Langit Tak Lagi Biru
Langit berubah. Bukan karena cuaca, tapi karena takdir memilih merenggut segalanya.
“Buatlah keluarga kami bangga, Nak,” ucap Bapak sambil memelukku erat. Pelukannya terasa mantap, seolah ia sedang menyalurkan seluruh semangatnya padaku.
Aku mengangguk pelan, lalu
melangkah menghampiri Ibu. Mata kami saling bertaut cukup lama. Dari sorot
matanya yang berkaca-kaca, aku tahu—ia belum sepenuhnya rela melepaskanku.
“Reyan berangkat dulu ya,
Bu.” Aku mencium punggung tangannya, lalu memeluknya erat, penuh kasih sayang.
Kehangatan tubuhnya menyelimuti tubuhku—kehangatan yang sebentar lagi tak akan bisa
kurasakan.
Ibu mengelus lembut
punggungku. “Hati-hati di jalan, ya. Kami selalu mendoakanmu dari sini,” ujarnya
dengan suara parau, diiringi isak kecil yang tertahan di ujung kalimatnya.
Perlahan, dan dengan berat
hati, aku melepaskan pelukanku dari Ibu. Lalu bergeser mendekati adik
perempuanku.
“Mas Reyan jangan aneh-aneh
ya di luar kota. Awas lho!” katanya dengan mata mendelik tajam. Jari
telunjuknya teracung ke arahku, seolah sedang mengancam—meski sama sekali tak terlihat
menakutkan. Justru, ia tampak begitu menggemaskan.
Aku tersenyum tipis. Tanganku
menyambar kepalanya, mengacak-acak rambutnya yang kini sudah panjang sebahu.
“Iya, Mas nggak bakal
aneh-aneh.”
“Ih! Mas Reyan!” serunya
kesal. Ia segera menepis tanganku dari kepalanya. Bibirnya mengerucut. Tangan
kecilnya sibuk merapikan rambut yang kusut.
Aku tertawa pelan. Lalu membentang
kedua tangan, memeluk adikku yang paling menggemaskan. Ia membalas pelukan itu
dengan hangat. Kekesalannya lenyap, tergantikan isak tangis yang mulai pecah.
Aku berdiri di depan mereka,
terdiam sejenak. Mataku menatap wajah mereka satu per satu. Kesedihan perlahan merayap
ke dalam hatiku, seakan sulit percaya bahwa perpisahan akan datang secepat ini.
Mereka bertiga mengangguk pelan,
menyunggingkan senyum getir. Seolah berkata bahwa aku boleh pergi sekarang—bahwa
mereka sudah rela melepas kepergianku.
Aku membalas dengan anggukan
kecil. Tanganku melambai pelan di udara. Dengan berat hati, aku berbalik,
melangkah pergi meninggalkan keluargaku di sana.
Setiap langkah terasa begitu
berat. Hati belum benar-benar siap menjauh dari rumah. Kesedihan mengiringi di setiap jejak kaki. Ada kekhawatiran dan kerinduan yang sudah menggantung
di dada—meski aku baru beberapa meter menjauh dari mereka.
Entahlah... tanpa
kehadiranku, aku tak tahu bagaimana kehidupan mereka akan berjalan. Anak
pertama mereka, yang biasa membantu dan menjadi sandaran, kini tak lagi ada di
rumah. Ia harus pergi demi mengejar cita-cita yang besar.
Aku langsung menggeleng
cepat. Kedua tanganku menampar pelan pipiku, mencoba mengusir pikiran-pikiran buruk
itu.
Aku harus kuat. Tujuanku pergi
ke luar kota bukan sesuatu yang remeh. Ini demi masa depan kami.
Aku harus melanjutkan studiku.
Aku harus kuliah. Demi membuat mereka bangga.
“Bakalan kangen kamu habis
ini.”
Rania. Sahabatku.
Tetanggaku. Dan juga… perempuan yang diam-diam kusukai.
Ia berdiri di ujung gang desa,
seolah sengaja menungguku di sana.
Senyum lebar langsung
merekah di wajahku saat melihatnya. Hatiku teramat bahagia—bersyukur bisa melihatnya
sekali lagi sebelum pergi.
Sejujurnya, aku sempat
berpikir tak akan sempat bertemu dengannya. Sejak tadi pagi aku mencarinya ke
mana-mana. Tapi siapa sangka, ternyata dia berdiri santai di sini—di tempat
yang paling tak kuduga.
Aku melangkah mendekatinya, berniat
memberikan salam perpisahan untuk terakhir kalinya.
Kupeluk tubuhnya cukup lama,
menuntaskan rasa rindu untuk beberapa bulan ke depan. Hatiku berdesir lembut.
Kesedihan perlahan menyelinap masuk, mengisi ruang yang sebentar lagi akan dihuni
kerinduan.
Padahal, kami hampir selalu
bersama—bermain, mengobrol, tertawa. Tapi kini, kami harus berpisah. Terpisah oleh
jarak yang tak bisa dielakkan.
“Hati-hati di jalan, ya,”
ucap Rania, senyum manis mengembang di bibirnya.
Aku mengangguk pelan. Ragu. Masih
belum benar-benar sanggup melepasnya.
Tapi waktu terus berjalan. Dengan
terpaksa, aku kembali melangkahkan kaki. Pergi.
Kami saling melambaikan
tangan di udara. Senyum lebar—meski getir—menghiasi wajah kami. Suara kami saling
bersahutan, memanggil nama masing-masing, saling mengingatkan untuk menjaga
diri… dan berjanji untuk tak saling melupakan, meski hanya untuk satu hari.
Pagi ini suasana terasa
hangat—sekaligus berat. Rasanya, hati masih belum benar-benar rela berpisah dengan
keluarga, sahabat, dan kampung halaman. Meski begitu, aku tetap harus melangkah
maju.
Matahari sudah tinggi di
langit, cahayanya menyapu bumi dengan damai. Angin sejuk berhembus pelan,
menyentuh wajahku dengan lembut. Jalanan tampak lengang dan tenang—seolah pagi ini
memang disiapkan khusus untukku.
Langit terlihat begitu indah
dari biasanya. Warna biru cerah membentang luas, dihiasi gumpalan awan putih yang
menggantung seperti lukisan abstrak. Alam seperti sedang berbicara padaku, mencoba
menghibur kesedihan yang bersarang di hati.
Tapi… keindahan itu tak
berlangsung lama.
Tiba-tiba.
Suara mengaung memecah
keheningan. Langit bergetar. Kilatan logam meluncur cepat di atas kepala—meninggalkan
jejak asap panjang di langit biru.
Aku terpaku. Tubuhku
membeku. Mataku membelalak.
Sebuah rudal.
Waktu seolah berhenti. Suara
burung menghilang. Angin pun mendadak lenyap.
Rudal itu meluncur cepat,
menyayat langit. Desingannya tajam, memekakkan telinga. Terus melesat, tak terbendung.
Benda logam itu melaju ke arah—
Desaku.
Jantungku bergemuruh. Napasku
tercekat.
Desaku… Keluargaku… Rania…
Kakiku refleks bergerak—naluri.
Aku berlari, menyusuri jalanan dengan napas tersengal. Aku tak sempat berpikir.
Bergerak tanpa sadar. Yang kutahu hanya satu, kembali. Sekarang juga.
Kembali ke desaku. Ke
keluargaku. Ke orang-orang yang tak tahu bahaya sedang menuju mereka.
Tapi rudal itu terlalu
cepat. Terlalu mematikan. Bahkan langkah lariku tak mampu mengejarnya.
Hanya dalam sekejap mata. Semuanya…
terlambat.
BOOOOOOMMM!!!
Ledakan itu datang. Suaranya
menggelegar, membelah langit. Dentumannya dahsyat, mengguncang bumi, disusul
getaran hebat yang merambat hingga ke dada.
Gelombang udara menghantam
tubuhku. Aku tak sempat berlindung. Tubuhku terangkat, terlempar jauh ke
belakang, lalu menghantam keras ke tanah.
Semuanya mendadak senyap. Hening.
Hanya dengingan panjang yang mengisi telingaku.
Mataku terbuka, tapi pandanganku
buram. Kabur. Berputar.
Dengan susah payah, aku
mencoba bangkit. Kaki gemetaran. Langkah tertatih. Darah hangat mengucur dari
kepala, mengalir turun ke dagu. Kulit robek di beberapa bagian. Sakitnya luar
biasa—menusuk.
Tapi aku harus tetap
berjalan. Harus kembali. Ke desaku.
Tubuhku mematung. Tak
bergerak. Diam.
Mataku membelalak lebar. Napasku
tercekat. Jantungku seolah berhenti berdetak.
“AAARRGGHHH!!!”
Aku menjerit. Meraung. Suaraku
menggema, menyayat, merobek udara.
Aku terjatuh, lemas. Bersimpuh.
Tangisan pecah tanpa bisa dibendung. Tanganku gemetar, memukuli tanah dengan
putus asa.
Semuanya… sudah hancur.
Rumah-rumah rata dengan
tanah, hanya menyisakan puing-puing yang berserakan. Asap hitam membumbung ke
langit. Api kecil menyala di antara reruntuhan.
“Ibu… Bapak… adik…” suaraku
serak, nyaris tak terdengar.
Tak ada jawaban. Tak ada suara.
Semuanya hening. Sunyi.
Hanya angin yang berhembus—membawa
debu dan tangisan bisu.
“Rania…”
Hatiku mencelos. Air mata
mengalir deras tanpa suara.
Tak ada yang selamat. Tak
satu pun. Semuanya lenyap. Mati.
Aku hanya bisa menjerit. Sendirian.
Di tengah kehancuran yang tak menyisakan apa-apa.
Langit kala itu berubah kelabu.
Mendung pekat menggantung berat—seolah ikut berkabung bersamaku.
Dan hari ini, langit itu
masih terlihat sama. Awan hitam menggantung di atas kepala, menebar kegelapan ke
seluruh kehidupan di bumi.
Tapi aku sudah berubah. Aku
bukan lagi anak desa yang kehilangan segalanya.
Aku yang sekarang adalah seorang
prajurit tempur—yang lahir dari puing-puing masa lalu. Yang tak lagi punya apa
pun untuk ditangisi.
Saat ini, aku berdiri. Di
tempat lain.
Perjalanan satu setengah
tahun telah membawaku ke titik ini. Dunia tak memberiku pilihan lain—hanya medan
perang untuk dilawan. Untuk bertahan.
Komandan berdiri di depan
kami—anak-anak buahnya.
Wajahnya keras. Tatapannya tajam.
Rahangnya mengatup tegas. Tubuhnya tegap, gagah, penuh wibawa.
Ia berteriak lantang. Suaranya
membara. Menyulut bara semangat sebelum kami terjun menyerang.
“Hari ini kita berdiri bukan
untuk menang… tapi untuk bertahan! Demi yang telah hilang! Demi yang masih tersisa!”
Kami menjawab serempak. Bersorak, menggema,
membakar jiwa semangat dalam dada. Kami siap bertempur. Siap melawan musuh yang
telah merenggut segalanya dari kami.
Di kejauhan, dentuman meriam
menggetarkan tanah. Suara tembakan tak henti bersahutan. Jeritan menggelora,
merobek udara. Raungan tank menggerus tanah yang kini sudah berlumur darah.
Asap tebal melayang di mana-mana, menyelimuti medan tempur dengan bayang
kematian.
“Prajurit…!” Komandan
berteriak lantang, menata barisan.
Kami sontak berdiri tegap. Tangan
menggenggam senjata erat. Jari menyentuh pelatuk—sedikit menariknya. Mengecek
ulang peluru. Penuh.
Langit di atas sudah lama tak
berwarna biru. Hanya mendung pekat. Tak ada cahaya. Tapi di balik kabut dan
kelam, kami masih percaya pada harapan.
Debu dan asap menyatu di
udara, membuat napas terasa berat. Semua orang diam. Menunggu. Tegang. Siaga.
“MAJUUU!!!”
Teriakan perang akhirnya
diserukan. Dan seketika semuanya meledak.
Kaki-kaki bergerak maju ke
medan tempur, seperti ombak liar yang menghantam segalanya. Pasukan melompat keluar
dari perlindungan, berpencar sesuai formasi.
Aku ikut berlari. Napasku
panas di tenggorokan. Adrenalin memuncak. Ketakutan berubah jadi amarah.
Peluru beterbangan di
sekelilingku. Satu per satu prajurit tumbang. Terkapar. Tak bernyawa. Ledakan
menyambar tanah—menghancurkan tanpa ampun, membunuh beberapa prajurit
sekaligus.
Tapi aku tak peduli. Yang kutahu hanya satu hal—ini saatnya. Entah untuk menang… atau mati.
Aku memang kehilangan segalanya hari itu. Tapi aku masih hidup. Dan selama aku masih hidup, aku tak akan membiarkan orang lain merasakan kehilangan yang sama.
Jika aku menang hari ini, mungkin aku akan mendapatkan kedamaian. Tapi jika aku tumbang… maka aku akan menyusul mereka—mereka yang kucintai. Yang sudah menungguku pulang, di surga sana.
Catatan Kecil:
Cerita ini terinspirasi dari keresahan soal isu Perang Dunia Ketiga yang nyaris terjadi. Aku membayangkan—bagaimana jika hidup kita yang tenang dan biasa saja, tiba-tiba hancur hanya karena satu rudal?
Baca juga: Meski Dunia Membenci Kami




Komentar
Posting Komentar