Rumah Makan Terakhir: Duel Terakhir
Malam itu, dua orang saling berhadapan. Tanpa kata. Hanya tatapan yang saling ingin membunuh.
Baca dulu pertarungan pertama.
“Sekarang
giliranmu.” Suara Nara pecah di udara, serak, tapi tajam. Matanya menatap lurus
ke laki-laki di depannya—tatapan yang tak lagi menyimpan ampun.
Ketua masih
duduk di kursinya, kaki disilangkan santai. Senyum tipisnya masih di sana,
menjijikkan.
Tiga tubuh
terkapar di lantai—tergeletak di antara minyak, kuah gulai, dan pecahan kaca.
Udara ruangan bau besi dan bumbu gosong. Dua pegawai perempuan di sudut ruangan
hanya bisa menatap ngeri, menutup mulut, takut suara mereka bisa memancing
amarah lain.
Keheningan
turun menekan. Hanya suara napas berat yang terdengar.
Nara berdiri
tegak. Dadanya naik turun. Wajahnya penuh keringat dan darah kering, tapi
matanya masih menyala. Ia masih bisa bertarung. Untuk menghabisi bajingan di
depannya, ia bisa melakukannya semalaman.
Ketua
bertepuk tangan. Suaranya menggema, menampar telinga seperti hinaan yang
merendahkan.
Nara
mengernyit. Ia tahu, itu penghinaan.
“Aku seperti
tak asing melihat wajahmu,” ucap Ketua, suaranya tenang.
“Bajingan.
Apa maksudmu?”
“Ah… aku
ingat sekarang.” Ketua tersenyum, mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Adikmu.
Malam itu… aku masih mengingatnya jelas.”
“DIAM
BRENGSEK!!” Teriakan Nara pecah, mengguncang ruangan.
Ketua
tertawa pelan, menyayat. Ia memandangi Nara seperti hiburan murah, terlihat
seperti kucing kecil yang berusaha mengaum layaknya singa.
Nara
menghembus napas kasar. Tangannya mengepal, urat di lengannya menonjol.
Rahangnya mengatup rapat. Kesabarannya sudah di luar kendalinya—
Ia berjalan
kasar ke depan. Setengah tubuhnya naik ke atas meja, tangan kirinya mencengkeram
kerah Ketua dan menariknya brutal.
Wajah mereka
nyaris bertemu. Napas Nara membakar udara di antara mereka, panas, penuh
kebencian. Matanya seperti beruang yang siap mencabik apa pun di depannya.
“Kau… apa
yang kau lakukan pada adikku, hah?! Kenapa kau memperkosanya?!!” Suaranya
parau, nyaris gemetar oleh kemarahan.
“Kenapa?” Ketua
tertawa pelan sesaat. “Karena dia begitu cantik… dan menggoda.”
Cengkeraman
Nara mengeras. Napasnya terpotong-potong.
“Aku sangat
puas bermain dengannya malam itu. Walaupun dia cukup kesulitan untuk diatur,
tapi setidaknya—”
“BAJINGAN
MESUM!!!”
Tinju Nara
meluncur deras.
DUG!
Wajah Ketua
terhuyung ke belakang. Darah langsung memancar dari hidung.
Ia goyah
sesaat, tapi Nara belum selesai. Tangannya menarik kembali, mendekatkan
wajahnya lagi.
Ketua
mendesis, menyeka darah di bawah hidungnya. “Pukulanmu kuat juga. Aku jadi
penasaran bagaimana rasanya mencicipimu.”
“BAJINGAN GILA!”
Tinju kedua melayang,
lebih cepat—
Namun kali
ini berhenti di udara.
Ketua
menangkapnya dengan mudah. Gerakannya tak bisa lepas. Napas Nara tercekat.
Matanya membelalak. Tenaga lawan terasa… jauh di atasnya.
Sebelum ia sempat
menarik tangan, Ketua sudah bergerak.
Tangan
satunya menyambar gelas di meja—
PRANG!!
Gelas itu
pecah menghantam pelipis Nara. Kilatan putih menyambar pandangan Nara. Suara di
telinganya mendadak senyap.
Tubuhnya
terhuyung ke samping, jatuh menghantam lantai. Pandangan kabur, dunia berputar.
Darah hangat menetes di pelipis, turun ke rahang, ke leher, menodai kerah
bajunya.
Ketua
berdiri, melangkah mendekat. Bibirnya tersenyum miring—senyum yang mengatakan
ia memegang kendali penuh.
Nara
mengerjap, napasnya tersengal. Ia mendongak, pandangannya kabur, titik-titik
putih menari di pelupuknya. Kepalanya terasa berat, dunia seperti berguncang.
Lalu, Ketua menendang
perut Nara tanpa ragu.
“Arghh!”
Nara menggerung. Tubuhnya melipat seketika. Kedua tangannya refleks mencengkeram
perut, seolah ada batu besar yang baru saja dijatuhkan tepat di sana.
Tubuhnya langsung
terkulai di lantai, terbaring lemah. Kesadarannya berdenyut pelan, setengah
padam-setengah menyala. Matanya berat. Pandangannya berbayang.
Tak boleh menyerah.
Tak boleh kalah sekarang. Balas dendamnya belum selesai.
Ketua
menyeringai puas. Perlahan, ia duduk di atas perut Nara, menindihnya,
mengurungnya. Tangannya menekan bahu Nara, sementara jemarinya yang lain
menyusuri sisi rahang hingga ke dagu, lembut tapi membuat bulu kuduk berdiri. Wajahnya
merunduk perlahan, sangat dekat—cukup dekat hingga napas mereka bersinggungan.
“Seperti
inilah posisiku dengan adikmu malam itu,” ujarnya lirih, basah oleh kebanggaan
yang menjijikkan.
Ibu jarinya
menyentuh bibir Nara yang pecah berdarah, mengusapnya pelan. “Bibir kalian…
mirip sekali.”
Tawa
kecilnya meledak pelan, menghunus langsung ke dada Nara.
Untuk
sesaat, dunia berhenti. Hening yang panjang. Menikam. Mengiris. Dan detik itu—
Mata Nara
terbuka penuh. Tatapan yang redup kini menyala lagi—tajam, jauh lebih mengerikan.
“Sudah
kubilang, kau akan mati di tanganku, bajingan gila,” desisnya pelan.
Ketua
tertegun. “Maksudmu—”
Terlambat.
Dua jari
Nara melesat cepat ke depan, menusuk tepat ke arah mata lelaki itu.
“ARGHH!”
Belum sempat
berteriak penuh, Nara gegas mendorong tubuhnya ke belakang, melilitkan kaki ke
kepala lelaki itu, menekannya kuat. Dengan satu hentakan kuat, ia menjatuhkan
tubuh itu ke lantai.
BUK!!
Kepala Ketua
menghantam ubin dengan keras. Bunyinya menggelegar. Tubuhnya mengempis tak
berdaya.
Nara
melepaskan cengkeramannya. Ia mencoba bangkit, meski lututnya gemetar. Napasnya
memburu kasar. Wajahnya berlumur darah dan keringat, tapi matanya—matanya kembali
menyala dengan amarah yang tak bisa dibendung.
“Jalang gila,”
desis Ketua.
Ia berusaha duduk.
Gerakannya lambat, gemetar. Matanya merah, berair. Darah menetes dari
pelipisnya ke rahang. Ia mengerang pelan, kepalanya terus berdengung, dunia
berputar di sekelilingnya.
“Kenapa kau
segila ini, hah?!! Kami hanya memperkosa adikmu, nggak sampai membunuhnya!”
serunya terengah.
Nara mendesis
marah. “Bajingan ini masih belum sadar juga.”
Nara melangkah
mendekat, tanpa ragu—
BUK!
Tendangan
keras menghantam sisi kepala Ketua.
Kepala itu terpelanting
ke samping, dentumannya menggema. Tubuhnya kembali terhempas ke lantai.
Napasnya terputus di dada, matanya kosong sesaat, hanya tersisa desahan pendek yang
serak dan parau.
Nara
menatapnya dari atas. “Kalian memperkosanya. Kalian membuatnya gila dan putus
asa.”
Nara berjalan
menuju meja kasir, mengambil beberapa piring yang masih utuh. Dua perempuan di
sudut ruangan tak bergerak sama sekali, seperti patung yang membeku di tengah
mimpi buruk.
“Adikku kehilangan
hidupnya karena kalian. Dia malu. Dia tak bisa tidur tanpa menangis. Dan
akhirnya… dia memilih mati daripada terus hidup dengan kenangan menjijikkan
tentang kalian.”
Ia melangkah
kembali. Menaruh piring-piring itu di lantai. Ia duduk di atas tubuh lelaki itu.
Menatap wajah yang nyaris tak sadar dengan sorot mata dingin, tak berperasaan.
Ia meraih piring
besar—kokoh dan kuat—dan tanpa ragu menghantamkannya ke muka Ketua.
PYARR!!
Piring pecah.
Berhamburan di ubin.
“Itu untuk
desahan yang kau dengar dari adikku,” ucap Nara, suaranya pecah dan parau.
Ia mengangkat
piring kedua, menghujamnya lagi—
PYARR!!
Pecahan
kedua berjatuhan.
“Itu untuk setiap
cairan menjijikkan yang kalian keluarkan!”
Tangannya
gemetar. Matanya mulai basah. Kenangan lama menekan dadanya—seutas tali di
langit-langit kamar, tubuh yang menggantung, adiknya yang tak lagi bernapas.
Napas Ketua
tersendat. Bibirnya bergetar, berusaha berbicara, tapi suaranya tercekat. Darah
menodai wajahnya. Matanya meredup, kesadarannya tinggal segaris tipis.
Nara
mengangkat piring ketiga. Tangan mencengkeram kuat, napas terkunci, tapi…
“Si anjing. Sudah
mau pingsan saja, hah?! Aku masih mau menghajarmu sampai mampus.”
Nara
menghentikan gerakannya.
“Tch!”
Ia mendesis
marah. Meletakkan piring itu ke lantai, lalu bangkit. Melangkah menuju meja
kasir. Tangannya meraih gelas kosong, mengambil termos di sampingnya. Tutup
termos dibuka perlahan.
“Ini air
panas, kan?” tanyanya lembut, bahkan terdengar sopan.
Dua perempuan
yang berdiri di sudut ruangan langsung mengangguk cepat, tanpa suara. Bahu
keduanya gemetar.
Nara kembali
berjalan ke arah Ketua. Lelaki itu masih terbaring, setengah sadar. Wajahnya
penuh pecahan piring dan darah yang mulai mengering.
Nara berdiri
persis di atas kepalanya. Gelas itu diangkat tinggi. Perlahan, ia menuangkannya.
Air panas mengalir tepat ke wajah Ketua.
“ARRGHHH!!!”
Jeritannya
melengking, pecah, brutal. Tubuhnya tiba-tiba menegang dan menggeliat.
Tangannya mencoba menepis rasa perih yang membakar kulitnya.
Matanya terbuka
lebar—benar-benar terbuka.
Nara hanya
menatap. Tak berkedip.
“Panas…
panas! H-Hentikan! Hentikan!!”
Nara
berhenti sejenak. “Baiklah.”
Gelas itu
dilepas dari genggamannya. Meluncur cepat ke bawah.
PYARR!!
“BANGSAT!!!”
Ketua menjerit lagi.
Pecahan
gelas menghantam, air panas membasahi wajahnya semakin banyak. Uap tipis mengepul
di udara.
Nara
tersenyum tipis, tidak kejam—seolah… sedang menikmati permainan.
“Bagus,”
katanya pelan. “Aku benci sesuatu yang berakhir cepat. Kau harus tetap sadar
untuk merasakan semua sakit yang kuberikan.”
“Jalang
gila!” Ketua mendesis, suaranya melemah. Tangannya gemetar. Uap kecil naik dari
kulitnya.
Nara belum
selesai. Ia meraih kedua kaki lelaki itu, merenggangkannya sampai terbuka. Wajahnya
kaku, napasnya berat, matanya menyala seperti bara yang tak pernah padam.
Ketua
berusaha mendongak, menatap dari sela mata yang setengah terbuka. “A-apa… apa
yang mau kau lakukan?”
Nara tak
menjawab. Ia menarik napas pendek, mengumpulkan semua kemarahan yang mengeras
di dadanya.
Lalu—satu
tendangan, tepat dan kuat, mendarat di selangkangan.
“ARGHH!!!”
Jeritannya
meledak, pecah, tersangkut di tenggorokan. Tubuh Ketua langsung melipat, lututnya
lemas, wajahnya memucat. Tangannya mencengkeram bagian bawah, menahan sakit
yang seolah memakan seluruh rongga tubuhnya. Napasnya tercekat, suaranya berubah
jadi deru kasar.
“ANJING!
JALANG BABI!!” Ketua berteriak, penuh kebencian tapi juga kepedihan.
Nara hanya
menatapnya tenang, menyaksikan seolah itu bukan apa-apa.
“Burung
kecilmu itu perlu aku hancurkan. Laki-laki tolol seperti kamu harus dikasih pelajaran.”
Suaranya rendah, penuh penghinaan yang membuat kulit merinding.
“Tapi aku
masih harus memberimu satu hadiah lagi,” ucap Nara dingin.
Mata Ketua
seketika membelalak, panik menempel jelas di dahinya. Alisnya menukik tajam,
wajahnya memucat.
Nara tak
memberi waktu. Tangannya meraih kaki kiri lelaki itu dengan cepat, kuat, tanpa
ampun. Ia mengangkatnya tinggi, lalu menendang lututnya dengan keras—tepat di
sendi.
KRAK!!
Suara tulang
patah menggema tajam, memecah udara.
“AAARRGHHHH!!!”
Jeritannya memecah
ruangan. Tubuhnya melengkung, menggeliat, lalu terkulai. Kaki kirinya kini tak
lagi bisa digerakkan—patah, menggantung aneh. Tangannya mencengkeram kaki itu, tapi
sia-sia. Matanya berair. Napasnya memburu.
Nara tidak
berhenti. Matanya tetap dingin, tajam. Giliran tangan kanannya.
Ia berjongkok,
meraih tangan kanan lelaki itu. Pergelangan tangannya ditarik ke bawah,
menyentuh lantai. Kaki Nara berdiri di atas siku, menekan perlahan.
Ketua
menatapnya dengan wajah pucat, merasakan sakit dan panik sekaligus. “Ja-jangan…
jangan tanganku—”
Nara menatapnya
tanpa emosi. Lalu menekan siku itu sedikit lebih kuat… menarik pergelangan
tangan ke arah berlawanan.
Sendi itu
menegang. Ketua berteriak, matanya melotot ketakutan. Suara otot dan tulang
menggertak keras. Lalu, dalam sekali hentakan—
KRAK!!!
“AAAAAARRRGGHHHH!!!”
Jeritannya
memantul dinding. Suaranya tak lagi terdengar seperti manusia. “BAJINGAN!
JALANG SIALAN! ANJING KAU!!”
Tangan itu
kini terkulai, miring, patah di sendi. Jari-jarinya kejang, tak lagi bisa
digerakkan.
Nara melepaskannya
begitu saja. Lengan itu jatuh ke lantai dengan bunyi lembut.
Ketua
gemetar. Air mata bercampur darah mengalir di pipinya. Bibirnya tergigit hingga
berdarah, berusaha menahan sakit yang melumpuhkan tubuh dan jiwanya sekaligus.
Napasnya tersengal
berat, patah-patah. Wajahnya memerah karena perih… dan ketakutan.
Nara berdiri
tenang. Menatap lurus ke Ketua—tubuh lelaki itu kini lemah, kaki kirinya bergeser
miring, tangan kanannya terkulai tanpa daya. Ia bahkan tak sanggup lagi
menegakkan punggung.
“Aku hanya
memastikan tidak ada lagi korban pemerkosaan karena ulahmu,” desis Nara, pelan.
Suaranya rendah, tapi mengandung bara yang belum padam sepenuhnya.
“Aku… aku
minta maaf.” Ketua meringis, suaranya pecah di antara isakan.
Nara
mendekat satu langkah. “Kalau benar-benar menyesal, serahkan dirimu ke polisi. Akui
semuanya. Akui bahwa kamu sudah membunuh masa depan orang lain.”
Setiap
katanya berat, menekan, menghantam harga diri lelaki itu lebih keras dari mana
pun.
“Dan satu
hal lagi,” lanjutnya, dengan nada lebih tajam. “Jangan pernah sekali-kali berbuat
curang. Aku tahu orang tuamu adalah orang berpengaruh. Sekali saja kamu
mempermainkan hukum, aku akan datang lagi, akan kupastikan tangan dan kakimu
benar-benar habis. Ingat itu!”
Keheningan menelan ruangan.
Nara
melangkah menuju meja kasir. Napasnya masih berat. Tangannya gemetar halus saat
mengambil selembar tisu, menghapus darah yang menempel di wajah dan lengan.
Dua pegawai perempuan
berdiri kaku di sudut ruangan. Mereka menatapnya tanpa berani bersuara, hanya
menahan napas di antara sisa ketegangan yang belum hilang.
Nara menatap
mereka sekilas, lalu tersenyum tipis. “Maaf kalau malam ini kalian harus beresin
semuanya. Tapi tenang aja, laki-laki itu yang akan tanggung jawab. Kalau dia
nggak mau, kabari aku. Aku yang akan memaksanya melakukannya.”
Dua
perempuan itu saling pandang, lalu mengangguk pelan.
“Terima
kasih, ya,” ucap Nara lembut.
Ia melangkah
keluar, menarik pintu besi gulung ke atas, lalu berjalan santai ke jalanan
malam.
Udara dingin
menyambutnya.
Di balik
itu, rumah makan Padang kembali sunyi—menyisakan denting piring, derit meja,
dan napas lega yang akhirnya bisa keluar.



Komentar
Posting Komentar