Meski Dunia Membenci Kami
Sebuah kisah tentang janji, pelindung terakhir, dan cinta yang bertahan di tengah perang.
Kami mencoba diam. Tanpa
suara. Tanpa gerakan. Sedikit pun.
Napas kami tertahan—berusaha.
Tapi dada seolah berkhianat, naik-turun karena takut. Tangan menutup mulut,
tapi desahan kecil tetap lolos dari celah bibir, tak mampu ditahan.
Aku melirik Mira di sampingku. Wajahnya pucat. Bahunya gemetar hebat. Keringat membasahi pelipis. Napasnya putus-putus, berusaha diredam, tapi tetap terdengar lirih—seperti bisikan angin.
Mataku menyapu sekitar. Rumah
ini sudah hancur, nyaris tak berbentuk. Dindingnya bolong, memperlihatkan
tulang-tulang besi yang dulu tersembunyi. Lantainya dipenuhi serpihan kaca dan
debu. Puing-puing berserakan di mana-mana. Jendela kaca retak, membentuk pola
seperti sarang laba-laba. Pintu kayu menggantung setengah, nyaris lepas dari engsel.
Cahaya menyelinap masuk
lewat atap yang berlubang—menusuk seperti jarum dari langit.
Ruangan ini terasa sempit
dan pengap. Udara mencekam, seolah ketakutan menekan dari segala arah. Langit
di luar kelabu, seakan matahari sudah lama tak menyapa bumi—hampir tiga tahun lamanya.
Sekarang, semuanya berbeda.
Kacau.
Di luar sana, hanya ada
kematian yang siap menjemput kapan saja. Peluru ditembakkan. Darah segar mengalir
setiap hari, membasahi tanah. Bau mesiu jadi oksigen baru yang kami hirup.
Tak ada lagi kebahagiaan.
Yang tersisa hanya ketakutan yang terus mengejar, tak pernah berhenti.
“Ki-kita… sudah aman belum,
Ezra?” bisik Mira, lirih. Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.
Aku menoleh ke arahnya. Matanya
berkaca-kaca, menatap lurus ke depan—kosong, nyaris kehilangan harapan. Tanganku
segera meraih bahunya, mengelus pelan dengan penuh kelembutan.
“Entahlah… Tapi aku janji, aku
akan melindungimu, apa pun yang terjadi,” ucapku pelan, berusaha menenangkannya,
meski jantungku sendiri berdegup tak karuan.
Perlahan, Mira menoleh
padaku. Mata kami bertemu, dan diam.
Ia tak mengucapkan sepatah
kata pun. Tapi aku tahu… ia sedang menyembunyikan ketakutan yang perlahan
menggerogoti jiwanya.
Derap langkah sepatu terdengar
di luar. Suaranya berat dan mencekam, menghantam tanah basah dengan irama
lambat.
Napas kami sontak tertahan. Aku
menelan ludah dengan kasar, suaranya menggulung di tenggorokan. Mira mencengkeram tanganku
semakin erat. Kepalanya tertunduk, bersembunyi di dadaku.
Langkah-langkah itu semakin
mendekat, menggema seperti bayangan kematian yang sedang memburu mangsanya.
Satu langkah. Dua langkah. Entahlah—mereka
terlalu banyak.
Tubuhku membeku di tempat. Jantungku
berguncang liar. Napasku tertahan—atau mungkin… aku sudah tak bernapas lagi.
Aku memejamkan mata. Mencoba
diam. Berharap para tentara itu segera menjauh… dan melewati kami.
Peperangan ini benar-benar membawa
kehancuran.
Bahaya tak pernah berhenti
menghantui. Setiap hari, nyawa berjatuhan. Tak bisa melawan. Bahkan sebelum sempat
bergerak, ketakutan sudah lebih dulu melumpuhkan langkah kami.
Kami mencoba maju, berharap bebas—tapi
justru kematian yang menyambut. Senapan selalu mengarah ke kami, seolah kami
ini hewan buruan yang harus terus berlari dan bersembunyi dari kejaran mereka.
Dan beginilah nasibku dan Mira.
Kedua orang tua kami tewas ketika
rudal pertama menjatuhi desa. Semua orang mati. Hanya kami berdua yang selamat.
Tapi… selamat bukan berarti bahagia. Justru lebih menyakitkan.
Kami tersisa untuk
menderita. Tak ada keluarga. Tak ada perlindungan. Hanya bisa saling menggantungkan
diri satu sama lain.
Makanan dan minuman semakin
sulit ditemukan. Tempat tinggal tak lagi pasti. Kami terus berpindah, berlari
menjauh dari maut.
Seperti sekarang. Kami hanya
bisa bersembunyi, berharap tak ditemukan oleh tentara-tentara yang ingin membunuh.
Dan jika pun mereka tak membunuh kami… mereka akan membiarkan kami hidup—untuk menjadi
pelayan mereka.
“Move! Move! Don’t let
them get away! Sweep the area!”
Suara komandan terdengar lantang
dari luar. Tajam. Tegas. Penuh tekanan menghantam keberanian. Para tentara menjawab
serempak, menuruti perintah tanpa ragu. Tangan-tangan mereka mencengkeram senapan
laras, gemericik logam merobek udara pekat.
Mereka kembali berlari. Segera
menyusuri area. Mencari kami.
Langkah-langkah sepatu bot perlahan
menjauh. Derap berat itu akhirnya lenyap, melewati rumah reyot tempat kami
bersembunyi.
“Apakah mereka sudah pergi?”
Mira mengangkat kepalanya perlahan. Sorot matanya penuh ketakutan dan kelelahan.
Aku memegang bahunya. Menatapnya
lembut. Helaan napas terdengar. Jantungku yang tadi berdegup liar mulai mereda.
Ketakutan yang tadi mencengkeram, perlahan luruh.
Senyum tipis mengembang di
bibirku.
“Iya,” ucapku sambil
mengangguk pelan. “Akhirnya… kita bisa lolos—”
“What the—?! They’re
here!”
Aku dan Mira refleks menoleh.
Mata kami membelalak. Napas tertahan. Tubuh kami membeku sesaat.
Di depan pintu, seorang
tentara berdiri.
Senapan serbu tergenggam
erat di tangannya. Wajahnya garang, penuh goresan dan bekas jahitan di sisi-sisinya.
Tubuhnya tinggi, tegap, otot-otot menjulur kaku di balik seragam kusamnya.
Matanya menatap lurus ke arah kami—dingin, kejam.
Ia sendirian. Tapi jelas,
dia ancaman besar.
Kami hanya remaja biasa.
Tanpa senjata. Tanpa pengalaman perang. Sementara dia… lebih dari cukup untuk
bisa menumbangkan kami dalam sekejap.
“Ezra…”
Mira semakin mendekat. Tangannya
gemetar. Wajahnya tegang. Alisnya berkerut dalam. Bibirnya tak sanggup berkata-kata.
Kami dalam bahaya. Di
ruangan sempit ini. terpojok.
Dan dari matanya—kami sudah bisa
melihat, kematian seperti apa yang akan menjemput kami.
“Shit—you’re dead!”
Tentara itu mengangkat
senapan. Mengarahkannya tepat ke arah kami. Tangannya cepat. Pengaman dilepas.
Jari telunjuknya bersiaga di pelatuk.
“Ezra…” Suara Mira melengking.
Gemetar. Tertahan oleh teror yang berdiri di depan kami.
Jantungku berdebar kencang—terdengar
sampai ke telinga. Dadaku sesak. Napas tertahan.
Aku tahu. Dalam hitungan
detik, peluru itu akan menghentikan segalanya. Tapi kami tak bisa berbuat
apa-apa. Kami sudah terpojok. Dan kematian, sedang membidik kami.
Tentara itu menyeringai. Seolah
senang bisa menembak hewan buruannya.
“Heh… I gotcha.”
Jari telunjuknya mulai
menekan pelatuk.
Perlahan.
Siap merenggut nyawa kami.
Tapi di detik-detik terakhir,
aku memutuskan mengambil langkah berani—langkah yang bahkan tak pernah kupikirkan
sebelumnya.
Dunia melambat.
Aku melesat ke arahnya. Tanpa
ragu. Tanpa pikir panjang.
Tanganku mendorong tubuhnya
sekuat tenaga. Ia kehilangan keseimbangan.
Dalam sekejap, kami jatuh menghantam
tanah. Debu mengepul di sekitar. Senapan terlepas—menghantam lantai dengan
bunyi logam yang nyaring.
Aku menindih tubuhnya. Tinju
demi tinju kulepaskan ke wajahnya. Membabi buta. Tanpa arah.
Entah apa yang kulakukan. Yang
kupikirkan hanya terus memukul. Menyerang. Membuatnya terjatuh.
Tapi, aku terlalu lemah. Pukulanku
nyaris tak berarti, seperti sentilan kecil di wajah kasarnya.
Tenagaku terkuras. Pukulanku
melambat. Lalu berhenti—menggantung di udara.
Aku terpaku. Wajahnya masih
utuh. Tak ada goresan. Tak ada lebam. Tak ada luka.
Ia menatapku lurus. Matanya dingin,
menusuk. Bibirnya menyeringai, seolah menertawakan betapa sia-sianya pukulanku.
Tiba-tiba, keadaan berbalik.
Begitu cepat. Terlalu cepat.
Tentara itu menekuk
lututnya, lalu mendorong pinggulnya ke atas.
Aku terkejut, tubuhku terangkat.
Kedua tangannya mencengkeram bahuku kuat-kuat, lalu menarikku—membantingku ke udara.
Semuanya terjadi dalam
sekejap.
Aku kehilangan kendali. Tubuhku
terjungkir. Terangkat tinggi, lalu dilempar ke belakang.
Dunia berputar. Terbalik.
Brak!
Punggungku menghantam tanah
dengan keras.
Aku mengerang. Suara debuman
menggema di seluruh ruangan. Debu beterbangan, menusuk tajam ke lubang hidung.
Dunia di sekitarku mulai
meredup. Suara-suara memudar, tenggelam dalam kesunyian yang mengerikan. Pandanganku
kabur. Titik-titik kecil memenuhi mataku.
Aku menoleh pelan, melirik
sekitar dengan sisa tenaga. Kepalaku terasa berat, seolah ada batu besar menimpanya.
Samar-samar, kulihat tentara
itu sudah bangkit. Ia mengambil senjatanya dari lantai, lalu melangkah ke
arahku, dan duduk di atas perutku.
Aku mengerang lirih. Dadaku
sesak. Tubuhnya besar dan berat, menindih tanpa ampun.
Tangan kasarnya menyentuh
pipiku. Menepuknya pelan, seperti mencemooh.
“Game’s up, kid.”
Ia tertawa keras—suara beratnya
menggema, merobek kesenyapan yang menggantung di udara.
Tawanya berhenti. Sorot
matanya berubah. Tajam. Dingin.
Ia menatapku lurus, matanya
menusuk, menghukum. Tangannya kanannya terangkat pelan. Mengepal. Lalu…
Pukulan mendarat di wajahku.
Brak!
Sekali.
Dua kali.
Ketiga kali.
Ia berhenti. Matanya
membara. Napasnya terengah. Dahi mengerut tajam.
Hanya tiga pukulan—tapi cukup
untuk menumbangkanku.
Darah segar langsung
mengalir dari hidungku. Pelipis robek, memanjang ke samping. Satu mataku tertutup
lebam besar.
Aku terkulai lemas. Napasku tersengal.
Bibirku bergetar. Tak ada sepatah kata pun. Kesadaranku menggantung di batas. Tipis.
Tapi mataku… aku masih
mencoba melihat dunia. Meski kabur. Meski sakit. Tapi aku harus tetap sadar.
Tentara itu mengarahkan
senapannya tepat ke wajahku. Moncongnya dingin. Maut hanya berjarak beberapa
senti di depan mataku.
Jari telunjuknya bersiaga di
pelatuk.
“Why? Why do you keep
fighting so hard?” katanya berat.
Bukan pertanyaan. Itu
kalimat perpisahan.
“Kamu sudah kalah sejak
awal. Tak ada kemenangan untukmu. Just accept your death.”
Aku diam. Tak langsung
menjawab. Mataku menatap matanya. Lama. Bukan untuk melawan, hanya mencoba bertahan.
Jantungku berdebar keras,
tapi tubuhku tetap diam. Tak boleh goyah. Tak boleh panik. Meski maut hanya tinggal
satu tarikan pelatuk, aku masih harus percaya. Untuk hidup, meski itu sangat
kecil.
“Kenapa aku terus berjuang?”
ulangku pelan.
“Aku tahu. Aku tak akan menang.
Dunia ini memang kejam. Yang kuatlah yang akan berkuasa.”
Aku berhenti sejenak,
membiarkan keheningan menggantung.
“Tapi, bahkan dalam dunia yang
kejam… aku masih bisa mencintai. Dan dia…”
Aku melirik ke sudut ruangan—Mira.
Gadis berambut pendek sebahu
itu masih duduk di sana. Tubuhnya menempel pada dinding, gemetar. Matanya
berkaca-kaca. Mulutnya sedikit terbuka. Tak ada kata yang bisa keluar.
Aku tahu maksudnya. Ia
peduli. Cemas. Ingin menolong. Tapi ia tak sanggup. Ia terlalu takut untuk
melakukannya.
Meski begitu, aku tak menyalahkannya.
Tak pernah. Karena—tatapan itu, kecemasan itu… sudah lebih dari cukup.
Aku sudah berjanji padanya.
“Mira… adalah alasanku
bertahan. Aku ingin melindunginya.”
Aku tak boleh mati sekarang.
Belum. Mira melihatku. Ia berharap padaku—karena hanya aku satu-satunya yang dia
miliki. Dan aku pun begitu.
Aku tak boleh menyerah. Aku
tak akan biarkan dia hidup sendirian di dunia sekejam ini.
Aku tak bisa.
“Go to hell!!”
Teriakku kencang, menggertakkan
gigi. Mataku menyala, penuh balas dendam.
Tangan kananku meraih batu di
samping. Dalam satu gerakan cepat, aku menepis senapan dari wajahku—lalu
menghantamkan batu itu sekuat tenaga.
Brak!
Suara hantaman membelah
udara.
Tentara itu terhuyung, lalu
roboh ke tanah. Darah mengucur dari pelipisnya, membentuk garis merah di
kulitnya yang kasar.
Aku langsung bangkit. Tanganku
cepat-cepat merebut senapan yang terjatuh. Larasnya langsung kuarahkan ke
wajahnya. Jari telunjukku bersiap di pelatuk. Napasku tertahan.
Tentara itu membelalak. Tak
percaya. Wajahnya tegang. Takut. Tangannya terangkat—gemetaran—memberi isyarat
menyerah.
“What… are you doing?”
suaranya patah, bergetar.
Tapi aku tak peduli. Sama
sekali.
Dor!
Peluru melesat cepat.
Suaranya memecah keheningan di seluruh ruangan.
Tentara itu tewas. Kepalanya
terdongak. Tubuhnya terhempas ke tanah. Berat.
Darah mengalir deras, membasahi
tanah dengan cepat. Matanya terbuka. Kosong. Mulutnya sedikit terbuka. Tak ada
suara. Hanya hening. Hampa.
Aku masih terdiam. Termenung.
Tentara itu mati, oleh tanganku. Aku tak percaya aku berhasil melawannya. Ancaman
itu… kini hilang.
Tapi entah kenapa, dunia tak
jadi lebih tenang.
Aku membalikkan badan,
melangkah menghampiri Mira. Ia terdiam, membeku. Sorot matanya tak lepas dari tubuh
yang tergeletak di tanah—mayat yang baru saja kulumpuhkan.
Tanpa berkata apa-apa, aku
segera meraih tangannya.
“Kita harus pergi sekarang,”
ucapku lirih. “Tembakan tadi pasti terdengar. Mereka pasti akan kembali ke
sini.”
Mira mengangguk pelan.
Matanya kembali padaku. Fokus. Ia mengabaikan semuanya—darah, mayat, luka. Yang
terpenting, kami masih hidup. Dan itu cukup.
Kami segera berlari. Meninggalkan
tempat itu. Menjauh dari kematian yang terus memburu di belakang kami.
Aku tahu, perang ini belum akan berakhir. Dunia ini belum akan berubah. Tapi satu hal yang pasti, aku harus bertahan hidup. Aku masih ingin hidup, meski di dunia yang kejam dan tak pernah memihak siapa pun.
Mungkin aku akan mati esok,
atau lusa. Tapi hari ini… aku masih hidup.
Mira masih di sini, bersamaku.
Dan aku masih mencintainya.
Selama dia ada di sisiku, aku akan terus bertahan. Karena aku pernah berjanji—akan selalu menjaganya, apa pun yang terjadi.
Catatan Kecil:
Cerpen ini terinspirasi dari lagu “Akuma no Ko”. Sebuah lagu tentang bertahan, mencinta, dan tetap hidup… bahkan saat dunia membenci.
Baca juga: Langit Tak Lagi Biru



Komentar
Posting Komentar