Aku tersadar, kembali fokus padanya. “Kenapa? Ada apa?”

“Kamu kenapa diam?” tanyanya. “Lagi mikirin sesuatu, ya? Aku boleh tahu?”

Aku terdiam sejenak, lalu senyum tipis terukir di bibirku. Lagi-lagi, Binda menyadarinya. Gadis ini benar-benar tahu apa yang sedang kulakukan.

“Kok kamu bisa tahu?” tanyaku, meski sudah menebak jawabannya.

“Napasmu,” katanya. “Kedengarannya sunyi. Rasanya kamu lagi mikirin sesuatu.”

Aku tertawa pelan, hampir menyerah.

Binda selalu tahu. Hanya dari caraku bernapas. Aku sendiri tak pernah bisa mengelak, tak bisa bersembunyi. Apa pun yang kucoba sembunyikan darinya, cepat atau lambat akan diketahui olehnya.

Dan hanya Binda—orang yang begitu paham perasaanku. Bahkan sebelum aku sempat mengatakan apa pun, ia sudah lebih dulu mengerti. Gadis ini benar-benar luar biasa.

“Aku nggak mikirin apa-apa,” jawabku ringan. Kebohongan kecil.

“Aku nggak percaya,” katanya. “Kamu pasti lagi mikirin sesuatu.”

Aku tersenyum lebih lebar. “Iya. Barusan mikirin sesuatu. Kamu pintar banget. Bisa tahu kapan aku bohong, kapan aku jujur.”

Binda membalas dengan senyum tipis. Malam ini ia terlihat manis. “Emang mikirin apa?”

“Ada lah pokoknya. Kamu nggak perlu tahu.”

Bibirnya langsung turun, kecewa. Tapi sesaat kemudian, senyumnya kembali muncul, seolah memilih tak memusingkan hal itu.

Kembang api masih terus meluncur di depan sana. Suara ledakannya menggema, memantul ke setiap penjuru kota. Warna-warni kembali menerangi langit yang gelap.

Aku mengeluarkan ponsel dari saku, menyalakan kamera.

“Kita ambil foto, yuk. Mumpung di sini. Kita harus foto yang banyak.” Aku membalikkan badan, membelakangi kota, mengangkat ponsel untuk swafoto bersama.

Binda berusaha ikut berbalik. Tangannya masih menggenggam pembatas besi, bergerak hati-hati. Kepalanya terangkat, mencoba menyesuaikan posisi—meski sebenarnya ia tak melihat apa pun.

“Aku kelihatan cantik, nggak?” tanyanya. “Aku nggak mau foto kalau aku jelek.”

“Cantik, kok. Kalau nggak cantik, mana mungkin aku mau ajak kamu nonton kembang api,” jawabku.

“Ih!” Binda memukul lenganku tiba-tiba. Kali ini tepat sasaran. “Jadi kamu sukanya sama yang cantik-cantik, ya?”

“Menurutmu?”

Binda menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Yang penting aku tetap cantik.”

Aku tak membalas. Hatiku sudah terlanjur penuh hanya dengan melihatnya tersenyum begitu.

Tanganku meraih bahunya, menariknya mendekat. Binda sempat menegang, terkejut, lalu diam menurut.

“Kamu menghadap ke sini, ya.” Jemariku menyentuh pipinya dengan lembut, menyesuaikan arah wajahnya agar pas di depan kamera.

“Udah benar, kan?” tanyanya.

“Iya.” Aku menatapnya sejenak dari samping. Rambut panjangnya menjuntai lembut, digerakkan angin malam.

“Kamu selalu cantik di mataku, Binda,” ucapku lirih. Terlalu lirih—entah ia mendengarnya atau tidak.

Saat kami bersiap mengambil gambar, Binda tetap diam. Sepertinya ia memang tak mendengarnya.

Aku hanya tersenyum tipis. Dadaku terasa sesak, nyeri menekan dari dalam. Ternyata, menyembunyikan perasaan ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada mengakuinya.

Aku menghela napas pendek.

Pada akhirnya, kami berdua sama-sama buta. Aku buta karena tak bisa melihat perempuan cantik selain dirinya. Dan Binda—buta karena tak pernah bisa melihatku sebagai seseorang yang mencintainya.

Komentar

  1. Penulisan karakternya kuat namun untuk konfliknya nyaris tidak ada. Bisa dikembangkan lagi, goodluck.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Atas Podium

Retak di Angkringan

Daripada Cuaca Cerah, Aku Lebih Menyukaimu